Modest Style

Impian Bloger Menjadi Nyata

,

Dalam artikel pertamanya sebagai kolumnis Aquila Style, Ameera Al Hakawati, penulis novel Desperate in Dubai, mengajak kita mengikuti petualangannya dari seorang bloger tak dikenal menjadi penulis yang telah merajai daftar penjualan terlaris di Uni Emirat Arab (UEA) selama lebih dari satu tahun.

Impian Bloger Menjadi Nyata_Aquila Style
Desperate in Dubai terpajang di Virgin Megastores Dubai

Saya selalu ingin menulis sebuah buku. Sejak bisa merangkai kalimat di atas selembar kertas (biasanya di kertas dinding), saya sudah menulis cerita. Saya bahkan mempelajari penulisan kreatif di universitas, yakin bahwa suatu hari nanti saya akan menulis buku yang akan mengubah dunia – atau paling tidak dunia seseorang.

Seiring bertambahnya usia dan masa-masa akhir perkuliahan, saya duduk di belakang komputer di sebuah perusahaan penerbitan dan saya berkata pada diri sendiri: ‘Sekaranglah waktunya. Ini adalah kesempatan terbaik. Saya menulis untuk majalah lokal terkenal. Saya dibayar untuk menulis. Jadi bagaimana kalau saya tidak pernah menulis sebuah buku yang bagus? Paling tidak saya menulis. Paling tidak saya menikmati apa yang saya lakukan. Paling tidak saya punya karier yang berarti.’

Pada awalnya pekerjaan menulis itu membuat saya puas, tapi makin lama berada di Dubai dan makin banyak perempuan hebat yang saya temui setiap hari, saya makin menyadari bahwa cerita mereka sama sekali tidak boleh diabaikan.

Desperate in Dubai, gubahan ode saya untuk Dubai dan beragam perempuan yang tinggal di sini, pada mulanya adalah blog, blog yang sederhana. Kemampuan HTML saya buruk sekali, tapi saya tahu sedikit tentang Blogger jadi saya membuat sebuah page dan mulai menulis. Saya sudah punya empat karakter di kepala saya (berdasarkan orang-orang yang saya temui/kenal), juga sekilas ide cerita tentang mereka. Cuma itu.

Tinggal di sebuah negara di mana penyensoran masih menjadi norma, saya juga memahami bahwa saya harus berhati-hati menuliskan tentang budaya UEA

Mengunggah bab pertama ke dalam blog saya membuat sangat gelisah. Saya akan mengizinkan orang lain untuk membaca sesuatu yang sebelumnya personal – kata-kata saya. Oke, saya memang sudah pernah menulis untuk majalah, tapi itu berbeda – tulisan itu berdasarkan fakta murni dan benar-benar nyata. Sementara ini adalah fiksi (meski berdasarkan pada kejadian nyata). Ini adalah tentang kreativitas saya, imajinasi saya, dan kemampuan saya untuk menyampaikan sebuah cerita, membangun karakter, dan membuat pembaca saya merasakan sesuatu, apa pun itu.

Saya tidak sama sekali tidak berharap akan ada yang membaca blog tersebut. Bagaimana mungkin mereka tahu tentang itu? Apalagi ini sebelum ada Twitter, di tahun 2009.

Saya memutuskan untuk tetap anonim, utamanya karena hal itu akan membuat saya lebih bebas. Sebagai seorang perempuan muslim, saya yakin akan menerima kecaman untuk beberapa topik kontroversial yang rencananya akan saya gali. Saya tidak ingin terkungkung oleh ketakutan, terbatasi oleh norma-norma budaya. Saya ingin menulis tanpa menjadi khawatir tentang apa yang keluarga dan teman-teman saya akan pikirkan. Tinggal di sebuah negara di mana penyensoran masih menjadi norma, saya juga memahami bahwa saya harus berhati-hati menuliskan tentang budaya UEA. Keputusan saya untuk mempertahankan anonimitas saya ternyata adalah langkah bijak saat blog saya diblokir oleh salah satu penyedia telekomunikasi untuk sesaat. Saya pasti sudah membuat murka seseorang!

Orang-orang mulai membaca blog saya. Mereka bukan hanya suka, tapi mereka mau lebih lagi. Setiap hari saya menerima email dari pembaca yang ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Saya membuat page di Facebook. Saya mulai mempromosikan buku saya dalam forum blogging/menulis/budaya untuk menarik lebih banyak pembaca, dan semakin banyak pembaca karya saya, semakin terinspirasi saya untuk melanjutkan menulis. Meski saya ingin berhenti, saya tidak sanggup. Rasanya saya seperti memiliki kewajiban moral untuk melanjutkan.

Sekitar enam bulan setelah memulai blog, saya menerima email dari seorang perempuan yang mengaku dirinya seorang editor penyeleksi naskah di Random House. Seorang temannya mengikuti blog saya dan merekomendasikan untuk membacanya. Sesaat jantung saya berhenti. Lalu, setelah darah kembali terpompa ke seluruh tubuh, saya meyakinkan diri bahwa seseorang sedang mengerjai saya.

Dengan sebuah keajaiban yang janggal – mungkin planet-planet sedang berada dalam satu garis lurus; mungkin sebuah kombinasi dari keberuntungan yang baik dan waktu yang tepat; mungkin Tuhan sedang memandang saya dengan murah hati – email itu ternyata nyata. Editor itu juga nyata. Dan dia ingin mengubah blog saya menjadi sebuah buku. Buku yang nyata, dengan sampulnya, dengan uraian promosinya, halamannya, halaman persembahannya yang sentimentil, semuanya.

Tentu saja, dalam hidup tak ada yang berjalan mulus tanpa kendala, begitu bukan? Butuh waktu satu tahun bagi saya untuk menulis setengah dari buku dan sekarang tiba-tiba saya diharapkan menyelesaikan dan mengeditnya dalam waktu kurang dari enam bulan. Bagaimana saya harus melakukannya jika saya punya pekerjaan purnawaktu, belum lagi saya baru saja mendapat suami? Saya coba menulis di waktu senggang tapi otak saya rasanya sudah terbakar setelah bekerja seharian penuh. Minggu demi minggu berlalu tanpa kemajuan. Saya hampir merasa bahwa mimpi seumur hidup saya terlepas dari genggaman.

Tenggat waktu itu menggantung dikepala seperti sebilah pisau guillotine

Itulah saat di mana saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya. Saya tahu saya tidak akan pernah memaafkan diri sendiri jika membiarkan kesempatan ini berlalu. Saya kemudian menghabiskan dua bulan berikutnya untuk menulis sepanjang waktu di sela-sela melahap episode tayangan Vampire Diaries. Saya menulis, tidur, menulis lagi, mengedit, mengubah plot cerita, membuang karakter. Saya merasa seperti kekurangan waktu dan takut jika menjadi terburu-buru, tapi saya tak punya pilihan kecuali menulis sebanyak mungkin kata-kata. Saya berkewajiban secara kontrak untuk menyelesaikan buku itu tepat waktu. Tenggat waktu itu menggantung di kepala seperti sebilah pisau guillotine.

Dengan bantuan suami dan teman-teman, akhirnya saya berhasil. Saya menyerahkan: 500 halaman tulisan tentang kehidupan, cinta, persahabatan, keluarga, agama, rasa bersalah, budaya, aib dan – tentu saja – fashion.

Hari di mana buku itu dirilis terasa manis-getir: manis untuk alasan yang sudah jelas, tapi getir karena nama asli saya tidak tercantum di sampul buku. Tidak ada peluncuran buku, tidak ada acara penandatanganan, tidak ada tur, tidak ada wawancara TV. Hanya sedikit orang yang tahu saya menulis buku itu, dan mereka yang tahu memberi saya ucapan penghargaan. Tentu saja, saya tahu apa yang sudah saya raih dan saya bangga kepada diri sendiri lebih dari sebelumnya.

Sebelum saya punya kesempatan untuk mencecap kenyataan bahwa saya resmi menjadi penulis buku, Desperate in Dubai disingkirkan dari rak penjualan oleh Kementerian ‘urusan sesuatu’ UAE (pihak penyensoran). Kekecewaan mendalam atas semua kerja keras, malam-malam tanpa tidur dan melepaskan pekerjaan yang jadi sia-sia, sungguh terasa menyedihkan. Bagian terburuknya, tak satu pun tahu kenapa, atau bagaimana mengatasinya.

Berkat anugerah Tuhan, pencekalan itu dihapuskan beberapa hari kemudian. Saya masih tidak paham kenapa begitu. Buku itu meroket menjadi nomor 1 dalam daftar penjualan terbaik UEA, yang berlangsung selama berbulan-bulan, sebelum kemudian diambil alih sementara oleh 50 Shades. Saat ini posisinya berpindah-pindah seputar top 5, bergantian antara posisi pertama, kedua dan ketiga tergantung dari apa yang menjadi minat di bulan itu.

Sudah mencapai satu tahun setengah sejak Desperate in Dubai menguasai rak penjualan. Saya tahu seolah-olah ini saya dapatkan dengan mudah, dan mungkin beberapa hal memang demikian. Tapi kalau menengok perjalanan saya ke belakang, saya sadar bahwa ternyata itu membutuhkan perjuangan bertahun-tahun. Saya sudah menulis cerita sejak saya kanak-kanak; karier saya semuanya di bidang penulisan (saya bahkan mendapatkan gelar untuk itu); saya membaca buku yang sudah tak terhitung jumlahnya. Saya menghabiskan waktu dan upaya untuk membuat sebuah blog dan memikirkan sebuah cerita dan karakter, dan saya habiskan jam demi jam mengukir setiap kata.

Meski begitu, ada satu hal lain yang membantu: Internet. Kita tak perlu lagi menjalani cara tradisional untuk menerbitkan karya kita. Kita tak perlu berburu penerbit dan agen dengan salinan manuskrip. Yang dibutuhkan adalah gairah untuk menulis, sebuah cerita yang bagus, karakter-karakter menarik dan sebuah komputer.

Leave a Reply
<Modest Style