Modest Style

Jangan sampai ‘kecolongan’ memilih buku anak

,

Gempar seputar buku terbitan Elex Media minggu lalu mengajarkan kita untuk berhati-hati memilih buku anak.

Oleh Khairina Nasution.

WP buku anak (Fotolia)
Gambar: Fotolia

Kebanyakan orang tua yang ingin anaknya mencintai buku biasanya membebaskan anak membaca buku apa pun yang disukainya. Tapi sesungguhnya, anak juga perlu diberi batasan dalam membaca, sebab sering kali buku yang sekilas nampaknya diperuntukkan untuk anak-anak bisa saja mengandung konten yang kurang layak baginya.

Salah satu contoh adalah kasus buku Why: Puberty dan My Wondering Body terbitan Elex Media Komputindo yang baru-baru ini banyak dibahas karena dianggap melegalkan hubungan sesama jenis. Buku Why: Puberty memang akhirnya ditarik dari peredaran, namun buku itu sempat bercokol cukup lama di toko-toko buku dan tentunya sempat dibaca oleh cukup banyak anak-anak.

Agar tidak ‘kecolongan’, orang tua sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut dalam memilihkan buku bagi anak:

1. Pilih buku sesuai dengan usia anak

Beragam jenis buku tersedia di perpustakaan dan toko buku. Pilihlah yang sesuai usia anak, baik dari sisi bentuk buku maupun isinya. Untuk bayi berusia 6-12 bulan, misalnya, pilih buku bertekstur lembut – misalnya berbahan kain – dan tidak mengandung zat pewarna berbahaya. Buku untuk mereka juga sebaiknya berisi gambar-gambar yang dilihat anak sehari-hari dengan warna cerah, serta harus mudah digenggam.

Untuk anak usia 1-2 tahun, pilihkan board books (buku bersampul dan halaman keras) yang berisi berbagai kegiatan sehari-hari anak. Isi buku sebaiknya berbahasa sederhana, misalnya berupa kata-kata atau cerita yang singkat.

Anak berusia 2-3 tahun sudah bisa dipilihkan board books dan buku dari kertas. Isinya bisa lebih beragam, mulai dari cerita seputar keluarga, hobi, binatang peliharaan, dan lain-lain. Anak usia ini sudah bisa mencerna cerita yang agak panjang, dan akan menikmati cerita dengan kata-kata sederhana yang berima dan lucu.

Balita berusia 3-5 tahun biasanya mulai tertarik dengan buku yang berisi tentang cerita singkat seputar sekolah, kegiatan sehari-hari, persahabatan, dan sebagainya.

Untuk anak usia di atas 5 tahun, isi buku bisa lebih kompleks; tidak hanya berkisar tentang kegiatan sehari-hari dan lingkungan terdekat. Pilih buku yang mengandung unsur pendidikan dan merangsang imajinasinya.

2. Baca dulu sebelum diberikan kepada anak

Orang tua terkadang lupa mencermati isi buku. Hanya karena buku itu berbentuk komik dengan desain menarik, orang tua sering mengira buku itu sudah aman untuk dibaca anak-anak. Padahal, sering kali isi buku tidak sesuai dengan sampul buku atau gambarnya. Juga, jangan terkecoh dengan buku impor. Meski buku impor biasanya bergambar menarik dengan label yang menyatakan peruntukkan usia yang jelas, isi dalam buku itu kadang-kadang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

3. Ajak anak berdiskusi soal isi buku

Usai membaca, biasakan mengajak anak berdiskusi soal buku yang telah ia baca. Siapkan diri menerima pertanyaan-pertanyaan kritis anak yang sering kali tak terduga. Jika tidak tahu jawabannya, orang tua harus mencari tahu agar anak tidak merasa penasaran. Kalau perlu, libatkan anak dalam mencari jawaban dari pertanyaannya.

4. Cermati juga dunia maya

Tak hanya buku yang berbentuk fisik, orang tua juga perlu mencermati gencarnya informasi di dunia maya karena anak-anak sering kali justru terpapar informasi dari Internet. Situs-situs di Internet atau media sosial yang dikunjungi anak harus dimonitor dan disaring agar anak mendapat informasi sesuai usia dan pertumbuhan mental serta spiritualnya.

Leave a Reply
<Modest Style