Kidal itu istimewa

,

Haruskah anak kidal dilatih menggunakan tangan kanan? Tanya Khairina Nasution.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Ima, seorang siswi kelas tiga sekolah dasar, tiba-tiba menangis sepulang sekolah. Ibunya, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi, tentu saja kaget. Saat ditanya, rupanya Ima yang kidal itu ingin sekali bisa menaiki sepeda dari sebelah kanan seperti teman-temannya.

Kisah Alfi, seorang siswa taman kanak-kanak di Ciamis lain lagi. Saat ketahuan menulis dengan tangan kiri, dia segera memindahkan pensilnya ke tangan kanan dan memaksakan diri menulis dengan tangan kanan. Saat seseorang memperkenankannya menulis dengan tangan kiri, dia tampak ragu-ragu mengikuti instruksi tersebut.

Besarnya tekanan di masyarakat untuk menggunakan tangan kanan juga membuat seorang ibu mengikat tangan kiri anaknya ke kursi makan agar si anak berlatih makan dengan tangan kanan. Si anak pun menjerit dan berteriak karena merasa tidak nyaman diperlakukan demikian.

Tiga kisah di atas menggambarkan betapa beratnya beban yang ditanggung oleh anak-anak yang kidal alias left handed. Anak-anak itu secara tak sengaja mendapat tekanan karena selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa segala sesuatu hal harus dikerjakan dengan tangan kanan. Tangan kiri seringkali diasosiasikan dengan pekerjaan “kotor” seperti untuk membersihkan tubuh setelah buang air.

Staf pengajar di Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Choiriyah Widyasari M.Psi, mengakui bahwa banyak orang tua anak kidal yang belum memahami keunikan anaknya. Jika tidak disikapi dengan bijaksana dan diiringi pemahaman tentang anak kidal yang lebih baik, maka di kemudian hari kemungkinan akan timbul masalah-masalah pengasuhan pada anak.

Menurut Choiriyah yang akrab disapa Ira, left handed atau kidal adalah keunikan seseorang yang penggunaan tangan atau kaki kirinya lebih aktif dalam melakukan aktifitas sehari-hari dibandingkan dengan tangan atau kaki kanan. Hal ini terjadi karenabelahan otak kanan lebih dominan dibanding belahan otak kiri. Otak kanan berfungsi mengatur tubuh bagian kiri, begitupun sebaliknya otak kiri mengatur tubuh bagian kanan.

Ira berpendapat bahwa anak kidal tidak perlu dipaksa untuk mengubah kebiasaannya. Anak kidal yang dipaksa untuk berubah  kebiasaan agar beraktivitas menggunakan tangan atau kaki kanan bisa saja mengeluhkan sakit kepala atau pusing akibat otak kirinya yang bukan belahan otak dominan dipaksa untuk bekerja, sementara aktivitas otak kanannya dihambat. Hal ini dapat mengakibatkan anak mengalami pusing, hilang konsentrasi, bahkan penurunan kemampuan daya ingat.

Ira tidak memungkiri bahwa ada hadits-hadits yang menganjurkan makan dengan tangan kanan dan melarang makan dengan tangan kiri [i]. Lalu bagaimana dengan anak kidal yang semua aktivitasnya, termasuk makan, menggunakan tangan kiri? Ira berpendapat bahwa khusus untuk kegiatan makan, anak kidal bisa dilatih untuk dibiasakan menggunakan tangan kanan. Namun, anak harus dibiasakan tanpa merasa terpaksa. Anak juga perlu diberi motivasi bahwa makan dengan tangan kanan adalah upaya untuk menjalankan sunnah.

Sedangkan untuk aktivitas-aktivitas yang lain, Ira menyarankan untuk membiarkan anak kidal melakukan aktivitasnya sesuai dengan keunikannya.

Ira berpendapat bahwa Islam adalah ajaran yang penuh kasih sayang dan toleransi. Ajaran Islam tidak mengajarkan bahwa tangan kanan adalah tangan baik, sedangkan tangan kiri adalah tangan jelek. Allah menciptakan baik tangan dan kaki kanan maupun kiri dengan tujuan yang baik; yang berbeda hanyalah penggunaan mereka.

“Yang perlu dipahami oleh orang tua dan guru adalah kesadaran dan penerimaan bahwa anak kidalitu sebuah keunikan, dan bukanlah sebuah gangguaan penyakit ataupun gangguan moral pada anak,” Ira menambahkan..

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Jabir, dalam Sunan Ibn Majah, tersedia di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik