Jangan menghakimi “jilboobs”

,

Seorang Muslimah berbagi pandangan mengenai isu terkait hijab dan perempuan yang sedang ramai dibicarakan. Oleh Khairina Nasution.

WP jilboobs

Saya sebelumnya sama sekali belum pernah mendengar istilah “jilboobs”, hingga seorang teman saya membagi tautan mengenai hal ini di laman Facebook-nya.

Gue malah enggak konsen baca artikelnya, tapi fokus liat gambarnya. Astaghfirullah. Mandi air dingin ah,” tulis teman saya, seorang pria berusia tiga puluhan.

Komentar itu menggugah rasa ingin tahu saya. Betapa kagetnya saya saat melihat berbagai akun bertajuk “jilboobs” di Facebook dan Twitter. Hampir seluruhnya menampilkan foto seronok perempuan berjilbab yangmengenakan baju dan celana atau rok yang sangat ketat dengan pose yang menggoda.

Komentar-komentar pedas di laman itu pun membuat kuping terasa panas. Banyak komentar yang terkesan memojokkan, bahkan menghina para perempuan tersebut. Mereka dianggap sekadar mencari sensasi dan tak tahu diri. Lucunya, sebagian besar komentar datang dari kaum pria yang, kendati mencemooh, sesungguhnya mungkin “menikmati” tampilan di layar mereka. Kurang lebih sama seperti teman saya yang pertama membagi tautan itu.

comments_jilboobs edit

Bagi saya, istilah “jilboobs” sendiri terasa sangat merendahkan. Kata jilbab rasanya tidak pantas disandingkan dengan boobs, yang berarti buah dada. Saya sedih, karena bagi saya hinaan yang datang kepada perempuan Muslim yang masih berusaha memperbaiki keimanannya sama dengan menghina saya sebagai sesama perempuan Muslim, serta agama saya.

Sebagai perempuan yang masih terus berusaha memperbaiki cara berbusana agar sesuai syariah Islam, saya tahu betapa sulitnya saat memutuskan untuk memulai berjilbab. Kesulitan yang utama saya rasakan bukanlah rasa gerah atau repot mengenakan baju serba panjang dan penutup kepala, namun sulitnya mengendalikan diri dari rasa ingin “tampil” dan “dilihat” oleh banyak orang.

Perempuan, entah tua atau muda, berjilbab atau tidak, punya sifat dasar untuk tampil cantik. Itu sebabnya mengapa beragam gaya busana dan kosmetika diciptakan untuk menyulap kaum perempuan agar selalu tampil menawan di berbagai kesempatan. Industri kecantikan yang muncul setiap saat di televisi, majalah, surat kabar dan media sosial begitu melenakan.

Hasrat untuk tampil menarik dan “dilihat” itu tetap besar pada sebagian perempuan kendati panggilan untuk menutup aurat telah datang. Banyak perempuan yang meski telah berkerudung tetap berusaha agar ia tampil menarik.

Sebenarnya tampil menarik tidak masalah asal sesuai dengan kaidah kesantunan dalam Islam. Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nuur ayat 31 adalah rujukan utama tentang kaidah berbusana santun.Sementara itu, Imam besar Masjid Istiqlal Musthofa Ali Yakub menambahkan pandangannya tentang cara berjilbab yang benar dengan singkatan 4T: tempat tutup aurat [yang tepat], tidak transparan, tidak tembus pandang, dan tidak menyerupai lawan jenis [i].

Kendati pun demikian, banyak perempuan muslimah yang belum mengetahui atau belum memahami kaidah-kaidah ini. Saat mereka mulai tahu dan paham, sebagian dari mereka perlahan mencoba berpakaian dengan lebih santun, mulai dari menutupi kepala meski pakaian masih ketat atau membenahi pakaian meski tingkah laku belum dibenahi. Namun kemudian muncul berbagai istilah bernada menghina untuk mereka yang masih belajar ini: jilboobs, jilbab gaul, jilbab lemper, dan sebagainya.

Padahal, sangat mungkin apa yang mereka kenakan dan lakukan sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Perlu proses dan pelan-pelan sampai saya akhirnya paham,” seorang teman saya yang kini berhijab sempurna berbagi pengalamannya.

Proses itu perlu dihargai dari setiap individu. Kita perlu menghilangkan istilah jilboobs, jilbab gaul, dan lainnya yang terkesan melecehkan. Seiring dengan itu, edukasi terus menerus soal berhijab yang baik dan benar perlu terus dilakukan. Kalau perlu, libatkan juga figur publik atau tokoh panutan masyarakat. Hal ini juga menjadi tantangan terus menerus bagi industri fesyen untuk menciptakan busana muslimah santun sekaligus modis.

Yang terakhir dan terpenting, jangan jauhi apalagi cemooh perempuan yang hijabnya belum sempurna di mata kita. Sebaliknya, kita harus mendekati dan merangkul mereka. Sikap santun dan penuh kasih niscaya akan membuat kita semua sama-sama berubah menjadi individu-individu yang lebih baik.
________________________________________

[i] “Soal ‘Jilboobs’ yang Ramai Digunjingkan, Imam Masjid Istiqlal: Jilbab itu 4T”, Detik.com, 7 Agustus 2014, Tersedia di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik