Modest Style

Indonesia Keluarkan Fatwa Lindungi Satwa Liar

,

Fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia menyatakan perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka di negara tersebut “tidak etis, tidak bermoral, dan dosa’. AFP Photo / WWF

Fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia menyatakan perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka di negara tersebut “tidak etis, tidak bermoral, dan dosa’. AFP Photo / WWF

JAKARTA, 5 Maret 2014 (AFP) – Badan keagamaan Islam terbesar Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang melarang perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka di negara tersebut, yang disanjung oleh World Wildlife Fund (WWF) sebagai yang pertama di dunia.

Fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia tersebut menyatakan bahwa hal-hal di atas “tidak etis, tidak bermoral, dan dosa”, pejabat majelis Asrorun Ni’am Sholeh menyampaikan pada AFP.

“Tindakan apapun yang menyebabkan kepunahan satwa liar tanpa landasan keagamaan maupun ketentuan hukum yang jelas adalah haram. Hal ini termasuk perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka,” ujar Asrorun, sekretaris komisi fatwa MUI.

“Siapapun yang mengambil satu nyawa membunuh satu generasi. Hal ini tidak terbatas pada manusia namun juga termasuk makhluk ciptaan Tuhan lainnya, terutama jika mereka mati sia-sia.”

Masih belum ada kejelasan apakah fatwa tersebut akan memiliki dampak praktis. Kekayaan dan keunikan satwa liar Indonesia sedang berada dalam tekanan kian besar yang diakibatkan oleh pembangunan, penebangan, dan ekspansi pertanian. Pemerintah biasanya tidak merespon pengeluaran fatwa dengan menetapkan perubahan peraturan yang spesifik.

Meski begitu, seorang pejabat Kementerian Kehutanan yang meminta namanya dirahasiakan mengatakan pada AFP bahwa pihak kementerian dan majelis ulama akan memberikan pengumuman gabungan mengenai fatwa yang ada pada 12 Maret, tanpa memperjelas isi pengumuman tersebut.

WWF menyebut fatwa yang dikeluarkan satu-satunya di dunia, dan menyatakan penggunaan agama untuk perlindungan satwa liar “merupakan kemajuan yang positif”.

“Fatwa ini memberikan aspek keagamaan dan meningkatkan kesadaran moral yang akan membantu kami dalam usaha melindungi dan menjaga satwa liar yang tersisa di negara ini seperti harimau dan badak yang terancam punah,” ujar direktur komunikasi WWF Indonesia Nyoman Iswara Yoga.

Fatwa yang dikeluarkan merupakan hasil dari dialog berbulan-bulan yang berlangsung antara para pejabat pemerintahan, aktivis lingkungan hidup, dan pemegang kepentingan lainnya, lanjut Asrorun.

Menyadari fatwa tersebut tidak mengikat secara hukum, ia menyatakan bahwa “hal ini mengikat secara agama”, serta menambahkan bahwa fatwa ini telah berlaku sejak 22 Januari lalu namun baru diumumkan pada Selasa lalu.

Fatwa ini menekan pemerintah untuk secara efektif mengawasi usaha perlindungan ekologis, meninjau perizinan yang diberikan kepada perusahaan yang disebut membahayakan lingkungan, dan menyeret para penebang ilegal dan pedagang satwa liar ke meja hukum.

Perambahan hutan Indonesia, yang seringkali ilegal, untuk pencarian kayu, minyak, sawit, atau pendirian lahan perkebunan lainnya mengancam keberadaan spesies satwa yang terancam punah seperti harimau Sumatera, orang utan, dan gajah Sumatera.

Di bawah hukum Indonesia, perdagangan satwa dilindungi terancam hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Leave a Reply
<Modest Style