Modest Style

Idola Arab dari Palestina Memukau Eropa

,
Penyanyi Palestina Mohammed Assaf, pemenang kompetisi-bakat Arab Idol dari Gaza, sebuah simbol yang tak umum dari persatuan Palestina, unjuk kebolehan di atas panggung selama konser pertama di luar wilayah Arab pada tanggal 29 September 2013, di Den Haag, Belanda. Foto AFP / Charles Onians
Penyanyi Palestina Mohammed Assaf, pemenang kompetisi-bakat Arab Idol dari Gaza, sebuah simbol yang tak umum dari persatuan Palestina, unjuk kebolehan di atas panggung selama konser pertama di luar wilayah Arab pada tanggal 29 September 2013, di Den Haag, Belanda. Foto AFP / Charles Onians

DEN HAAG, 29 September 2013. Oleh Charles ONIANS (AFP) – Pemenang kompetisi-bakat Arab Idol dari Gaza, Mohammed Assaf, membawa serta irama Palestina-nya yang berdentum keluar dari Timur Tengah untuk pertama kalinya pada hari Minggu pada penampilan perdana di Eropa yang atraktif.

Mohammed Assaf, 24 tahun, menjadi seorang pahlawan nasional dan sebuah ikon langka dari persatuan Palestina saat ia memenangi kontes yang meliputi seluruh wilayah Arab di bulan Juni setelah memukau jutaan pemirsa TV dengan performanya yang membahana membawakan lagu-lagu balada cinta Arab dan lagu kepahlawanan Palestina.

Penonton yang memenuhi aula kota Den Haag membahana saat Assaf menaiki pentas, baik para pengungsi maupun diplomat semua menari-nari di lorong aula dan mengibar-ngibarkan bendera Palestina dan bendera-bendera negara Arab lainnya.

‘Ia adalah panutan bagi pemuda Arab, ia mampu mengejar impiannya menjadi nyata meskipun tidak mudah,’ ujar Ahmed, seorang warga Palestina berusia 17 tahun yang menetap di Belanda.

‘Yang menakjubkan adalah seorang Palestina bisa menjadi bahan pembicaraan positif oleh khalayak. Itu jarang terjadi,’ ujarnya.

Warga Palestina dari Belanda juga Jerman dan Belgia berangkat menghadiri konser tersebut, yang juga dihadiri oleh kebanyakan duta besar Arab yang bertugas di Den Haag.

‘Saya turut bersuka-cita untuknya. Kenyataannya banyak orang kadang segan untuk membicarakan tentang Palestina dengan pandangan positif,’ kata Nur, 20, seorang warga Belanda keturunan Maroko yang datang ke konser bersama saudara perempuannya Sarah, 19.

‘Terima kasih kepada Belanda yang telah menyambut Arab Idol,’ ujar duta besar Palestina Nabil Abuznaid saat memperkenalkan Assaf, menyambut ‘pesan perdamaian’ yang diembannya.

Israel pada bulan Agustus mengambil langkah besar dengan mengizinkan Assaf berpindah dari Jalur Gaza menuju Tepi Barat yang diokupasi Israel sebagai bentuk ‘sikap kemanusiaan’.

Israel telah memberlakukan blokade darat, laut dan udara di wilayah Gaza semenjak tahun 2006 yang kemudian diperketat saat pergerakan Islamis Hamas merebut kekuasaan di sana pada tahun berikutnya.

‘Saya ingin merengkuh dunia’

‘Saya bahagia, ini adalah kesempatan tampil di depan para penonton non-Arab, dan itu adalah hal yang baik.’ Assaf menyampaikan kepada AFP dalam sebuah interview sebelum konser. ‘Saya ingin merengkuh dunia.’

‘Mungkin di luar sana karakter penontonnya berbeda-beda, atau ada teknik yang berbeda di Timur Tengah dan di Eropa serta Amerika, namun yang pahami, musik adalah sesuatu yang saat pertama kali orang mendengarnya, mereka akan jatuh hati.’

Assaf tiba di Belanda dari tempat tinggal barunya di Dubai dan menghadiri makan malam bersama para duta besar Arab di hari Sabtu petang, demikian disampaikan juru bicara dari delegasi Palestina di Belanda, Roel Raterink, kepada AFP.

Assaf mengatakan bahwa kini ia tinggal di Dubai ‘karena kondisi yang terjadi di negara saya’.

‘Disebabkan adanya blokade, maka lebih mudah bagi saya untuk menetap di Dubai, membuat bepergian menjadi lebih mudah karena saya memiliki jadwal konser di negara-negara Arab dan Eropa, dan di Amerika setelah bulan depan.’

Tak ada perwakilan diplomat Israel yang akan hadir. Presiden Israel Shimon Peres sedang berkunjung ke Amsterdam pada saat yang bersamaan, kata kedutaan besar Israel.

‘Ya, mereka hadir atau tidak, itu urusan mereka,’ ujar Ahmed yang murah senyum.

‘Ini malam yang luar biasa, dengan atau tanpa mereka.’

Assaf, mantan penyanyi di ajang pernikahan ini juga direncanakan bertemu dengan komunitas Palestina di Belanda sebelum beranjak menuju Italia untuk konser Eropa berikutnya, ujar Raterink.

Lahir dari orangtua Palestina di Misrata, Libia, Assaf tumbuh di kamp pengungsian Khan Yunis yang penuh sesak di sebelah selatan Gaza sebelum memenangi kontes Arab Idol tahun 2013 di Beirut pada bulan Juni.

Kemenangannya membangkitkan luapan kegembiraan di seluruh wilayah Palestina.

Seminggu setelah kemenangannya, Assaf tampil di depan sekitar 40.000 pengagumnya di kota Tepi Barat Ramallah.

Penonton kontes di Beirut terkesima dengan kisah Assaf yang harus menyelinap keluar dari Gaza, dan hampir saja kehilangan kesempatan audisi awalnya di Kairo, dan baru berhasil setelah rekannya warga Gaza membantunya keluar.

Warga Palestina tetap tercerai-berai antara gerakan Islamis Hamas yang memerintah Jalur Gaza dan rivalnya Fatah yang mendominasi Tepi Barat di mana Pemerintahan Palestina berbasis.

Sepulangnya ke Gaza di bulan Juni, Assaf menyerukan dihentikannya ‘pemisahan’ wilayah Tepi Barat, dan mengimbau persatuan antarwarga Palestina.

Leave a Reply
<Modest Style