Modest Style

Jahiliyah Dulu dan Kini

,

Bagaimana Quran mengungkapkan keadaan perempuan sebelum datangnya Nabi? Meaghan Seymour menyelidiki.

(Image: PhotoXpress)
(Image: PhotoXpress)

Sebagai perempuan muslim yang bangga, wajar jika kita mengagungkan anggapan bahwa Islam membawa persepsi pembebasan yang revolusioner bagi perempuan. Kita juga dapat bersukacita dalam kenyataan bahwa agama dan Nabi kita (saw) adalah pelopor gerakan hak-hak perempuan jauh sebelum gerakan itu kemudian bergema ke seluruh dunia.

Tapi apakah kita tahu bagaimana kondisi perempuan sebelum Islam, dan mengapa Tuhan ingin hal itu berubah?

Karena orang-orang Arab di zaman dahulu lebih memilih metode bercerita lisan daripada kata-kata tertulis untuk menceritakan sejarah mereka, tak banyak catatan mengenai kehidupan nyaris tanpa hukum di masa jahiliyah (periode pra-Islam, juga disebut ‘masa kebodohan’) yang bertahan sampai periode modern. Puisi-puisi berisi gairah dan nafsu badani yang sangat digemari oleh orang-orang Arab kuno memberikan petunjuk lain tentang kehidupan pada waktu itu, mungkin menunjukkan penerimaan atas perilaku vulgar yang jamak antara pria dan wanita.

Sebagai muslim yang beriman, sumber untuk kehidupan sebelum Islam yang paling dapat diandalkan terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran. Ayat-ayat tersebut menyerukan kepada umat baru (komunitas muslim) untuk mengangkat beban ketidakadilan dari bahu perempuan, dan mendorong keterlibatan perempuan dalam urusan sehari-hari.

Melalui ayat-ayat ini, kita dapat mendapat gambaran sesuram apa rasanya menjadi perempuan dalam masyarakat yang didominasi masyarakat pagan jahiliyah. Atau lebih pasnya, para perempuan yang selamat dari praktik pembunuhan bayi perempuan yang dikutuk oleh Quran (81: 8-9).

Perintah untuk menerima kesaksian perempuan dalam urusan hukum atau transaksi keuangan (2: 282) menyiratkan bahwa pada saat itu perempuan tidak diperbolehkan bersuara dalam hal-hal yang bersangkutan dengan mereka, dan kemungkinan besar tidak dianggap sebagai subjek hukum.

Dengan perintah untuk melindungi harta perempuan dan untuk memasukkan perempuan ke dalam pembagian warisan (4: 7), kita dapat menyimpulkan bahwa saat itu mustahil bagi perempuan untuk memiliki kemerdekaan atau keamanan finansial sedikit pun. Mereka juga bisa dinikahkan di luar keinginan mereka, tradisi yang ditentang oleh Nabi sendiri.(i)

Namun, pengusaha kaya Khadijah yang meminang Muhammad untuk dirinya, bertentangan dengan gambaran perempuan yang kita asumsikan dalam periode ini. Mungkin status pekerjaannya mengindikasikan bahwa beliau dari golongan elite dan dengan demikian tidak terpaksa menanggung perlakuan tipikal yang diberlakukan pada perempuan dari kelas yang lebih rendah.

Selain pemberian langsung hak-hak hukum dan keluarga untuk perempuan, saya pikir beberapa ayat Al-Quran yang paling signifikan mengenai hal ini adalah yang membatasi kebebasan kaum laki-laki yang sewenang-wenang – yang paling terkenal adalah pembatasan poligami (4: 3). Banyak orang yang berpendapat bahwa pembatasan ini menunjukkan lebih baik menghindari poligami sama sekali.

Batasan lain yang sama populernya adalah memberi batasan kepada pria yang dulu biasa bebas menceraikan istri mereka semaunya. Hal ini dilakukan dengan memberlakukan masa iddah (masa tunggu setelah cerai)  dan kewajiban bagi suami untuk memberikan kompensasi finansial untuk kesejahteraan istri mereka (2:231, 65:1-6). Menegur pria dengan cara ini menyadarkan mereka untuk mengenali jurang lebar dalam kesenjangan gender dan mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya.

Sebagaimana disebutkan berulang-ulang di sepanjang 114 juz Al-Quran, laki-laki dan perempuan secara spiritual setara di hadapan Allah. Ide ini jelas-jelas sangat revolusioner sehingga masyarakat pada saat itu perlu mendengarnya lagi dan lagi!

Sementara itu, Nabi kita berusaha untuk menunjukkan kepada umatnya bahwa komunitas baru muslim adalah masyarakat tempat perempuan terlibat aktif, tidak seperti masyakat sebelumnya. Beliau mendorong perempuan untuk menggunakan suara mereka dan berbicara dengannya di depan umum, atau bahkan mengoreksinya di masjid. Beliau terus-menerus membantah mitos dan tabu represif mengenai menstruasi (ii) yang masih dipertahankan beberapa agama di zaman modern.

Dan tentu saja, beliau berhasil membuat kita mengetahui bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual yang sama dengan pria, karena beliau tak segan menganjurkan pengikut laki-lakinya untuk mencari nasihat dalam urusan agama dari istrinya, Aisyah, yang kemudian menjadi periwayat lebih dari 2.200 hadits.

Walaupun ada sejarah yang menggembirakan ini, sungguh kecewa rasanya melihat pedoman indah ini sedang terdistorsi oleh umat Islam dewasa ini, terutama atas nama Islam. Akibat penafsiran yang patriarkal terhadap tema-tema ramah perempuan, saudari-saudari kita di seluruh dunia sering tidak memperoleh kesetaraan dan keadilan yang pernah (dan masih) diemban oleh Quran. Meskipun mereka merupakan umat dari agama yang membebaskan, para perempuan tersebut masih menghadapi semacam kejahiliyahan era modern.

Berita tentang perangkat elektronik yang tersedia bagi pria untuk melacak perempuan ‘milik mereka’ (iii ), fakta bahwa sistem hukum di negara-negara mayoritas muslim seperti Maroko yang tidak menganggap tindakan menyiksa dan memperkosa istri sebagai tindakan melanggar hukum, praktik-praktik budaya mutilasi genital paksa demi menurunkan hasrat seks perempuan (iv), semuanya berkontribusi terhadap reputasi negatif tentang Islam dan bagaimana semestinya wanita diperlakukan di seluruh dunia.

Ketika saya mendengar pendapat dari dunia non-muslim bahwa Islam tidak memperlakukan perempuan dengan adil, saya tersenyum tipis dan mengingatkan mereka bahwa Islam dan Nabi kita (saw) telah merevolusi hak-hak perempuan. Yang menghambat kita sekarang ini semata-mata adalah ketidakmampuan (atau apatisme) memprihatinkan dari sebagian muslim untuk membaca dan menerapkan standar tersebut.

 

i Diriwayatkan oleh Khansa binti Khidam Al-Ansariya, dalam Bukhari, dapat dibaca di sini.

ii Lihat untuk contoh, Bukhari Vol. 1 Buku 6 ‘Menstrual Periods’, dapat dibaca di sini.

iii  The Guardian, Saudia Arabia criticised over text alerts tracking women’s movements’, 23 November 2012, dapat dibaca di sini.

iv Women Living Under Muslim Laws baru-baru ini memberitakan semua insiden yang disebut di atas.

 

Leave a Reply
<Modest Style