Modest Style

Mana yang lebih nyaman: Bandung atau Solo?

,

Khairina Nasution menimbang-nimbang pengalamannya tinggal di dua kota ternyaman di Indonesia.

Jalan Braga di Bandung. Foto: yurian yudanto / Flickr
Jalan Braga di Bandung. Foto: yurian yudanto / Flickr

Saat Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) merilis daftar kota di Indonesia yang dianggap paling nyaman untuk ditinggali, alias Indonesia Most Livable City Index 2014, saya bersorak. Dua kota paling berarti dalam hidup saya masuk dalam daftar kota-kota itu.

Sejak lahir hingga berusia awal 20-an, saya tinggal di Bandung. Setelah itu,saya tinggal berpindah-pindah kota hingga akhirnya menetap di Solo sejak enam tahun yang lalu. Ada kesamaan antara kota Bandung dan kota Solo, karena kedua kota ini terkenal dengan tawaran wisata belanja dan petualangan kulinernya.

Meskipun demikian, kenangan saya akan Bandung dan Solo justru bukan terkait dua hal tersebut, melainkan kenyamanan yang tersedia bagi semua usia dan golongan di kota ini. Di Bandung dan di Solo, saya bisa berjalan kaki dengan nyaman di atas trotoar yang lebar tanpa takut tersenggol motor yang nekat atau mobil yang hendak menyalip.

Saat tinggal di Bandung, saya gemar berjalan kaki sambil menikmati kota yang sejuk dan pepohonan yang rindang. Meski sekarang sebagian besar pepohonan di sana harus dikorbankan untuk pembangunan jalan layang Pasupati, saya masih tetap bisa menikmati sisa-sisa kesejukan Bandung ketika mengitari kota.

Banyaknya ruang terbuka juga bisa dinikmati bagi mereka yang tinggal di Bandung maupun di Solo. Di Bandung, saya senang berjalan kaki di sekitar Taman Lansia dan menikmati udara segar di sana. Terkadang, saya suka duduk-duduk di bangku taman ini sambil membaca buku atau sekedar melepaskan pikiran.

Di sepanjang jalan Slamet Riyadi, jalan utama di kota Solo, juga dilengkapi dengan bangku taman. Pedagang kaki lima disediakan tempat khusus sehingga tidak mengganggu pejalan kaki. Juga tersedia fasilitas wifi gratis sehingga banyak anak muda yang membawa laptop duduk di bangku taman untuk sekadar berselancar di dunia maya.

Banyak sekali taman dengan fasilitas memadai yang bisa dinikmati keluarga di Solo. Saya rutin mengajak anak saya ke Taman Balekambang, Solo. Taman yang dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya (KGPAA) Mangkunegara VII untuk kedua putrinya, Gusti Raden Ayu (GRAy) Partini dan Partinah, itu terbagi menjadi dua bagian, yakni hutan kota dan taman air.

Pengunjung bisa menyaksikan rusa, angsa, dan – belakangan — reptil secara gratis. Taman ini juga menyediakan wifi gratis, arena outbound dan perpustakaan keliling untuk anak-anak.

Di Bandung, taman-taman yang tersedia seringkali bertema unik. Salah satu yang paling menarik adalah Taman Jomblo yang terletak tepat di bawah Jembatan Layang Pasupati. Duduk di Taman Jomblo sambil melepas lelah setelah seharian beraktivitas bisa menjadi pilihan yang menarik.

Satu lagi hal menarik yang tidak bisa saya lupakan dari kedua kota ini adalah bangunan-bangunan bersejarahnya. Saat zaman kuliah dulu, saya senang menyusuri Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga untuk mengagumi kecantikan bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda.

Saya bisa sesaat menikmati sensasi berada di Eropa hanya dengan berjalan-jalan di Jalan Braga sambil mengamati toko-tokonya yang berdesain kuno dengan jendela-jendela yang lebar dan trotoar cantik yang berhiaskan lampu hias. Toko roti langganan saya, yang sudah berdiri sejak 1929, juga ada di Jalan Braga dan masih mempertahankan romantisme suasana masa silam.

Pura Mangkunegaran di Solo. Foto: Jelle Goossens / Flickr
Pura Mangkunegaran di Solo. Foto: Jelle Goossens / Flickr

Di Solo, salah satu kegiatan favorit saya adalah menikmati indahnya Pura Mangkunegaran. Dua kali seminggu, putri saya berlatih menari di salah satu pendopo istana itu. Pura Mangkunegaran adalah kediaman Sri Paduka Mangkunagara yang dibangun setelah tahun 1757. Arsitekturnya cantik; paduan gaya Jawa dan Eropa, lengkap dengan air mancur dan patung. Dengan luas sekitar sepuluh hektar, istana ini kini menjadi obyek wisata dan sering dikunjungi wisatawan asing.

Yang terakhir, selama tinggal di Solo maupun Bandung, saya banyak menggunakan kendaraan umum. Saya suka menumpang Batik Solo Trans yang murah, cepat, aman dan nyaman. Di Bandung, saya dulu juga pencinta angkutan kota, meski menurut sebagian orang, angkot bukanlah kendaraan yang nyaman.

Bagi saya, setiap kota memiliki “rasa” dan ada rasa yang begitu kuat melekat di dua kota ini. Lebih dari 20 tahun tinggal di Bandung dan enam tahun hidup di Solo, rasanya saya amat beruntung bisa menikmati dua kota yang indah ini.

Leave a Reply
<Modest Style