Modest Style

Kampanye pemilu: Dulu dan sekarang

,

Miranti Cahyaningtyas mengenang dan membandingkan kampanye pemilu di masa lalu dan masa kini.

In this picture taken on June 3, 2014, Indonesian presidential candidates Prabowo Subianto (L) from the Gerindra Party (Great Indonesia Movement) and Joko Widodo (R) from the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) join hands on the stage after signing an election commission declaration calling for peaceful elections during a ceremony in Jakarta, on the eve of the opening of the campaign for the July 9Indonesian presidential elections. Campaigning for the presidential elections are to begin on June 4, with favourite Joko Widodo facing a tough challenge from a Suharto-era former general with a chequered human rights record. AFP PHOTO / ROMEO GACAD
Dalam gambar ini yang diambil pada 3 Juni 2014, kandidat presiden Indonesia Prabowo Subianto (L) dari Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) dan Joko Widodo (R) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bergandengan tangan di atas panggung setelah menandatangani sebuah deklarasi komisi pemilihan yang menyerukan pemilu damai dalam sebuah upacara di Jakarta, pada malam pembukaan kampanye untuk pemilihan presiden 9 Juli di Indonesia. Kampanye untuk pemilihan presiden yang akan dimulai pada tanggal 4 Juni dengan kandidat favorit Joko Widodo menghadapi tantangan berat dari mantan jenderal era Soeharto dengan catatan hak asasi manusia yang meragukan. AFP PHOTO / ROMEO GACAD

9 Juli 2014 kurang dari sebulan lagi. Tidak sampai 30 hari lagi kita akan kembali berjudi atau berhitung – tergantung pendapat Anda – dalam menentukan masa depan bangsa ini selama lima tahun ke depan dan seterusnya melalui pemilihan umum presiden dan wakil presiden.

Hampir setiap lima tahun kita memiliki cara berbeda dalam pemilihan presiden. Begitu pula tahun ini.

Kini, kita hanya dapat memilih antara dua pasangan calon yang masing-masing terdiri dari dua orang yang berasal dari partai yang berbeda dan pendukung dari partai yang berbeda pula. Jika dulu kita bisa saja sekadar menempatkan kepercayaan penuh pada satu partai tertentu dalam memilih presiden, kini kita harus mencermati langsung individu peserta pemilihan yang masing-masing memiliki catatan baik dan buruk tersendiri. Ini adalah pekerjaan rumah cukup berat bagi mereka yang ingin menggunakan hak suara dengan serius – namun sekaligus juga lebih membebaskan.

Dulu, kandidat calon peserta pemilihan umum hanya perlu memesan gimmick kampanye seperti kaus, bendera, atau stiker sebanyak mungkin dan menyebarkannya seluas mungkin. Intinya untuk mengakrabkan diri. Semakin banyak orang yang melihat, akhirnya terbiasa dengan partai tertentu, dan karenanya diharapkan akan mencoblos partai tersebut saat tiba di bilik pencoblosan. Ini karena perbandingan penduduk kita, antara yang memiliki akses dan kemampuan untuk mengenal lebih jauh para calon pemimpin dengan yang tidak, tidak berimbang.

Kini, terlepas dari ada tidaknya pengaruh tim sukses resmi pasangan capres-cawapres, teknologi membantu warga Indonesia untuk berkreasi tanpa batas – termasuk dalam hal kampanye presiden.

Alih-alih stiker dan kaus, kini pendukung kedua kubu memiliki arsenal mim untuk meyakinkan pemilih ataupun sekedar memeriahkan musim pemilu. Misalnya mim di bawah ini, yang kemungkinan tidak digunakan untuk kepentingan kampanye namun lebih untuk mencairkan suasana yang sangat panas antara para pendukung pasangan calon presiden:

pemilu

Kredit: Lintas.me 

Fenomena meriahnya penggunaan app Twibbon di profil media sosial adalah salah satu contoh lain.

Kredit: Twibbon

pemilu 2

Kredit: Twibbon

Dengan kemunculan dua twibbon ini, pendukung masing-masing pasangan dapat terus bersuara dalam diam dan meminimalisasi perang kata dan fitnah yang banyak terjadi, karena toh dunia dapat melihat dengan sangat jelas siapa mendukung yang mana. (Seharusnya) tidak perlu saling menjatuhkan. Menyenangkan ya?

Hal menyenangkan lain yang dimungkinkan dengan adanya teknologi adalah streaming video debat capres dan berita mengenai kedua pasangan. Jika dulu warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih namun tinggal di luar negeri hanya dapat mengandalkan berita yang disediakan oleh kanal-kanal berita arus utama untuk lebih mengenal calon pemimpin mereka, kini dengan fasilitas yang ada, siapa pun dapat menyaksikan cara para calon presiden membawa diri dan menyampaikan pendapat mereka secara langsung tanpa melalui proses penyuntingan terlebih dahulu. Tentu, politisi besar yang akan menjadi presiden dan wakil presiden pastinya telah melatih cara bersikap dan bicara, namun ada kalanya sisi asli mereka muncul meski sekejap. Saat itulah kita dapat melihat watak mereka sebagaimana adanya.

Di sisi lain, dengan kemudahan akses informasi masa kini, kitalah yang bersalah jika tidak lebih teliti mencari tahu dan menyaring informasi. Maka, sebelum membuat keputusan penting saat menggunakan hak pilih Anda, pastikan Anda mendapat informasi dari berbagai sumber, baik media arus utama maupun sebaliknya.

Leave a Reply
<Modest Style