Modest Style

Khitan Perempuan di Indonesia: Mutilasi atau Tradisi?

,

Gambar yang diambil pada 10 Februari 2013 ini menunjukkan seorang ibu Indonesia, Desi (atas), berusaha menenangkan putrinya, Kania, saat dokter mengkhitan gadis berusia 4,5 tahun itu di Bandung. Indonesia, menyatakan bahwa khitan semacam ini umumnya hanya bersifat simbolis yang tidak berbahaya dan tidak perlu dilihat sebagai mutilasi (perusakan organ tubuh). PBB menganggap sebaliknya. Pada bulan Desember, PBB mengeluarkan resolusi yang melarang mutilasi genitalia perempuan (FGM), termasuk khitan yang dipraktikkan di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. AFP PHOTO/ADEK BERRY
Gambar yang diambil pada 10 Februari 2013 ini menunjukkan seorang ibu Indonesia, Desi (atas), berusaha menenangkan putrinya, Kania, saat dokter mengkhitan gadis berusia 4,5 tahun itu di Bandung. Indonesia, menyatakan bahwa khitan semacam ini umumnya hanya bersifat simbolis yang tidak berbahaya dan tidak perlu dilihat sebagai mutilasi (perusakan organ tubuh). PBB menganggap sebaliknya. Pada bulan Desember, PBB mengeluarkan resolusi yang melarang mutilasi genitalia perempuan (FGM), termasuk khitan yang dipraktikkan di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. AFP PHOTO/ADEK BERRY

BANDUNG, Indonesia, 24 Maret 2013. Oleh Arlina Arshad (ANTARA News) – Sambil meronta-ronta tak terkendali, Reta yang berusia lima tahun meraung selagi ia dibopong ke tempat tidur dalam acara khitanan massal di aula sekolah yang diubah menjadi klinik di Bandung.

‘Tidak, tidak, tidak,’ dia menangis, memukul, dan menendang sementara sang ibu mendekap wajahnya yang kuyup dengan air mata untuk menenangkannya.

Para dokter bertepuk tangan dan bersorak menyemangati. Salah satu dokter dengan lembut mengusap area genital Reta dengan antiseptik dan kemudian dengan cepat menusuk kulup klitorisnya dengan jarum jahit yang baru, tanpa mengeluarkan darah.

Siksaan ini selesai dalam hitungan detik sementara anak-anak perempuan serta bayi-bayi lain menunggu giliran mereka sambil menjerit-jerit ketakutan.

Dokter mengatakan prosedur ini tidak akan tidak berpengaruh pada gadis itu, baik pada kenikmatan seksualnya di kemudian hari atau kemampuannya untuk memiliki anak.

‘Saya senang. Putri saya sekarang bersih,’ kata Yuli, penjahit berusia 27 tahun, kepada AFP pada acara khitanan massal 120 anak perempuan dan bayi di sekolah Islam Yayasan Assalaam di Bandung, Jawa Barat.

Dia meyakini ritual tersebut tetap memiliki manfaat.

‘Banyak perempuan hamil di luar nikah dewasa ini. Semoga khitan mencegah putri saya dari libido seks yang berlebihan, dan membuat dia tidak terlalu bernafsu saat besar nanti.’

Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, menyatakan bahwa khitan semacam ini umumnya hanya bersifat simbolis, tidak berbahaya dan tidak perlu dilihat sebagai mutilasi.

PBB menganggap sebaliknya. Pada bulan Desember, PBB mengeluarkan resolusi yang melarang mutilasi genitalia perempuan (FGM), termasuk khitan yang dipraktikkan di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Prosedur seperti menusuk, menindik, mengiris, menoreh, kauterisasi, atau membakar yang dilakukan atas alasan nonmedis digolongkan oleh PBB sebagai mutilasi, begitu pula praktik-praktik yang mengganti atau menghilangkan bagian genitalia mana pun.

Praktik-praktik yang lebih ekstrem dapat menyebabkan pendarahan parah, masalah berkemih, dan komplikasi dalam persalinan, demikian menurut WHO.

Khitan adalah ritual yang berasal dari ribuan tahun lalu dan banyak dilakukan di berbagai tempat di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Jenis khitan paling brutal mewajibkan untuk menjahit bagian luar dan dalam bibir vagina, atau mengiris semua atau sebagian klitoris.

Indonesia mengatakan pemotongan alat kelamin tidak lagi dilaksanakan dan negara ini telah berupaya menghilangkan praktik khitan yang lebih berbahaya demi mencari titik tengah antara standar internasional dan tradisi agama.

Indonesia melarang khitan perempuan pada tahun 2006 namun mengundurkannya sampai tahun 2010, dengan alasan banyak orangtua masih mengkhitankan anaknya kepada tukang sunat tradisional tak terlatih yang seringkali melakukannya dengan prosedur berbahaya.

‘Mustahil melarang tradisi yang sudah berlangsung lama,’ kata pejabat Kementerian Kesehatan Budi Sampurno.

‘Ketika kami melarangnya di tahun 2006, orangtua berpaling kepada dukun yang tak terlatih. Kami harus mengaturnya untuk memastikan keamanan para wanita dan anak-anak.’

Sebagai respons atas larangan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai badan ulama Islam terkemuka di negara ini mengeluarkan fatwa di tahun 2008 yang mengizinkan praktik khitan tapi tidak mewajibkannya.

‘Mustahil’ untuk melarang tradisi lama

Para pemuka agama dan penganutnya mengatakan mereka mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

Namun, ‘Islam tidak memaksa gadis untuk dikhitan,’ kata ketua MUI Amidhan.

Meski tak ada data resmi untuk mengukur penerapan praktik ini di Indonesia, khitan umum dilakukan di negara berpenduduk 240 juta ini, demikian menurut lembaga-lembaga bantuan.

Penelitian tahun 2003 oleh Population Council menemukan 22 persen dari 1.307 khitan perempuan berupa eksisi (pemotongan), yang berarti sebagian klitoris atau bibir vagina dihilangkan. Sisanya, 49 persen mencakup insisi (penorehan), sementara hanya 38 persen yang ‘simbolis’.

Para peneliti mengatakan keadaannya sudah membaik dalam sepuluh tahun belakangan.

Penelitian tahun 2009 oleh Jurnalis Uddin, dokter dan dosen dari Universitas Yarsi, Jakarta, menunjukkan 18 persen institusi kesehatan masih melakukan khitan perempuan tapi tidak sampai memotong area genital.

‘Situasi saat ini di tahun 2013 tentu berbeda dari tahun 2003. Orang kini lebih terdidik tentang prosedur khitan yang aman dan mereka juga tahu mereka dapat melaporkan metode yang berbahaya kepada pihak yang berwenang,’ kata Artha Budi Susila Duarsa, juga dosen di Yarsi yang membantu menyusun penelitian tahun 2009 itu.

‘Kalaupun ada pemotongan, angkanya pasti lebih rendah secara signifikan (dibanding tahun 2003),’ tambahnya.

Indonesia mengeluarkan peraturan tahun 2010 yang mengizinkan ‘menggores penutup klitoris, tanpa melukai klitoris,’ dan menggolongkan prosedur yang lebih parah sebagai tindak kriminal — peraturan yang tetap digolongkan PBB sebagai mutilasi.

Yayasan-yayasan Islam seperti Yayasan Assalam di Bandung mengatakan mereka telah menganti cara menggunting dengan tusukan jarum.

‘Dulu, kami mengundang satu-dua dokter dan lebih banyak dukun dan mereka memakai gunting untuk menggunting sedikit penutup klitoris. Kami telah meninggalkan cara itu bertahun-tahun lalu,’ kata koordinator Assalam, lalu menambahkan bahwa hanya dokter berizin yang melaksanakan prosedur ini di sekolah.

Sampurno mengatakan Indonesia ingin menggantikan prosedur menggores dengan mengusap menggunakan cotton bud, dengan harapan PBB tidak memandangnya sebagai mutilasi. Indonesia belum menyatakan bagaimana cara menerapkan peraturan ini di negara yang penduduknya begitu banyak ini.

Perbedaan pendapat

Beberapa laporan menyinggung jenis khitan yang lebih parah masih dilaksanakan di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil di mana ada kepercayaan praktik ini akan menyucikan para gadis.

‘Efektivitas peraturan pemerintah diragukan,’ kata Martha Santoso Ismail, yang mengawasi praktik-praktik tradisional yang berbahaya di Dana Populasi PBB (UNFPA) kepada AFP.

‘Khitan masih dilakukan, tak terkecuali praktik-praktik khitan yang lebih berbahaya daripada penusukan dengan jarum masih dilakukan oleh pihak-pihak non-medis yang tak terlatih,’ tambahnya.

Di provinsi Aceh, wilayah penganut Islam terkuat di mana sebagian hukum syariah masih dijalankan, orang sangat terindoktrinasi dengan praktik ini sehingga jika memilih tidak melakukannya akan dianggap tidak bermoral, kata aktivis hak asasi.

‘Hampir setiap gadis di Aceh dikhitan. Orangtua melihatnya sebagai kewajiban agama dan menutup telinga terhadap semua pendapat yang menentang dan memandang rendah orangtua yang tidak mengkhitan anaknya,’ kata Azriana, pejabat tingkat provinsi Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Meski ada resolusi PBB, kebiasaan ini masih memiliki makna yang mendalam bagi kaum muslim Indonesia dan kemungkinan besar akan bertahan, kata pihak berwenang.

Tita Lishaini Jamilah, ibu rumah tangga berusia 28 tahun, yang juga membawa bayinya ke klinik untuk acara khitanan, mengatakan Indonesia seharusnya tidak perlu menuruti larangan PBB atas praktik ini. Ia berkeras ritual ini aman.

‘Untuk apa orangtua menyakiti anaknya? Jika ada dokter yang akan memutilasi anak saya, saya akan jadi orang pertama yang protes,’ katanya.

Leave a Reply
<Modest Style