Modest Style

Kesabaran sebagai Ujian Keimanan

,

Bersabar saat menghadapi masa-masa sulit membantu kita mendekatkan diri kepada Allah, ulas Sahar Deshmukh.

(Gambar: Pixabay)
(Gambar: Pixabay)

Ada masa dalam kehidupan kita saat satu demi satu keadaan berubah menjadi buruk. Tak peduli seberapa cermat kita melakukan perencanaan dan menunggu situasi untuk berubah, semuanya tak beralih menjadi lebih baik. Kita berusaha bersabar dan memohon ampunan Allah serta memanjatkan doa yang tulus, namun seolah-olah seumur hidup doa-doa kita tak terjawab, sementara keputusasaan semakin mendera. Setiap cercah harapan yang kita lihat di depan mata seketika buyar oleh keadaan buruk lainnya.

Dalam kondisi serupa itu, tak mudah untuk menjaga prasangka baik. Terlebih menjaga keimanan agar tetap tegak di masa-masa itu sungguh sebuah ujian besar.

Allah berfirman dalam Al Quran, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (2:155).

Selama beberapa tahun terakhir ini, saya sedang terpuruk dalam masa penuh kesedihan berulang kali. Berpindah ke sebuah negara yang baru, memulai karier kembali, berteman dengan kenalan baru, jauh dari kerabat dan keluarga serta bergulat dengan beberapa masalah lain yang merongrong eksistensi diri yang selama ini positif.

Saya tak henti berupaya membangun kekuatan untuk mengatasinya, namun pola pikir negatif selalu membuat saya tak berdaya dan bayangan keputusasaan menari-nari di kepala. Kemudian saya membaca biografi Nabi Muhammad (SAW) dalam buku The Sealed Nectar karya Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri, yang betul-betul menempatkan permasalahan dalam perspektif yang tepat. Pada suatu masa dalam kehidupan Rasulullah (SAW), beliau dilingkupi kepedihan ketika wahyu dari Sang Ilahi terhenti sesaat. Berhari-hari telah berlalu sejak terakhir beliau menerima wahyu dan ia dipenuhi kesedihan yang sangat di dalam hatinya.

Menurut sebuah hadis yang dikutip oleh penulis, di saat-saat itu Rasulullah (SAW) berdiri di puncak gunung dan menatap ke bawah dengan keinginan untuk mengempaskan dirinya:

Setiap kali ia menaiki puncak gunung agar ia bisa menjatuhkan dirinya ke bawah, Malaikat Jibril akan menampakkan dirinya dan berkata: ‘Wahai Muhammad! Engkau memang Rasul Allah yang sejati,’ sehingga hatinya menjadi tenteram dan ia menjadi tenang dan pulang ke rumah.[i]

Saya tak pernah bisa membayangkan bahwa sosok manusia sempurna yang pernah hidup di kalangan umat manusia dan Utusan Allah yang paling Ia cintai bisa berurusan dengan pikiran untuk bunuh diri. Sesungguhnya hal ini membuka mata saya dan mungkin menjadi pengingat bahwa kita hanyalah manusia biasa ketika berurusan dengan emosi. Jika Allah telah menguji keimanan mereka, yaitu para manusia terpilih untuk menyebarkan pesan tentang Islam, maka sebagai makhluk biasa keimanan kita pastinya juga akan diguncangkan dalam masa penuh kepedihan.

Nabi Muhammad (SAW) bukanlah satu-satunya nabi yang bertahan untuk bersabar di masa paling sulit dalam kehidupannya. Kita seharusnya juga mengkaji penderitaan sosok Nabi Yusuf yang bertahan meski harus menghadapi sekian ketidakadilan dalam hidupnya, menemukan kekuatan lewat kesabaran dan pengabdian kepada Allah.

Saudara-saudaranya mendengki atas semua kasih sayang yang diterimanya dari sang ayah, Nabi Yakub, sehingga mereka berkonspirasi untuk menyingkirkannya dengan melemparkan Nabi Yusuf ke dalam sumur. Ia ditemukan oleh sebuah karavan yang lewat, yang kemudian membawanya ke Mesir dan menjualnya sebagai budak kepada seorang wazir (perdana menteri) Mesir bernama Aziz.

Istri Aziz yang bernama Zulaikha terpesona oleh ketampanan Nabi Yusuf dan sifatnya yang rendah hati. Begitu besar hasrat Zulaikha terhadap Yusuf hingga ia mengunci Yusuf dalam sebuah kamar dan memaksa agar Yusuf mau melakukan kemauannya. Yusuf mencoba kabur dan Zulaikha mencabik bajunya, menggenggam potongan baju Yusuf di tangannya. Tepat saat itu pintu terbuka dan ternyata suaminya berdiri di sana bersama sepupunya. Jelas adanya bahwa Nabi Yusuf tak bersalah, namun ia dimasukkan dalam penjara selama bertahun-tahun untuk tuduhan palsu atas penganiayaan.[ii]

Selama mendekam di penjara ia tetap teguh menjalankan ibadahnya, mencari perlindungan kepada Allah. Ia selalu menyampaikan perihal keesaan Allah dan mengingatkan orang lain untuk menyembah hanya Allah saja.[iii] Sepanjang hidupnya, Nabi Yusuf diuji kesabarannya hingga akhirnya ia diberikan keberkahan oleh Allah dengan kemampuan uniknya menakwilkan mimpi, yang kemudian membuatnya dibebaskan dari penjara dan dianugerahi penghormatan yang layak ia dapatkan dari masyarakat setelah sekian lama terenggut. Beliau pun dipersatukan kembali dengan ayahnya, yang juga dengan penuh kesabaran menanggung kepedihan karena berpisah dengan putra kesayangannya.

Saat ia berjumpa dengan ayahnya, Nabi Yusuf mengucap puja dan puji kepada Allah, “Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (12:100). Hanya hamba yang paling setia kepada Allah saja yang mampu melewati segala kesulitan dan tetap bersyukur atas segala karunia yang dilimpahkan padanya.[iv]

Contoh lain dari para nabi yang dihujani kesulitan yang luar biasa dan bertahan menghadapinya adalah Nabi Ayub, seorang laki-laki yang kaya raya namun kehilangan semuanya dalm beragam musibah yang dihadirkan termasuk kehilangan keluarga dan kekayaannya. Ditambah lagi, ia terjangkit sebuah penyakit yang membuat seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Ujian ini membuatnya sungguh menderita secara fisik maupun mental, namun jutsru itu yang membuatnya menjadi manusia yang saleh, percaya bahwa hanya Allah yang akan memberikan ampunan dan ganjaran atas kesabarannya. Dan sungguh, Allah membuktikannya dengan memberinya kekayaan yang jauh lebih banyak ketimbang sebelumnya.[v]

Seorang hamba sejati tak akan putus harapan bahkan di sepanjang fase paling traumatis dalam hidupnya. Sebaliknya, justru momen itu akan menariknya mendekat kepada Allah (SWT) lewat dzikir. Keimanan kita kepada Allah memberikan kita jaminan bahwa Dialah yang menempatkan kita dalam kondisi tersebut, sehingga hanya Dia pula yang akan membebaskan kita darinya.

Lewat suri tauladan seperti itulah, kita belajar bahwa bertahan dalam kesabaran adalah bentuk refleksi keimanan kita kepada Allah. Jangan sampai kita lupa bahwa Allah menempatkan kita dalam beragam ujian tak lain untuk membuat kita kuat dalam keimanan, atau keyakinan kita. Hanya Allah yang paling tahu mengapa situasi tertentu hadir dalam kehidupan kita dan apa konsekuensi positif yang menyertainya.

Kita harus selalu berjuang untuk tetap memiliki harapan bagaimanapun kondisinya serta menahan diri dari berkeluh kesah tentangnya dan ingatlah apa yang Allah firmankan dalam Al Quran, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (94:5).


[i] Saifur Rahman al-Mubarakpuri, The Sealed Nectar, h44, tersedia di sini
[ii] Iftikhar Ahmed Mehar, Al-Islam: Inception to Conclusion, h67, tersedia di sini
[iii] Harun Yahya, Our Messengers Say, tersedia di sini
[iv] Iftikhar Ahmed Mehar, Al-Islam: Inception to Conclusion, h67
[v] Mary Saad Assel, 25 Icons of Peace in the Qur-an, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style