Modest Style

Kesatria Rendah Hati dari Mal Westgate

,

Seorang pria Muslim mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan banyak orang saat terjadi baku tembak di Mal Westgate, Nairobi, Kenya. Oleh Sahar Deshmukh.

Potongan gambar dari siaran berita. Sumber: NTV Kenya
Potongan gambar dari siaran berita. Sumber: NTV Kenya

Sejak serangan 9/11, dunia telah berubah menjadi lebih buruk. Sungguh menyedihkan  tatkala serangan teroris yang bersifat acak atau bermotif politik dihubungkan dengan Muslim. Sayangnya, sebagian golongan seolah mengabadikan representasi media ini. Misalnya saja kelompok militan Al-Shahab yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap mal Westgate di Nairobi, 21 September 2013. Penyerangan yang berlangsung selama empat hari itu menewaskan 67 orang dan banyak lagi terluka.

Di tengah kengerian ini, muncullah berita tentang pria Muslim bernama Abdul Haji, putra mantan Menteri Keamanan Kenya. Pada hari itu sebenarnya dia hanya bermaksud untuk menyelamatkan saudara laki-lakinya. Tetapi, dengan berbekal pistol di tangan dan nyali yang begitu besar di dalam dada, akhirnya dia malah menyelamatkan “puluhan jiwa”.

Menurut keterangan yang disampaikannya kepada Will Ross dari BBC, Abdul bergegas memasuki Mal Westgate setelah menerima SMS dari saudara laki-lakinya yang berisi: “Aku terjebak di Westgate. Sepertinya ini serangan teroris. Tolong berdoa untukku.”[i] Begitu sampai di mal, dia bisa mendengar suara tembakan yang berlangsung di dalam. Begitu memasuki pelataran parkir mal, suasana yang dilihatnya benar-benar kacau.

“Kami melihat banyak jenazah—anak kecil, orang tua, perempuan—sungguh mengerikan. Sebelum ini saya sudah pernah melihat orang tewas dalam kecelakaan di jalan dan di pemakaman, tapi tidak pernah melihat begitu banyak orang terkapar begitu saja berlumuran darah,” ujar Abdul saat menggambarkan suasana tersebut kepada BBC.

Tidak dapat melakukan apa pun untuk orang-orang yang sudah tak bernyawa itu, Abdul menceritakan bahwa dia dan beberapa pria lainnya mendesak Palang Merah untuk membawa usungan serta memindahkan jenazah-jenazah tersebut. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju mal, memperkenalkan diri kepada orang-orang yang bersembunyi di sebagian toko. Dia menggambarkan melihat beberapa orang berpura-pura meninggal, sangat ketakutan sampai  tidak mampu bergerak—padahal sudah dipanggil oleh mereka.

Setelah mengamankan lantai atas, Abdul mengatakan mereka mendengar suara tembakan saat mencapai lantai dasar. Ada para petugas polisi berpakaian preman dengan Abdul yang membawa gas air mata dan perlengkapan pelindung. Bersama dengan warga sipil yang lain, mereka saling melindungi saat terlibat baku tembak dengan kelompok bersenjata.

Menurut Abdul, Palang Merah memberi tahu mereka ada 40 sandera yang ditahan di sebuah ruangan di kantor manajemen Westgate. Dia ingat bahwa saat melewati ruangan tersebut, mereka melihat beberapa perempuan sedang bersembunyi di bawah meja. Salah satunya adalah Katherine Walton, perempuan Amerika berusia 38 tahun.

Abdul menceritakan dia dan sejumlah pria lainnya berhasil menghindar dari penglihatan para penembak dan mendekati meja tempat Katherine bersembunyi. Mereka memintanya berlari ke arah mereka begitu mereka melemparkan gas air mata, tetapi perempuan itu mengatakan dia bersama tiga anaknya yang tidak bisa digendongnya sekaligus.

“Beri tahu anak paling tua untuk berlari ke arah kami begitu kami melemparkan gas air mata,” kata Abdul kepada Katherine seperti yang diberitakan.

Abdul menjelaskan bagaimana putri Katherine yang berusia empat tahun, Portia, berhasil bekerja sama dengan berlari menyeberangi ruangan ke arahnya saat dia mengulurkan tangan ke arah gadis cilik itu. Inilah saat-saat menegangkan yang berhasil direkam fotografer Reuters, Gotan Tomasevic.

“Saya tidak tahu bagaimana dia tahu cara melakukannya, tapi dia berhasil. Dia menuruti apa yang diperintahkan dan dia melakukannya,” tutur Katherine kepada Telegraph.

Mengenang saat itu, Abdul berkata, “Anak itu adalah gadis kecil yang sangat berani.” Dia menambahkan bahwa Portia membuatnya terharu karena anak perempuan itu menginspirasinya untuk tidak menyerah selama penyerangan. Walaupun situasinya traumatis, Portia tetap bersikap tenang dan berhasil berlari ke arah sejumlah pria yang memegang senjata.

Abdul lantas menjelaskan bagaimana dia dan sejumlah pria lainnya menyelamatkan para korban yang lain begitu Portia berhasil diselamatkan, begitu pula Katherine serta dua putrinya yang berusia 13 bulan dan dua tahun. Mereka kemudian berkumpul lagi dengan dua putra Katherine yang sebelumnya berhasil keluar dari mal. Dari sini, Abdul lantas menerima SMS dari saudara laki-lakinya yang juga berhasil menyelamatkan diri dari serangan tersebut.

Hal yang bagi saya menyentuh dari sosok Abdul adalah meski telah mempertaruhkan nyawa dan dalam proses tersebut dia ikut menyelamatkan banyak orang, dia menolak disebut pahlawan.

Bicara kepada The Telegraph, Abdul berkata, “Saya kira saya melakukan apa yang akan dilakukan semua orang Kenya dalam situasi yang saya hadapi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, untuk menyelamatkan manusia lain, tak peduli kebangsaan, agama atau kepercayaan mereka.”[ii]

Biarpun secara implisit media arus utama terus menghubungkan terorisme dengan Islam, masih banyak orang seperti Abdul di luar sana yang membuat bangga komunitas Muslim dan lagi-lagi membuktikan Islam tidak mengajarkan kebencian ataupun  mendukung pembunuhan massal terhadap orang-orang tak berdosa.

[i] ‘Abdul Haji: I went in to rescue my brother in Westgate’, BBC, 27 Sep 2013, bisa dibaca di sini

[ii] ‘Hero Abdul Haji speaks of Kenyan mall attack horror’, The Telegraph, 27 Sep 2013, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style