Modest Style

Merangkul Para Mualaf

,

Bulan suci adalah waktu yang sangat tepat untuk menyadari pentingnya menyambut saudara-saudari kita yang baru masuk Islam. YazTheSpaz berbagi pengalaman ibunya saat menjadi seorang muslim.

[Not a valid template]

Satu topik yang sangat berkesan di hati saya adalah tentang para mualaf. Mereka cukup istimewa dan dekat di hati saya karena ibu saya kebetulan salah satunya. Alhamdulillah, ia masuk Islam 37 tahun yang lalu dan tidak pernah menyesalinya hingga saat ini.

Satu hal yang ia bagi dan selalu saya ingat adalah, ketika hidup kita tujukan untuk benar-benar tunduk kepada Allah, transisi untuk diterima dalam lingkungan masyarakat Islam bisa menimbulkan kesepian yang sangat. Saya akan berbagi tentang perjalanannya.

Ketika ibu saya masih SMA, ia sangat mencintai agamanya sampai-sampai ia ingin menjadi seorang biarawati di gereja Katolik. Orangtuanya yang kelahiran Kuba dan beragama Katolik Roma tidak senang dengan keputusannya untuk menjadi seorang biarawati. Mereka ingin ibu saya berkeluarga – terutama-mempunyai anak. Biarawati mengabdikan hidup mereka kepada Tuhan dan tak boleh menikah. Ibu mulai mempertanyakan banyak dogma iman. Akhirnya, Ibu terpicu untuk meninggalkan gereja Katolik dan mencari agama yang dapat memuaskan pencariannya. Pada akhir dekade 70-an, saat usianya masih awal dua puluhan, Ibu bertemu dengan teman-teman dari sebuah universitas yang menghadiahinya Qur’an. Begitu ia membuka dan membacanya, Ibu tidak bisa kembali ke kehidupan sebelumnya. Hidup menjadi begitu berarti dan mendalami Islam menjadi satu-satunya pilihan untuknya dalam menjalani kehidupan.

Adalah kewajiban muslim untuk merangkul para mualaf dan mempermudah transisi dalam hidup yang telah mereka pilih.

Secara bertahap, Ibu mengubah cara berpikirnya, berpakaian, dan berinteraksi dengan orang lain ia melakoni itu semua sambil tetap menjalani kehidupan di antara masyarakat Barat dan bekerja di perusahaan Amerika. Salah satu kegelisahannya saat itu adalah ketika mengunjungi masjid, dia tidak pernah disambut seperti yang dia harapkan. Dia selalu dianggap orang asing. Orang-orang di mesjid selalu bertanya –  tanya dari mana asalnya, siapa dia, dan mengapa dia ada di sana. Perilaku ini membuat ibu sedih, sampai dia sadar bahwa keindahan Islam tidak ada hubungannya dengan perilaku para pengikutnya. Ibu akhirnya memutuskan sebagai pihak yang mengawali perkenalan dan bukan sebaliknya. Langkah ini cukup sukses dan persahabatan pun mulai terbentuk.

Setelah bertahun-tahun, Ibu kini  cukup dikenal dan dicintai di masjid-masjid yang berada di lingkungan kami. Tetapi bagi banyak mualaf, pengalaman yang sulit seperti ini bisa berdampak dramatis dalam hidup mereka, sehingga mereka dapat saja kembali ke keyakinan mereka sebelumnya, atau meninggalkan cara hidup Islam sepenuhnya. Mereka mungkin tidak memiliki ketegasan dan tekad seperti yang dimiliki Ibu saat menjadi mualaf.

Alasan saya untuk berbagi cerita ini adalah untuk membuat pembaca menyadari bahwa transisi dari gaya hidup Barat ke cara hidup Islam sangat sulit. Adalah tugas kita sebagai muslim untuk mendukung, mendorong, merangkul, dan membina orang-orang hebat ini dan membantu mereka menjalani kehidupan yang telah ditetapkan Allah bagi kita.

Ketika saya mengajak teman-teman yang tertarik kepada Islam ke masjid, mereka kadang-kadang mendapat kritikan tajam, terutama dari para wanita yang lebih tua, tentang hal-hal sederhana seperti cat kuku, beberapa helai rambut yang menyembul, atau pakaian yang terlalu ketat. Padahal, hal-hal seperti ini akan berubah dengan sendirinya seiring dengan tumbuhnya keimanan mereka. Jangan mengecilkan hati mereka di hari pertama mereka masuk masjid. Sudah menjadi kewajiban muslim untuk merangkul para mualaf dan mempermudah transisi dalam hidup yang telah mereka pilih.

Setiap masjid harus memiliki badan ‘Bimbingan Mualaf’ untuk membantu mualaf dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka miliki, bimbingan yang mereka butuhkan, dan motivasi yang mereka inginkan dari saudara-saudara baru seiman.

Ibu saya selalu mengatakan, “Ketika aku menemukan Islam, aku menemukan kebebasan dari belenggu masyarakat yang mencuci otak kita untuk menerima keinginan mereka. Aku belajar untuk mencintai diri sendiri, percaya pada diri sendiri, dan untuk berdiri teguh pada dasar bahwa nilai-nilai moral, iman, dan cinta keluarga adalah kunci sukses dalam kehidupan.”

Allah akan memberkati setiap orang yang memudahkan jalan bagi saudara-saudara mereka dalam Islam. Selalu ingat: mualaf adalah saudara dan saudari kita juga. Jangan menghakimi mereka. Allah adalah hakim kita satu-satunya.

Leave a Reply
<Modest Style