Modest Style

Yang dibenci dan dicinta dari Jakarta

,

Hal-hal ini sering dikeluhkan warga Jakarta, namun juga — sadar atau tidak — didukung keberadaannya. Oleh Beta Nisa.

2401 WP Jakarta (iStock)
Gambar: iStock

Macet, banjir, dan polusi adalah beberapa keluhan umum yang kita sering dengar dari warga Jakarta. Apabila dikumpulkan, bisa jadi keluhan seputar berbagai aspek kehidupan di Jakarta dapat menjadi sebuah buku. Namun, ibarat pepatah “lain di mulut, lain di hati”, ada beberapa hal yang sering dikeluhkan namun tetap memiliki ruang tersendiri di hati warga Jakarta:

1. Ojek

“Ojek di daerah Sudirman dan Kuningan sangat mahal, sangat tidak wajar untuk jarak yang dekat!”

Keluhan ini terdengar familiar? Ya, ojek di area perkantoran memang sering mematok harga yang lumayan tinggi dibandingkan dengan jarak tempuhnya. Ditambah pula dengan cara mengemudi abang ojek yang terkesan berbahaya karena menyalip ke sana dan kemari.

Namun, dibalik keluhan-keluhan akan ojek, tetap saja ojek menjadi pilihan nomor satu di kala macet melanda. Di saat jalanan Jakarta macet tidak bergerak, ojek biasanya menjadi tumpuan harapan kita untuk tiba di tujuan tepat waktu – tak peduli harga yang ditawarkan. Di penghujung hari, tak jarang akhirnya kita menghela napas lega dan berujar, “Beruntung ada ojek tadi.”

2. Mal

Pembangunan mal yang menjamur memungkinkan warga Jakarta menjumpai lebih dari satu mal hanya dalam jarak beberapa ratus meter. Berbagai kritikan pun muncul, termasuk atas macet yang disebabkan oleh pintu keluar masuk mal.

Namun, pada kenyataannya, seringkali saat seorang warga Jakarta ditanya, “Mau ke mana akhir pekan ini?” Jawaban yang umum diberikan adalah “ke mal”.

3. Angkot

Suka berhenti mendadak di tengah jalan, itulah angkot. Sudah menjadi pengetahuan umum bagi warga Jakarta bahwa angkot adalah salah satu penyebab kemacetan di ibu kota. Sifat pengemudinya yang sering sesuka hati mengangkut dan menurunkan penumpang acapkali menguji kesabaran para pengguna jalan dan sering menjadi bahan kritikan masyarakat umum.

Lalu, apa yang terjadi saat diri kita sendiri yang menaiki angkot? Saat angkot melewati tempat pemberhentian yang kita inginkan, kita pun mengharapkan angkot berhenti saat itu juga agar kita tidak harus berjalan terlalu jauh. Hasilnya? Angkot pun berhenti mendadak dan menyebabkan macet. Jadi seharusnya penumpang angkot pun bertanggungjawab dalam memperhatikan tata tertib berlalu lintas, bukan hanya pengemudinya. Setuju?

4. Pedagang kaki lima

Penertiban pedagang kaki lima dilakukan bukan tanpa alasan. Dengan menggunakan trotoar sebagai lapak dagangannya, pedagang kaki lima seringkali dikeluhkan keberadaannya karena tidak hanya mengambil hak pejalan kaki, tapi juga turut menambah kesemrawutan Jakarta.

Akan tetapi, kita pun tentunya pernah ambil bagian dalam menikmati manfaat hadirnya. Terkadang, saat ingin menikmati hangatnya gorengan, kita malah mencari-cari kehadiran mereka.

5. “Uang damai”

Tentu tidak ada yang suka diberhentikan oleh polisi dan ditilang, terlebih dimintai “uang damai”. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan sering mendapat cibiran, bahkan video yang menyentil permasalahan ini sudah banyak beredar di berbagai jejaring sosial.

Namun, saat dihadapkan pada pilihan sidang atau “uang damai”, seringkali pilihan kedua cenderung diambil oleh korban tilang karena prosesnya yang cepat dan instan.

6. Kereta komuter

Bagi pengguna setia commuterline atau kereta komuter, pasti sudah sangat hafal dengan keadaan gerbong kereta saat jam sibuk, misalnya saat jam pulang kantor: Berdesak-desakan dan super padat oleh orang-orang yang berebut mendapatkan tempat duduk. Tidak mengherankan, kereta komuter sering menerima berbagai keluhan melalui berbagai jejaring sosial seperti twitter.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa warga Jakarta dan sekitarnya tetap membutuhkan commuterline. Selain murah, ia juga menyediakan layanan transportasi yang relatif cepat karena tidak terhambat kemacetan Jakarta. Semoga armada kereta komuter terus ditambah dan diperbaiki ya!

Leave a Reply
<Modest Style