Ketika penghasilan suami lebih kecil

,

Terkadang terdapat kesenjangan pendapatan antara suami dan istri. Bagaimana menyikapi hal ini? Oleh Khairina Nasution.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Salah seorang teman lama sayadatang dengan kabar mengejutkan. Iatelah bercerai dari suami yang telah memberinya satu anak balita. Alasannya, sang suami yang dulu berpenghasilan besar, kehilangan pekerjaan.Teman saya terpaksa menopang hidup keluarga kecilnya. Dia akhirnya tak tahan, lalu memilih pergi membawa serta buah hatinya.

Saya kaget, karena setahu saya dia adalah perempuan tangguh dan pekerja keras. Dia bukan tipe perempuan yang menggantungkan hidup pada orang lain dan semasa kami sering bersama-sama dulu, saya sering mengaguminya.

Masalah keuangan memang seringkali menjadi penyebab utama perceraian. Dalam beberapa kasus, seperti kasus teman saya, hal ini disebabkan karena istri tidak bisa menerima kenyataan bahwa suami mereka berpenghasilan kecil.

Sebagian besar perempuan memang menginginkan laki-laki yang bisa memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya dengan cukup. Ketika istri memiliki pendapatan lebih besar dari suami, cenderung timbul kesenjangan emosional antara suami dan istri. Bahkan, bisa jadi timbul perasaan “tak terlalu membutuhkan” dari sang istri terhadap suami, karena ia sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri dan memiliki tabungan yang cukup untuk menopang kehidupannya seandainya tidak lagi bersama suaminya. Di lain pihak, bisa jadi tumbuh perasaan tak percaya diri pada suami yang memiliki penghasilan lebih kecil.

Padahal dalam ajaran Islam, tidak ada ketentuan bahwa suami harus memiliki pendapatan lebih besar daripada istri. Suami memang wajib menafkahi anak istrinya, namun apabila hasil yang ia peroleh belum optimal, maka suami maupun istri sebaiknya bersabar.

Yang jelas, berapapun penghasilan suami atau istri, suami berkewajiban untuk membimbing keluarganya di jalan yang lurus, seperti yang tertulis dalam surat An-Nisa,”Kaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (4:34)

Pasangan yang menghadapi gap kondisi keuangan semacam ini sebaiknya meningkatkan komunikasi untuk mencegah tumbuhnya perasaan-perasaan buruk di antara mereka. Toh dalam surat Ath-Thalaq Allah berfirman,Orang yang mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kemampuan yang Allah berikan kepadanya. Allah, kelak, akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (65:7)

Komunikasi penting agar suami istri tetap harmonis. Istri tetap harus menghormati suami dan menyemangatinya. Sebaliknya, suami pun harus berusaha memahami beban istri dalam menghadapi aneka dilema rumah tangga sekaligus membantu mencari nafkah bagi keluarga.

Yang harus diingat adalah anak-anak membutuhkan suri tauladan dari kedua orang tuanya. Alangkah baiknya jika anak-anak dapat meneladani bagaimana orang tua mereka saling menghormati dan menyelesaikan masalah rumah tangga, ketimbang menyaksikan perpisahan orang tuanya – terlebih bila perpisahan tersebut lebih dilandasi alasan yang bersifat materi.

Baca juga: Kisah keluarga kami mengatasi krisis keuangan

Leave a Reply
Aquila Klasik