Modest Style

Ketika status halal cokelat mendapat ujian

,

Masalah kehalalan Cadbury menimbulkan pertanyaan atas sertifikasi halal dan hak prerogatif perusahaan-perusahaan multinasional. Oleh Mariam Mokhtar.

Industri permen merupakan bisnis besar. Penemuan cokelat “halal” yang mengandung DNA babi telah menimbulkan ketakutan bukan hanya dalam hati warga Malaysia penyuka penganan manis, namun juga produsen Cadbury.

Industri makanan halal memiliki pasar global yang siap menyambut kedatangannya. Karenanya, jelas setiap produsen makanan, eksportir, dan importir ingin menjadi bagian dari perdagangan makanan yang diperkiraan bernilai triliunan dollar ini.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Malaysia merupakan eksportir sekaligus salah satu konsumen terbesar produk dan makanan bersertifikasi halal. Oleh karenanya, produsen makanan manapun akan merasa gelisah jika sertifikasi halal mereka dipertanyakan.

Pekan lalu, setelah sampel produk Cadbury Dairy Milk hazelnut dan Cadbury Dairy Milk roast almond dikirimkan ke Kementerian Kesehatan untuk dianalisis, hasilnya menunjukkan bahwa “kedua produk tersebut positif mengandung DNA babi”.

Merasa terkejut dengan penemuan ini, berbagai kalangan masyarakat Muslim bereaksi dengan kemarahan. Beberapa organisasi Muslim Melayu menyerukan jihad melawan Cadbury, sementara lainnya mendorong pembakaran pabrik cokelat tersebut, untuk mengusir perusahaannya dari Malaysia.

Umat Muslim juga telah mengunggah video memohon para pejabat berwenang menyelesaikan masalah mereka. Seorang perwakilan dari Komite Koordinasi Gabungan LSM Islam meminta Cadbury mengganti rugi rasa bersalah yang dirasakan umat Muslim yang telah memberikan anak mereka cokelat yang terkontaminasi,[i] sementara lainnya menyerukan bagaimana mereka dapat menghadapi Allah di alam baka, dengan darah yang ternoda dan tubuh seperti babi. Anggota masyarakat meyakini bahwa tindakan yang diambil untuk memadamkan ketegangan tinggi dan menghentikan LSM Muslim ekstrimis yang mengambil kesempatan dari keadaan belum cukup.

Cadbury Malaysia bereaksi cepat. Dalam upaya untuk menenangkan masyarakat Muslim, kepala hubungan perusahaan Raja Zalina Raja Safran mengeluarkan sebuah pernyataan. “Untuk saat ini, kami memusatkan tenaga dan sumber daya kami dalam investigasi yang sedang berlangsung. Kami bekerja sama dengan Jakim (Departemen Kemajuan Islam Malaysia) untuk memastikan bahwa produk kami memenuhi petunjuk aturan halal.

“Jakim juga telah menyatakan bahwa mereka akan melakukan pengujian tersendiri pada produk kami dan akan mengumumkan hasil yang didapat secepat mungkin.”

Presiden Persatuan Konsumen Islam Malaysia (PPIM) Nadzim Johan meminta Jakim menetapkan undang-undang dan peraturan yang lebih ketat untuk produk halal. Ia mengatakan bahwa cokelat yang dicemari kandungan babi membuktikan bahwa langkah-langkah yang saat ini digunakan telah gagal dan “menjebak” umat Muslim hingga memakan produk non-halal ini. Ia mendesak diadakannya “pemeriksaan kehalalan secara acak” pada perusahaan-perusahaan makanan untuk menjamin kepatuhan dan mengatakan, “Pemerintah dan pihak berwenang telah bersikap terlalu lembek terhadap perusahaan-perusahaan ini, hal ini tidak dapat berlangsung lebih lama!”

Menurut Cadbury Inggris, cokelat yang tercemar terikat pada Malaysia. Industri pengolahan cokelat merupakan sebuah industri yang sangat rumit, khusus, dan mekanis. Kandungan sebatang cokelat hazelnut standar adalah cokelat padat, susu padat, gula, dan hazelnut panggang. Bagaimana caranya cokelat yang terkontaminasi babi dapat muncul?

Mungkinkah perusahaan lawan telah meyabotase produk atau bahan mentah apapun yang digunakan dalam produksi cokelat? Atau mungkinkah stearat – yang biasanya berasal dari sapi atau babi – pada bahan pembungkus “bocor” ke dalam makanan?[ii]

Satu peritel makanan mengatakan, “Mengapa produk makanan yang terkontaminasi hanya ditemukan pada perusahaan multinasional asing, dan tidak pernah pada perusahaan kecil setempat? Apakah perusahaan kecil tidak pernah diuji, atau apakah semuanya memenuhi aturan halal?”

Pada tahun-tahun sebelumnya, perusahaan makanan internasional seperti Ballantyne Foods Pty, HJ Heinz, dan McIlhenney Company mengalami penurunan penjualan dan publisitas buruk saat statu kehalalan mereka menjadi sorotan media.

 

[i]‘ACCIN: Cadbury must pay for blood cleansing’, KiniTV, 27 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[ii]Adam Pasick, ‘Molecular halal testing has turned up pig DNA in Cadbury’s chocolate’, Quartz, 27 Mei 2014, dapat dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style