Modest Style

Pilih mana: Facebook, Twitter, atau Path?

,

Plus minus tiga media sosial paling populer di Indonesia. Oleh Miranti Cahyaningtyas.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Beberapa tahun belakangan bangsa Indonesia dikenal karena partisipasi tinggi kita di media sosial. Indonesia adalah salah satu negara penyumbang pengguna Facebook terbesar di dunia, salah satu negara penyumbang pengguna Twitter terbesar di dunia, dan juga satu-satunya negara tempat aplikasi media sosial Path memiliki pasar yang signifikan.

Karena pesatnya perkembangan media sosial di negeri ini, Facebook sudah memiliki kantor perwakilan di Indonesia dan Twitter segera menyusul. Sementara itu, sebagian besar saham Path kini sudah dibeli oleh salah satu pengusaha-politisi ternama Indonesia. Meledaknya popularitas ponsel pintar tentu berperan besar dalam pencapaian prestasi ini.

Apakah Anda menggunakan salah satu – atau bahkan semua – media sosial tersebut? Mari kita bahas nilai plus dan minus versi bergerak ketiganya:

Facebook

Plus

  • Bisa menuliskan gagasan dan pendapat sepanjang mungkin, dan mengikuti perkembangan alur pendapat pembaca setelahnya di kolom komentar. Hampir-hampir seperti mengelola blog, hanya saja dengan fitur lebih lengkap.
  • Pengaturan foto ke dalam album, aktivitas ke dalam tahun, dan lain sebagainya memudahkan pencarian di kemudian hari.
  • Pengaturan privasi yang lebih beragam membuat pengguna bisa menentukan dengan spesifik dengan siapa ingin berbagi informasi. Misalnya, pengguna tetap bisa berteman dengan orang-orang di masa lalunya, meski dalam beberapa posting hanya ingin berbagi dengan teman kerja saat ini.

Minus

  • Karena terlalu populer, kadang kita merasa ‘terpaksa’ berteman dengan seseorang yang sebenarnya tidak terlalu dekat hanya karena tekanan sosial.
  • Undangan mengikuti permainan online yang seakan tidak ada habisnya.
  • Terlalu banyak iklan mengganggu yang muncul secara otomatis hanya karena pengguna pernah membuka tautan ke iklan lain dengan tema serupa.

Twitter

Plus

  • Akses lebih mudah dan cepat karena aplikasi ringan serta data yang harus dimuat tidak sekompleks dua media lainnya.
  • Antarmuka (interface) yang sederhana, hanya berisi pesan-pesan pendek.
  • Menghubungkan pengguna di seluruh dunia dengan lebih baik dengan penggunaan tagar yang membuat pencarian lebih efektif

Minus

  • Batas 140 karakter memaksa pengguna untuk belajar menyampaikan pendapat dengan bahasa yang lebih lugas, sekaligus lebih rawan salah paham.
  • Mudah kehilangan jejak cuitan yang telah dikirimkan setelah sekian lama.
  • Pengaturan privasi terbatas: hanya tersedia umum atau pribadi. Anda hanya dapat memilih dua opsi: ingin dunia atau teman-teman Anda bisa membaca cuit Anda secara bebas, atau tidak sama sekali.

Path

Plus

  • Satu aplikasi untuk beragam aktivitas: foto makanan, foto perjalanan, video pertunjukan, check-in lokasi, bahkan hingga tidur dan bangun tidur
  • Memungkinkan berbagi aktivitas langsung ke berbagai media sosial yang terhubung dengan mencentang ikon media sosial yang telah Anda daftarkan di Path.
  • Privasi yang (seolah) lebih tinggi untuk bersuara, berpendapat, dan berekspresi dengan 150 teman saja.

Minus

  • Sebagian saham dimiliki oleh tokoh politisi kontroversial yang menjadi satu-satunya alasan saya tidak lagi menggunakan aplikasi ini. Padahal, meski jadi bahan tertawaan di luar negeri, aplikasi ini cukup asyik digunakan.
  • Banyak pengguna yang sepertinya tidak paham hal-hal apa yang boleh dibagikan, mana yang tidak. Rasanya tidak perlu berbagi setiap momen kehidupan setiap jam dan setiap menit seperti “Bangun tidur dan tiba di kantor”.
  • Privasi dan rasa aman di aplikasi ini hanya ilusi. Betapapun terbatasnya jumlah teman yang bisa dimiliki pengguna, tidak ada jaminan bahwa salah satu teman tersebut tidak akan membagikan posting pribadi Anda ke khalayak yang lebih luas.

Media sosial yang mana favorit Anda? Mengapa?

Leave a Reply
<Modest Style