Hati-hati hoax!

,

Bagaimana cara memilah antara berita dan hoax? Oleh Khairina Nasution.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Tiba-tiba saja, semua orang seolah tahu semua hal. Ibu-ibu, penulis, mahasiswa, pengangguran, remaja, tua, muda, siapa saja kini bisa bercerita lewat media sosial meski tak tahu pasti kebenaran suatu berita.

Seorang penulis yang mendadak terkenal setelah masa pemilihan presiden, misalnya, seringkali menulis hal-hal kontroversial dalam tulisan di akun Facebook maupun Twitternya. Tulisan-tulisan itu kerap di-like dan dibagi oleh ribuan orang seketika, tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu atas hal-hal yang ia tulis.

Yang lebih memprihatinkan lagi, kini banyak beredar situs-situs berita yang gemar memuat informasi secara sepotong-sepotong, informasi yang tidak akurat dan informasi yang tidak berimbang. Situs-situs ini juga kerap memelintir komentar atau potongan informasi serta menambahkan “bumbu” di sana-sini sebelum mengunggahnya di dunia maya.

Masyarakat mempercayai situs-situs berita ini karena mereka menganggap mereka adalah sumber informasi yang kredibel. Padahal dengan menyuguhkan informasi semacam ini, seringkali secara tak sadar masyarakat telah “dicuci otak”. Para wartawan yang melakukan praktik-praktik semacam itu sebenarnya telah mengkhianati prinsip-prinsip dasar jurnalisme sehingga mereka bahkan tak pantas disebut wartawan.

Kewajiban pertama dan utama dalam jurnalisme adalah menyampaikan kebenaran. Oleh karenanya, tugas terpenting seorang jurnalis adalah disiplin verifikasi atau pengecekan ulang informasi. Contoh hal-hal yang dilakukan dalam verifikasi adalah tidak menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada serta menyuguhkan informasi dengan berimbang.

Prinsip disiplin verifikasi ini sejalan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, dianjurkan sikap tabayyun dalam menyikapi informasi, yang berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.

Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al Hujurat menyebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (49:6). Dalam hadits juga diriwayatkan bahwa seseorang yang menyampaikan segala sesuatu yang ia dengar sama saja dengan berbohong [i].

Memilah dan menyikapi informasi dengan bijak

Itu sebabnya, saya memilih menyaring informasi yang saya terima dengan seksama dan tidak mempercayai semua kabar begitu saja. Saya juga menolak mempercayai berita atau kabar yang tidak didapat dari sumber-sumber yang terpercaya, misalnya tayangan langsung televisi yang tidak bisa direkayasa atau surat yang saya lihat dengan utuh isinya.

Media yang memberitakan sebuah peristiwa atau cerita juga tak luput dari pengamatan saya dalam upaya menyaring informasi. Biasanya, saya mencari tahu siapa yang berada di balik media itu dan apa motifnya memberitakan suatu peristiwa. Ini penting karena banyak informasi cenderung diberitakan agar sesuai dengan cara pandang media tersebut.

Saya juga mencermati siapa orang yang berbicara atau menulis suatu berita. Saya menolak mempercayai orang yang suka mengumbar fitnah dan mewaspadai orang-orang yang senang berbicara tanpa ilmu. Seperti yang diperintahkan dalam Surat Al Isra “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (17:36)

Saat saya menyebarkan suatu informasi, saya juga menerapkan prinsip kehati-hatian. Sejujurnya, apabila terkait informasi, saya lebih mempercayai apa yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan sendiri. Saya juga tidak berani menyebarkan informasi pribadi soal orang lain meskipun itu kabar baik, kecuali diizinkan oleh yang bersangkutan.

Kehati-hatian dan ketelitian dalam memilah informasi sangat berguna agar masyarakat tidak terjerumus dalam adu domba, hasut, dan dengki satu sama lain. Masyarakat yang cerdas tidak akan membiarkan informasi “sampah” mempengaruhi kehidupannya.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Muhammad bin ul-Muthannā dalam Sahih Muslim, tersedia di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik