Modest Style

Jika ditanya, “Kapan menikah?”

,

Najwa Abdullah berbagi pengalaman dan caranya menanggapi pertanyaan yang tidak nyaman ini.

WP kapan menikah (Fotolia)
Gambar: Fotolia

Lebaran baru saja berlalu. Ketupat dan opor ayam tidak lagi menghiasi meja makan, aroma kue nastar dan kastengel telah menguap dan sanak saudara telah berpencar kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Namun, ada satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang di banyak telinga para pria dan perempuan lajang: “Kapan menikah?”

Tentu saja, karena pertanyaan ini sering sekali ditanyakan setiap kali bersalaman dan bercengkerama dengan teman-teman serta sanak saudara saat Lebaran.

Usaha mengantisipasi pertanyaan ini terkadang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum Lebaran datang. Mulai dari mempersiapkan jawaban dan alasan berkelit hingga rencana dalam hati membuat kaos bertulisan “jangan tanya kapan menikah” sebagai lelucon.

Masyarakat Indonesia memang suka mempertanyakan hal-hal semacam ini walaupun di satu sisi memahami bahwa pertanyaan tersebut sering membuat orang tidak nyaman.

Pertanyaan saya, sebenarnya adakah hal yang perlu dikhawatirkan mengenai status lajang seseorang?

Terutama bagi kaum perempuan, hal ini sepertinya lebih dari sekedar perkara pribadi namun juga menyangkut nama baik orang tua, keluarga dan bahkan komunitas. Konstruksi sosial yang terbentuk dalam masyarakat Indonesia umumnya adalah jika perempuan belum menikah hingga usia lebih dari 25 tahun, mereka berarti tidak diinginkan laki-laki. Singkatnya, dicap ‘tidak laku’.

Seolah-olah masyarakat kurang peduli mengenai pekerjaan si perempuan, rencana studinya atau hal-hal lain dalam hidupnya, karena menikah adalah pencapaian terbesar dalam hidup seorang perempuan dan sebelum hal ini tercapai, masyarakat selalu melihat ada yang kurang dalam diri perempuan tersebut.

Di usia saya yang ke 24 ini, saya pun sempat merasa gundah karena jawaban saya atas pertanyaan di atas tidak kunjung jelas. Tekanan pun terasa lebih berat untuk saya karena sebagai perempuan keturunan Arab, anggapan ideal bagi saya adalah menikah pada usia 20 tahun dan menimang anak pada usia saya sekarang.

Namun, saya sangat beruntung memiliki seorang ibu yang selalu mendukung saya untuk meraih cita-cita dan mengejar pendidikan tinggi terlebih dahulu sebelum menikah. Beliau berujar, “Memangnya kamu mengira menikah itu selalu enak dan menjadi solusi dari semua masalahmu saat ini? Pernikahan dan membentuk keluarga adalah hal terberat dalam hidup.”

Terkadang perkataan ibu ini hanya sebatas angin lalu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa perkataan ibu saya benar adanya. Saya mulai mencermati kondisi pernikahan rekan-rekan dan saudara saya, dan yang saya lihat pernikahan yang selama ini digambarkan sebagai jawaban atas semua kegalauan kaum lajang ternyata cukup berbeda dengan apa yang dibayangkan.

Dalam pernikahan saya melihat tanggung jawab yang begitu besar serta kerja keras hari demi hari, seumur hidup.

Betapa pernikahan tidak sesederhana menjawab pertanyaan “kapan menikah?”.

Kondisi lajang merupakan masa-masa ringan dan bebas dalam hidup serta merupakan saat yang paling tepat untuk mengembangkan diri. Beruntunglah orang-orang yang masih lajang, karena dunia lebih leluasa mereka jelajah dibandingkan jika status KTP mereka berubah menjadi “menikah”.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa menikah itu buruk – sama sekali tidak. Menikah dan membentuk keluarga adalah salah satu hal paling membahagiakan di dunia. Namun, perlu diingat bahwa ada berbagai konsekuensi yang tidak ringan juga dalam suatu pernikahan.

Sebenarnya, sering kali saat ditanya “kapan menikah?” kita lebih khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita dibandingkan dengan keinginan diri sendiri. Lain kali, jika seseorang melontarkan pertanyaan tersebut, tanggapilah dengan santai dan senyum, karena sesungguhnya yang lebih patut dipertanyakan adalah “Apakah Anda sudah siap untuk menjalani pernikahan?”

Leave a Reply
<Modest Style