Sifat-sifat buruk orang Indonesia dalam Quran

,

Sebagai bangsa, seberapa dekat atau jauh kita dari Al-Quran? Khairina Nasution mengupas sekelumit jawabannya.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Hari-hari sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden 2014 kemarin adalah hari-hari yang sangat menguras batin dan emosi saya. Pertarungan dua pasangan calon presiden yang sengit seolah membelah bangsa Indonesia menjadi dua.

Belum lama berselang, salah seorang teman saya yang merupakan pendukung fanatik salah satu calon presiden menyerang saya lewat sebuah pesan di akun Facebook saya. Padahal, kami sudah berteman cukup lama dan saya tidak pernah menulis status bernada menyerang calon presiden yang dia dukung. Dia menyerang  saya hanya semata-mata karena saya berbeda pilihan dengan dia.

Kejadian tersebut, dan beberapa insiden kurang menyenangkan lain yang juga terkait pilpres, membuat saya berpikir soal beberapa kebiasaan buruk bangsa saya. Seringkali kita menampilkan dan membanggakan diri ke bangsa-bangsa lain di luar negeri sebagai masyarakat yang santun dan ramah. Namun dalam pemilu kemarin, nyata terlihat banyak warga Indonesia yang  melanggar norma kesantunan.

Pada dasarnya, setiap bangsa memiliki karakter-karakter baik dan buruk yang mengalir di masyarakatnya. Ada baiknya kita mengambil hikmah dari pemilu kemarin serta beragam peristiwa yang menerpa negeri ini dengan berintrospeksi dan menelaah: Sudahkah kita menjadi bangsa yang dapat dibanggakan karena luhur budi? Sifat-sifat buruk apa dari masyarakat kita yang harus kita waspadai dan minimalisir?

Jurnalis dan penulis Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia” yang terbit sekitar tahun 1977-1978 mencatat bahwa ada dua belas sifat negatif manusia Indonesia. Empat di antaranya yang menjadi catatan saya adalah berjiwa feodal, watak yang lemah, tidak hemat dan masih percaya takhayul.

1. Watak yang lemah

Dalam hari-hari sebelum dan sesudah pilpres, saya melihat banyak permusuhan terjadi. Seakan-akan orang yang berbeda pendapat harus dimusuhi.

Padahal, dalam Quran Allah SWT menyebutkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran danpermusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (16: 90)

Mereka yang berwatak lemah melihat perbedaan sebagai ancaman. Sementara mereka yang berwatak kuat melihat perbedaan sebagai salah satu bentuk pelajaran dari Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta penuh dengan warna-warni yang berbeda.

2. Berjiwa feodal

Meski Indonesia telah merdeka, namun budaya feodalisme sepertinya telanjur mengakar di dalam bangsa ini. Salah satu contohnya, banyak dari kita yang memandang manusia dari status, pangkat, kedudukan atau penampilan seseorang – bukan dari kecakapan, prestasi atau akhlaknya. Dalam sebuah organisasi, misalnya, secara otomatis seseorang yang dipandang sebagai pejabat – atau malahan istri pejabat – menjadi ketuanya. Hal ini membuat banyak orang yang berkompeten di negara ini kekurangan ruang untuk berkiprah. Tidak heran banyak cendekia dan orang-orang berprestasi Indonesia lebih memilih untuk tinggal di negara lain.

Padahal, dalam Surat Al Hujurat Allah berfirman “…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (49:13)

3. Tidak hemat

Meskipun Indonesia belum termasuk dalam negara maju dan berpendapatan tinggi, bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang konsumtif. Seorang teman bahkan pernah berkisah, di butik-butik ternama di negara Eropa malahan ada penjaga toko yang bisa berbahasa Indonesia karena banyaknya pembeli mereka yang berasal dari Indonesia.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan berbelanja barang-barang merek ternama. Apalagi, jika seseorang memiliki kemampuan untuk itu. Namun kita selayaknya juga mengingat betapa banyaknya orang-orang kurang beruntung yang ada di sekitar kita. Sikap boros dan menghambur-hamburkan uang bukan saja memicu kesenjangan sosial, tetapi juga tidak disukai Allah.

Dalam surat Al Isra disebutkan, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.(17:26)

Ayat berikutnya memberi penekanan,”Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya”. (17:27)

4. Masih percaya takhayul

Sampai sekarang, masih banyak manusia Indonesia yang percaya akan kekuatan benda-benda keramat seperti sesajen, jimat, dan lain sebagainya. Di lingkungan perkotaan, tak jarang pula kita temukan orang-orang yang percaya pada ramalan zodiak, kartu dan paranormal.

Padahal, Al Quran banyak sekali menyebut soal ini. Salah satunya seperti tercantum dalam Surat Al Jin: “Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (72: 26-27).

Allah SWT adalah sebaik-baik penolong dan penggenggam masa depan. Sebagai orang yang beriman, selayaknya kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah saja.

Meski tidak mudah untuk menyadari keburukan dan kelemahan diri sendiri, apalagi mengakuinya, kita perlu melakukan langkah-langkah semacam ini untuk mawas diri. Semoga dengan upaya terus menerus untuk memperbaiki diri, bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan patut diteladani di masa depan.

Leave a Reply
Aquila Klasik