Modest Style

Iran dan Turki berjanji lawan ekstrimisme

,
Presiden Iran Hassan Rouhani (kiri) dengan Presiden Turki Abdullah Gul pada pertemuan di istana kerjaan di Ankara, Turki. AFP Photo
Presiden Iran Hassan Rouhani (kiri) dengan Presiden Turki Abdullah Gul pada pertemuan di istana kerajaan di Ankara, Turki. AFP Photo

ANKARA, 9 Juni 2014 (AFP) – Dalam sebuah kunjungan penting ke Turki oleh presiden Iran, kedua negara berjanji bekerja sama untuk menghentikan ekstrimisme dan pertumpahan darah di Timur Tengah terlepas dari perbedaan pendapat mengenai perang sipil Suriah.

“Iran dan Turki, dua negara penting di wilayah tersebut, bertekad melawan ekstremisme dan terorisme,” Presiden Iran Hasan Rouhani menyatakan dalam konferensi berita di Ankara, dan menambahkan bahwa kedua negara tidak diuntungkan dengan adanya ketidakstabilan di wilayah mereka.

Presiden Turki Abdullah Gul memuji upaya Rouhani membuka Iran kepada dunia sejak menduduki jabatannya Agustus lalu. Namun basa-basi diplomatis tersebut menutup-nutupi sebuah hubungan yang tetap rumit dan seringkali disfungsional, dengan persaingan ketat kedua negara atas pengaruh kekuatan Muslim Sunni dan Syiah di Timur Tengah.

Perpecahan terbesar muncul dengan adanya perang sipil Suriah di mana mereka berdiri pada sisi yang berlawanan.

Iran, sebuah teokrasi Syiah, merupakan pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, sementara Turki yang mayoritas Sunni beranjak dari upaya mendorong adanya reformasi di Suriah menjadi secara terbuka mendukung oposisi bersenjata.

Rouhani menyelamati Assad pekan lalu karena terpilih kembali untuk periode tujuh tahun ketiganya dalam sebuah polling yang ditertawakan oleh kelompok oposisi Suriah beserta pendukung Barat dan Arab.

“Yang penting untuk dilakukan adalah menghentikan pertumpahan darah dan konflik di Suriah, menyingkirkan teroris yang datang dari berbagai negara, dan membiarkan rakyat Suriah memutuskan sendiri masa depan mereka,” ujarnya pada hari Senin.

Sementara itu, Turki menyebut pemilihan tersebut “tidak sah dan tidak berlaku”, dan menyatakan bahwa “tidak ada gunanya ditanggapi dengan serius”. Polling Suriah “memperlihatkan dengan jelas kontradiksi atas deklarasi Jenewa dalam mencari solusi politik,” seorang anggota kementerian luar negeri Turki menyampaikan pada AFP.

Perjalanan Rouhani ke Turki, yang diramaikan oleh delegasi kementerian dan pengusaha Iran, menghasilkan penandatanganan 10 perjanjian bilateral dalam beberapa sektor termasuk keuangan, pariwisata, kebudayaan, dan komunikasi – bagian dari upaya untuk meningkatkan perdagangan hingga $30 miliar di tahun mendatang.

Presiden Iran kemudian bertemu dengan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, yang menyatakan: “Hubungan kami telah mengalami kemajuan sejak terpilihnya Rouhani.”

Iran dan Turki juga menyelenggarakan pertemuan pertama dewan kerjasama tingkat tinggi, sebuah mekanisme baru yang mereka pilih untuk meningkatkan perdagangan dan integrasi regional. Rouhani mengatakan kunjungan tersebut “sudah pasti akan menjadi titik balik dalam hubungan kedua negara”.

Kunjungan tersebut merupakan perjalanan pertama presiden Iran ke Turki sejak mantan pemimpin Mahmoud Ahmadinejad mengadakan kunjungan “kerja” ke Istanbul pada tahun 2008. Kunjungan presidensial resmi terakhir dari Iran ke Turki adalah pada tahun 1996 oleh Hashemi Rafsanjani. Kunjungan tersebut diwarnai oleh kontroversi saat Rafsanjani menolak mengunjungi mausoleum pendiri Turki modern yang dipuja Mustafa Kemal Ataturk, tindakan yang rutin dilakukan oleh kepala negara asing. Rouhani juga tidak mengunjungi mausoleum.

Latar belakang sekuler Ataturk menjadikannya sosok yang tidak banyak disukai oleh pemimpin teokratis Iran.

Kerjasama

Terlepas dari ketegangan yang ada, kedua negara memiliki banyak alasan untuk bekerja sama. Keduanya mengkhawatirkan peningkatan konflik sektarian di perbatasan mereka, dan terutama berharap dapat menjaga hubungan baik dalam sektor energi dan perdagangan yang terancam oleh sanksi Barat yang ditujukan pada Iran.

Turki sangat bergantung pada Iran untuk minyak dan gas dikarenakan terbatasnya sumber daya energi yang dimiliki. Turki telah lama menjadi lawan keras sanksi Barat yang sangat membatasi akses Turki ke bahan bakar Iran dalam tahun-tahun belakangan.

Ankara dituduh mengelak dari sanksi dengan cara menukarkan emas dengan gas Iran secara diam-diam. Kejaksaan Turki kini sedang menyelidiki kasus yang mereka sebut sebagai jaringan kejahatan besar yang menggunakan suap dan sogokan untuk menutupi perdagangan ilegal tersebut.

Erdogan telah menampik tuduhan tersebut dengan menyebutnya sebagai plot asing dan mendesak keras para penyelidik untuk menghentikan kasusnya. Pemerintahannya berharap perjanjian antara Iran dan Barat akan memastikan dihentikannya sanksi tersebut secara permanen.

Ankara telah lama memperjuangkan hak Teheran dalam pengadaan teknologi nuklir damai namun dengan tegas menolak pengembangan senjata nuklir dalam bentuk apapun, yang ditakutkan akan memancing perlombaan persenjataan di Timur Tengah.

“Kami tidak ingin negara manapun di wilayah ini memiliki senjata nuklir. Kami menginginkan Timur Tengah yang bebas senjata perusak massal,” ujar Gul pada hari Senin.

“Wilayah kami harus bebas dari tidak hanya senjata nuklir namun juga senjata konvensional,” tambah Rouhani.

Meski begitu Iran dan Turki telah bangkit untuk bersaing menguasai pengaruh atas Timur Tengah, terutama di Irak dan Suriah, serta di Asia Tengah dan Kaukasus. Bahkan di wilayah-wilayah di mana mereka memiliki kecenderungan untuk bekerja sama, seperti dalam perjuangan melawan separatisme Kursi, mereka seringkali saling menjatuhkan.

Baik Turki dan Iran menghadapi ancaman dari pemberontak Kurdi yang ingin memisahkan diri dan memiliki negara sendiri. Namun bukannya bekerja sama, masing-masing pemerintahan justru telah memberikan dukungan pada pemberontak di wilayah masing-masing selama bertahun-tahun.

Leave a Reply
<Modest Style