Modest Style

Menjadi sahabat di dunia dan akhirat

,

Persahabatan dapat melengkapi atau merusak seseorang, dan Islam dapat menuntun kita dalam memilih sahabat sejati dan menjadi sosok sahabat sejati bagi orang lain. Oleh Elsa Febiola Aryanti.

Gambar: iStock
Gambar: iStock

Dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang yang bergaul dengan orang yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekadar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kami akan mendapatkan bau yang tidak sedap.”[i]

Islam mendorong kita untuk mengelilingi diri kita dengan teman-teman yang baik yang dengannya kita meraih rahmat Allah. Sahabat memiliki pengaruh besar dalam hidup kita, dan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama cenderung berkumpul bersama. Orang-orang yang kita pilih sebagai orang terdekat bisa membantu kita dalam jalan Allah, atau menarik kita menjauhinya. Sahabat dapat menuntun kita menjauh dari dosa, atau mengabaikan saja saat kita melakukan dosa. Mereka dapat membantu kita memperbaiki kesalahan, atau mengesampingkan kekeliruan kita. Sahabat sejati adalah ia yang membantu kita menjadi orang yang lebih baik.

Banyak hadits yang menjabarkan bagaimana dua orang, baik pria maupun wanita, yang saling mengasihi karena Allah dijanjikan tempat tertinggi di surga. Dengan kata lain, “bff (best friends forever alias sahabat untuk selamanya)” merupakan istilah yang telah ada dalam Islam lebih dari 1.400 tahun.

Ayat Qur’an di bawah ini mengingatkan kita untuk bersikap sangat berhat-hati dalam memilih teman (Al-Furqan 27-29):

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’”

Persahabatan dalam Islam dibangun di atas keinginan untuk saling memberi, untuk berbahagia untuk sesama, untuk menjadi pelindung sesama, dan untuk menjadi rekan mengarungi jalan Allah. Nabi Muhammad SAW diriwayatkan bersabda, “Orang-orang mukmin adalah seperti sebuah tubuh. Jika kepalanya sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit beserta demam dan sulit tidur. ”[ii]

Jadi apa itu teman baik menurut Islam? Islam mendorong kasih sayang terhadap saudara, jadi sahabat Muslim sejati adalah mereka yang tidak mengabaikan sesama, dan yang bertenggang rasa dan saling memaafkan. Seperti yang disebutkan dalam Qur’an (Ali Imran: 134):

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Sifat ceria dan wajah penuh senyum adalah perekat persahabatan. Bahkan senyum adalah amal dalam Islam. Ketulusan memperkuat persahabatan. Teman yang menjaga kita agar tetap berada dalam jalan yang benar adalah teman yang harus dijaga. Bersikap setia dan baik hati, berpikiran baik tentang teman-teman kita dan tidak pernah membicarakan keburukan di belakang temannya adalah kualitas yang terdapat pada teman yang baik.

Seperti halnya kita berdoa untuk diri sendiri, kita juga harus mendoakan teman kita, untuk hidupnya kini dan nanti. Dalam sebuah hadits lainnya, Nabi Muhammad SAW diriwayatkan bersabda. “Doa seorang Muslim untuk saudara (Muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah.”[iii]

Untuk menjadi sahabat sejati yang bersatu untuk menyenangkan Allah sama dengan memiliki persahabatan yang dirahmati-Nya. Lanjutkanlah, teruslah jadi sahabat Muslim yang baik untuk selamanya – tidak hanya di dunia ini, namun hingga di akhirat nanti.

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi Juli 2012.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Abu Musa, dalam Bukhari, dapat dilihat di sini
[ii] Diriwayatkan oleh Bashir, dalam Muslim, dapat dilihat di sini
[iii] Diriwayatkan oleh Abu Darda, dalam Riyadhush Shalihin, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style