Modest Style

Iran Peringatkan Malaysia Soal Hukuman Mati Wanita Iran

,
Apakah Teheran telah mengubah sikapnya mengenai hukuman mati? (Gambar: SXC)
Apakah Teheran telah mengubah sikapnya mengenai hukuman mati? (Gambar: SXC)

TEHERAN, 23 Oktober 2013 (AFP) – Kementerian Luar Negeri Iran mengecam Malaysia, Rabu lalu, atas keputusan negara itu untuk mengeksekusi dua wanita Iran karena memperdagangkan metamfetamin ke negara Asia Tenggara itu.

“Eksekusi dua wanita Iran di Malaysia akan memiliki efek negatif pada hubungan bilateral kami,” kata Hassan Ghasghavi, wakil menteri luar negeri yang bertanggung jawab di bidang konsuler, seperti dikutip oleh kantor berita resmi IRNA.

Ghasghavi mengatakan Malaysia harus mengampuni kedua wanita itu “sehingga persahabatan dan persaudaraan antara Iran dan Malaysia dapat berlanjut”.

Laporan mengatakan bahwa kedua wanita itu, yang diidentifikasi sebagai Shahrzad Mansour, 31, dan Neda Mostafaei, 26, dijatuhi hukuman mati karena membawa  metamfetamin ke Malaysia pada bulan Desember 2010.

“Pedagang obat terlarang” menjanjikan kepada kedua perempuan itu perjalanan gratis ke Malaysia, yang disukai wisatawan Iran karena aturan visanya mudah terhadap republik Islam ini, demikian menurut kepala polisi anti-narkoba Iran, Kolonel Ali Moayedi.

Sebagai gantinya, Moayedi mengatakan, pasangan tersebut diminta untuk membawa tas berisi “makanan” ke sana, yang diisi dengan metamfetamin tanpa sepengetahuan mereka.

Mereka ditangkap di pabean di bandara Kuala Lumpur, media Iran melaporkan.

Kecaman Teheran datang di tengah laporan dari pejabat kehakiman tertinggi di Iran yang menyatakan mereka tak akan menghukum mati seorang pengedar narkoba yang sadar dari koma setelah selamat dari hukum gantung. Dia ditemukan hidup di kamar mayat.

Seruan dari dalam negeri dan kelompok-kelompok hak asasi internasional menentang eksekusi pria itu untuk kedua kalinya.

“Terpidana yang selamat (dari hukuman mati) tidak akan dieksekusi ulang,” kata Menteri Kehakiman Mostafa Pour-Mohammadi Selasa lalu, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.

“Setelah mencurahkan banyak usaha untuk mencegah eksekusi kedua terpidana ini, kami mendapat banyak respons positif,” katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Kepala Kehakiman Ayatollah Sadeq Larijani tampil untuk mengonfirmasi pembatalan eksekusi kedua.

Larijani mengatakan dia “mengabulkan proposal untuk mengampuni individu dari hukuman eksekusi dengan hukuman satu derajat lebih rendah,” menyiratkan bahwa si terpidana, yang diidentifikasi hanya sebagai Alireza M., dapat dipenjara seumur hidup sebagai gantinya.

Semua urusan peradilan dan keputusan di Iran terletak di tangan lembaga kehakiman, yang secara konstitusional beroperasi secara independen dari pemerintah.

“Salah satu cara untuk menangani seseorang yang telah menjumpai kematian dan melewati kesulitan itu adalah pengampunan,” kata Larijani.

“Saya pasti akan melakukan ini atas dasar kemanusiaan,” kata hakim tinggi itu seperti dikutip oleh IRNA, sambil menambahkan mungkin ada dasar hukum untuk eksekusi ulangan.

Iran memiliki salah satu tingkat eksekusi tertinggi di dunia, dengan lebih dari 500 kasus tahun lalu dan hampir jumlah yang sama sepanjang tahun ini, menurut pengawas hak asasi manusia.

Alireza M, 37, ditangkap tiga tahun lalu karena membawa 1 kg metamfetamin dan divonis hukuman mati.

Hukuman itu dilakukan awal bulan ini, dengan saksi dokter yang menyatakan dia mati setelah digantung selama 12 menit dari tali gantungan yang dipasang di crane di penjara timur laut Iran.

Keesokan harinya, staf di kamar mayat di kota Bojnourd, tempat mayatnya yang diselimuti itu disimpan, menemukan dia masih bernapas. Dia kemudian dilaporkan mengalami koma.

Namun, surat kabar lokal Khorasan melaporkan pada hari Rabu bahwa Alireza M telah “sadar dan mampu berbicara.”

Pour Mohammadi menyiratkan eksekusi kedua akan merusak citra Iran. “Jika dia bertahan hidup, tidak bijaksana untuk menggantung dia lagi,” kata si menteri.

Amnesti Internasional juga menyerukan segera penundaan eksekusi untuk Alireza M.

Teheran mengatakan hukuman mati penting untuk mempertahankan hukum dan ketertiban, dan bahwa hukuman itu diterapkan hanya setelah proses peradilan lengkap.

Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan bersenjata, perdagangan narkoba, dan perzinaan adalah di antara jenis kejahatan yang diancam hukuman mati di Iran, berdasarkan penafsiran hukum Syariah yang berlaku sejak revolusi Islam 1979.

Leave a Reply
<Modest Style