Modest Style

Jejak Malaikat Jibril di Pameran Yerusalem

,
ina jibril 000_nic6213159.a3937093014.w250
Dokumen gambar ini dirilis pada 1 Mei 2013 oleh museum Israel menunjukkan batu Wahyu Jibril, sebuah plakat batu berumur 2.000 tahun, yang menjadi sajian utama pada pameran teranyar di Yerusalem.©AFP PHOTO / ISRAELI MUSEUM

Sebuah plakat batu unik berusia 2.000 tahun menjadi pusat perhatian pada pameran yang dibuka di Yerusalem pada hari Rabu dan menandai jejak penggambaran malaikat Jibril dalam kitab suci Yahudi, Kristiani dan Islam.Dalam ketiga agama yang biasa disebut sebagai agama Ibrahim, lazimnya Jibril bertugas sebagai pembawa pesan Tuhan kepada manusia.

Pertama kali disebut dalam kitab suci kaum Yahudi, Jibril khususnya menonjol pada injil Kristiani – dia mengabarkan kepada Zakaria akan lahirnya Yahya sang Pembaptis dan Perawan Maria yang akan menjadi ibu dari Yesus.

Dan umat Muslim meyakini bahwa Jibrillah yang mengimlakan Al Quran kepada Nabi Muhammad.

Adolfo Roitman adalah kurator dari pameran ”I am Gabriel” di Museum Israel, yang akan diselenggarakan hingga Februari 2014.

Ia mengatakan bahwa batu Wahyu Jibril adalah contoh pertama nama malaikat tersebut yang tertulis dengan tinta di atas batu, meskipun sebelumnya dikabarkan bahwa namanya ditemukan dalam gulungan naskah Laut Mati.

‘Dalam bentuk tertulis di atas batu seperti ini, ini adalah yang pertama kalinya,’ ia menjelaskan kepada para reporter. ‘Kita tidak tahu ada yang lain yang serupa ini.’
‘Batu Wahyu Jibril ini sedikit banyak mirip dengan gulungan naskah Laut Mati yang ditulis di atas batu dan menjadi unik karenanya,’ direktur museum James Snyder menambahkan.

Artefak ini, yang dibeli oleh seorang kolektor dari Swiss bernama David Jeselsohn di Yordan pada tahun 2000, dipercaya dibuat oleh bangsa Yahudi kuno dari pantai timur Laut Mati, jelas Roitman.

Plakat ini berukuran tinggi 93 sentimeter (36 inci) dan bertanggal masa akhir pemerintahan Raja Herod dan awal pemberontakan Yahudi melawan kekuasaan Romawi di awal abad era Kristen.

Plakat ini berisi 87 baris tulisan tangan bahasa Ibrani, kurang dari setengahnya yang bisa terbaca.

Isi teks kebanyakan merujuk kepada penyerangan atas Yerusalem, berisi prediksi peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan dan merefleksikan suasana kerasulan dan pandangan baru tentang malaikat sebagai penghubung antara Tuhan dan manusia.

‘Subjek tentang malaikat adalah isu krusial dalam spiritualitas Yudaisme periode Kuil Kedua,’ kata Roitman, mengacu pada periode di mana kuil Herod didirikan di Yerusalem sebelum diruntuhkan oleh Roma di 70 SM.

‘Muncul sebuah paradigma baru, sebuah hubungan baru antara Tuhan dan makhluk hidup,’ tambahnya.

Pada batu Jibril, sang malaikat menyebutkan dirinya tiga kali secara terpisah dengan kata-kata ‘Aku adalah Jibril.’

Petunjuk terhadap kebangkitan?

Salah satu kalimat di plakat itu telah menimbulkan selisih paham di antara para akademisi dikarenakan kondisinya yang rusak pada bagian teks, kata Roitman.
Baris 87 dari teks itu secara luas diterima para ilmuwan sebagai: ‘Dalam tiga hari, tanda-tanda akan (diberikan). Aku adalah Jibril.’

Namun sebuah interpretasi alternatif dari tulisan Ibrani yang sudah terkikis ini dapat dibaca sebagai: ‘Hiduplah kembali dalam tiga hari!’ yang bisa jadi sebuah petunjuk atas kebangkitan Yesus.

Meskipun batu tersebut sudah pernah dipamerkan di Amerika dan Vatikan, pameran Yerusalem adalah yang pertama kali mendampingkannya bersama-sama dengan teks langka Kristiani dan Islam tentang Jibril.

Pameran itu memanfaatkan pinjaman dari Green Collection Oklahoma City – pengarsip teks kitab- kitab suci kuno yang terbesar di dunia – dan arsip dari gereja Katolik Roma di Yerusalem.

Pameran itu juga menampilkan satu dari gulungan naskah Laut Mati yang memprediksikan sebuah perang antara kekuatan cahaya dan kegelapan di hari akhir, dengan menyebutkan Jibril dan malaikat Mikail.

Ada juga manuskrip Latin dari abad ke-10 dari Injil dengan pernyataan Lukas atas penampakan Jibril terhadap Zakaria, ayah dari Yahya sang Pembaptis, dan kepada Maria.

Dan terdapat sebuah lukisan Persia dari abad ke-16 tentang Nabi Muhammad naik ke surga ditemani oleh malaikat – yang dikenal sebagai ‘Jibril’ dalam Al Quran.

‘Kenyataan bahwa kami memiliki manuskrip dari tiga agama monoteistik bersamaan dalam satu ruangan menunjukkan adanya kesamaan budaya yang , saya rasa, sangat signifikan untuk saat ini,’ kata Roitman.

‘Saat ini, ketika kita menyebut tentang Islam biasanya mengacu pada konteks benturan peradaban… Di sini sebaliknya yang terjadi.’

‘Dalam ungkapan metaforis, ini adalah titik permulaan dari tradisi yang berkelanjutan yang masih relevan hingga saat ini.’

Leave a Reply
<Modest Style