Jika Si Kecil kecanduan pornografi

,

Anak-anak rentan terpapar konten pornografi dari berbagai media. Bagaimana menangkis dan mengatasi serangan ini? Oleh Khairina Nasution.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Siapa sangka: games yang dimainkan anak-anak, acara televisi yang mereka tonton, buku komik yang mereka baca serta situs internet yang mereka kunjungi ternyata banyak mengandung konten pornografi. Dan sekali terpapar pornografi, anak akan mengalami sensasi persis seperti orang kecanduan narkoba: ingin terus melihat dan enggan berhenti.

Demikian menurut Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) Jakarta. Menurutnya, sensasi tersebut terjadi karena pornografi dapat merusak struktur dan fungsi otak. Elly menyampaikan hasil penelitian ahli bedah otak dari Amerika Serikat, Dr. Donald Hilton Jr, yang menyebutkan bahwa bagian yang paling rusak akibat pornografi adalah pre-frontal cortex (PFC), yang membuat anak tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.

“Bagian inilah yang membedakan antara manusia dan binatang,” ujar Elly dalam sebuah seminar di Solo, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Sekali terpapar pornografi, anak akan mengalami sensasi persis seperti orang kecanduan narkoba: ingin terus melihat dan enggan berhenti.

YKBH Jakarta telah melakukan survei terhadap 1.625 siswa kelas empat hingga enam sekolah dasar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, sepanjang tahun 2008 sampai awal 2010. Hasilnya, 66 persen anak berusia 9-12 tahun ternyata telah menyaksikan materi pornografi. Aksesnya sebagian besar berawal dari komik (24 persen), games (18 persen), situs porno (16 persen), film (14 persen), serta sisanya dari VCD atau DVD, telepon seluler, majalah, dan koran.

Materi pornografi didapat karena iseng (27 persen), terbawa teman (10 persen), dan takut dikatakan kurang pergaulan (4 persen). Anak-anak tersebut menikmati materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36 persen), di rumah teman (12 persen), warung internet (18 persen), dan rental komputer (3 persen).

Mark Kastleman, penulis buku The Drugs of the New Millenium, menyebutkan bahwa para pelaku industri pornografi menginginkan anak-anak memiliki perpustakaan porno, yakni memori mental berisikan pornografi yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Dengan demikian, anak-anak akan menjadi pencandu pornografi seumur hidup — dengan konsekuensi mengalami kerusakan otak permanen.

Menurut Elly, ada beberapa ciri anak telah kecanduan pornografi. Misalnya, ia sering haus dan tenggorokannya terasa kering, sering minum, sering buang air kecil, sering berkhayal, susah konsentrasi, dan jika berbicara menghindari kontak mata. Selain itu, mereka juga sering bermain Play Station dan internet dalam waktu yang lama, prestasi akademisnya menurun dan cenderung lebih suka bermain dengan teman atau kelompok yang itu-itu saja. Anak yang terjangkiti pornografi juga kerap menunjukkan perilaku aneh, misalnya mengancingkan baju hingga ke atas, malas mandi, dan lain sebagainya.

Terkadang, covernya sopan tetapi isinya ternyata mengandung pornografi

Orang tua perlu mengetahui cara-cara untuk menghindari paparan konten pornografi pada anak. Selain rutin mengecek riwayat paparan internet anak, orang tua juga harus berteman dengan anak di dunia maya. Orang tua juga selayaknya mengikuti perkembangan anak, termasuk dengan cara mengajak anak berdiskusi dan mengarahkan penggunaan internetnya.

Sementara, untuk anak-anak penyuka komik, orang tua harus mengecek dulu komik apa yang dibeli anak dan melihat isinya. “Terkadang, covernya sopan tetapi isinya ternyata mengandung pornografi,” kata Elly.

Orang tua juga harus rajin memeriksa tas, rak buku, kolong tempat tidur, dan sela-sela pakaian anak di dalam lemari. Alangkah baiknya jika anak juga dikenalkan kepada berbagai variasi bacaan, seperti sains, fiksi, petualangan, dongeng, riwayat Rasul, dan sebagainya. Yang terpenting, orang tua juga harus senang membaca, karena anak meniru perilaku orang tua mereka.

Bagi anak penyuka games, orang tua harus belajar mengenal games yang dimainkan anak dengan cara bertanya pada anak. Orang tua juga perlu memeriksa rating atau peringkat video games tersebut. Misalnya, rating EC atau Early Childhood sesuai untuk anak usia 3-10 tahun, sementara games dengan rating AO atau Adults Only hanya sesuai untuk dewasa. Tanda rating ini biasanya terdapat di sampul depan dan sampul belakang kemasan games.

Orang tua juga perlu mengatur tontonan anak di televisi dan bioskop. Untuk televisi, atur jam TV hidup dan pilih program yang sesuai dengan usia anak. Bahas dengan anak, apa yang ia tidak suka dan suka dari suatu program dan beri ia pengganti program atau aktivitas yang lebih baik.

Sementara itu, jika anak ingin menonton film di bioskop, ada sejumlah batasan yang harus dipenuhi anak. Di antaranya, dengan siapa anak berangkat ke bioskop, apa yang hendak ditonton. Jangan lupa bicarakan dengan anak secara terbuka mengenai dampak melihat adegan “syur” dalam keadaan gelap dengan teman.

Jika anak sudah terlanjur terpapar konten pornografi bahkan menjurus ke kecanduan, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua. Pertama, orang tua harus tenang, jangan marah apalagi panik karena emosi orang tua hanya akan membuat anak semakin menjauh. Terima anak apa adanya dengan memaafkan, meminta ampun kepada Allah dan bermusyawarah dengan pasangan untuk mendapatkan jalan keluar terbaik. Selanjutnya, orang tua harus memperbaiki pola pengasuhan kepada anak.

“Anak bukan sekedar butuh fasilitas, tapi juga teman bicara. Carikan kegiatan positif yang dia sukai untuk mengalihkan perhatiannya terhadap hal-hal yang berbau pornografi. Jangan lupa, tingkatkan ibadah kepada Allah,” kata Elly.

Leave a Reply
Aquila Klasik