Generasi masa kini, generasi tak peduli?

,

Generasi muda sekarang kerap dinilai kurang peka dan abai terhadap sekelilingnya. Mengapa demikian? Oleh KhairinaNasution.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Bus kota yang saya tumpangi penuh sesak. Tak ada tempat lagi untuk penumpang baru. Namun, kernet bus setengah memaksa menaikkan dua orang perempuan tua ke dalam bus. Bawaan mereka menyita tempat: buntalan kain berisi bunga tabur, dan keranjang.

Dua perempuan itu berdiri di dekat pintu, sesekali mencoba membenarkan posisi berdiri agar tak terhempas. Penumpang lain tak ada yang peduli, termasuk lelaki-lelaki muda yang memilih tetap duduk. Beberapa bahkan tertidur atau pura-pura tidur.

Anak-anak muda itu seperti lupa akar budaya Indonesia, yakni toleransi, keramahan, saling menghargai, dan tolong menolong. Mereka acuh dan abai terhadap warga lanjut usia yang hak-haknya semestinya diperhatikan.

Di lain waktu, salah satu teman saya, Dian, merasa sakit hati saat disapa hanya dengan nama oleh rekannya yang usianya jauh lebih muda. Sebagai perempuan Jawa, Dian merasa risih jika tidak dipanggil dengan sapaan “mbak” atau “ibu” oleh yang lebih muda. Bagi Dian, dipanggil dengan kata sapa melekat pada namanya adalah bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.

“Saya bukannyagila hormat atau bagaimana. Saya juga paham mungkin itu biasa buat anak muda. Hanya saja, rasanya tidak enak dipanggil hanya nama,” kata Dian.

Seperti Dian, rekan-rekan saya yang kini berusia 30 atau 40-an banyak yang mengeluhkan tingkah generasi yang lebih muda yang dianggap kurang sopan. Anak-anak sekarang – begitu istilah mereka – cenderung lebih cuek, abai, tidak peduli, dan kurang peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Sikap ini berbeda dengan sikap generasi yang berusia jauh lebih tua di atas saya, yang merasa penghormatan terhadap orang lebih tua adalah nyaris segalanya.

Banyak orang menilai, kurangnya kepedulian generasi sekarang terhadap sekitar adalah karena kurangnya pendidikan karakter, baik di rumah maupun di sekolah. Kurikulum di sekolah terfokus pada pelajaran semata, tak memperhitungkan aspek-aspek lain seperti keluhuran budi. Sementara di rumah, banyak orang tua yang sibuk tak menyempatkan diri mendidik anak-anaknya.

Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi,orang tua masa kini cenderung sibukbekerja di luar rumahsementaraanak-anak dititipkan kepada pengasuh di rumah. Akibatnya, anak-anak kehilangan pegangan, tak ada tempat bertanya, tak ada yang mengajari dan menasihati jika salah, hingga akhirnya mereka menyibukkan diri dengan gadget, televisi, atau games yang tak semuanya memberi pengaruh baik.

Saat pulang, dalam kondisi letih, orang tua cenderung tak bisa optimal menemani anak. Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada anak biasanya adalah tentang pelajaran di sekolah dan nilai yang didapat. Seringkali nasihat dan masukan soal tingkah laku, kepekaan, kepedulian terhadap sesama, dan sebagainya menjadi terlewatkan. Padahal, hal-hal semacam itu sebenarnya bisa diajarkan lewat cara-cara sederhana, misalnya lewat dongeng atau dengan bermain bersama.

Dalam keadaan letih, orang tua juga lebih mudah emosi. Mereka dengan mudah menghukum anak jika perilaku atau pencapaian anak tak sesuai harapan orang tua.

Menurut mantan Rektor Universitas Islam Indonesia Edy Suandi Hamid, pendidikan karakter di Indonesia yang ditanamkan sejak bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dapat dikatakan kurang berhasil.

“Pendidikan karakter di negeri ini baru sebatas diaplikasikan sebagai transfer ilmu tentang karakter, belum menyentuh pada aspek perilaku. Hal lain yang patut disayangkan, baik orang tua maupun pejabat negeri cenderung tidak dapat menunjukkan teladan perilaku,” katanya seperti ditulis Republika.

Pakar pendidikankarakter Dr. Ratna Megawangi, seperti ditulis dalam situs indonesiasetara.org mengatakan, paksaan ataupun hukuman tidak efektif untuk membentuk karakter pada anak. Jika orang tua atau pengontrol dari luar tidak ada, anak akan cenderung melanggar aturan yang ada. Sebaliknya kesadaran diri mampu mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak baik, walau tidak ada yang mengawasinya.

Ratna Megawangi mengajarkan bahwa mendidik karakter pada anak bisa dilakukan setiap saat dalam berbagai kejadian. Karakter seseorang lebih mudah dibentuk saat masih anak-anak. Kegagalan pembentukan karakter baik pada anak menyebabkan ia tumbuh menjadi pribadi yang sulit di masa remaja dan dewasa. Ia bisa menjadi manusia yang abai, tak acuh, tak peka, berbohong, dan memiliki beragam karakter buruk lainnya.

Baca juga:Perempuan hamil ‘merepotkan’?

Leave a Reply
Aquila Klasik