Modest Style

Editorial The Jakarta Post ‘menampar’ saya

,

Dukungan terbuka surat kabar ini terhadap Jokowi membuka mata saya. Tulis Miranti Cahyaningtyas.

0703 WP Editorial (iStock)
Gambar: iStock

Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik mengatakan bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.[i]

Dan pasal di atas pulalah yang selama ini telah dijunjung tinggi oleh harian berbahasa Inggris beroplah terbesar di Indonesia,The Jakarta Post. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah 31 tahun berdirinya The Jakarta Post, harian tersebut memberi pernyataan terbuka mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Joko Widodo-Jusuf Kalla, melalui editorial yang diterbitkan secara online pada hari Jumat, 4 Juli 2014.[ii]

Entah bagaimana dengan Anda, namun saya pribadi merasa terkejut menemukan catatan editorial tersebut.

Terlepas dari maraknya pemberitaan media di Indonesia yang belakangan bersikap seakan-akan lupa pada kewajiban untuk bersikap netral dan menyamapaikan berita secara apa adanya pada pembaca, saya tidak menyangka bahwa harian sekelas The Jakarta Post akan melakukan langkah ini.

Jelas sekali, ini bukanlah keputusan yang dibuat dengan mudah. Pasti telah ada diskusi dan tukar pikiran panjang sebelum akhirnya editorial tersebut hadir ke hadapan masyarakat. The Jakarta Post peduli akan masa depan dan kemaslahatan warga dan negara republik Indonesia hingga akhirnya memberanikan diri mengambil langkah ini.

Dalam editorial ini terpapar bagaimana orang-orang di balik harian ini tidak ingin rakyat Indonesia terjebak dalam keadaan menyedihkan karena apatisme, skeptisisme, maupun sekadar ketidak tahuan:

There is no such thing as being neutral when the stakes are so high. While endeavoring as best we can to remain objective in our news reporting, our journalism has always stood on the belief of the right moral ground when grave choices must be made… Russia faced such a choice in 1996, during a runoff between independent incumbent Boris Yeltsin against Gennady Zyuganov representing the old-guard Communist Party. It was a moral choice for hope versus remnants of the past. They chose hope.

(“Tidak ada yang namanya netral saat harga yang dipertaruhkan begitu tinggi. Meski berusaha sebaik mungkin untuk tetap bersikap objektif dalam pelaporan berita, jurnalisme kami selalu menjunjung kepercayaan atas pijakan moral yang benar saat pilihan genting harus dibuat… Rusia menghadapi keadaan yang sama pada tahun 1996, saat harus memilih antara Boris Yeltsin lawan Gennady Zyuganov yang mewakili Partai Komunis. Itu adalah pilihan moral antara harapan dan sisa-sisa masa lalu. Mereka memilih harapan.”)

Pemilu kali ini bukan Pemilu lima tahunan biasa. Kali ini Indonesia hanya memiliki dua calon. Keduanya memiliki sejarah tersendiri. Yang satu sejarah kelam hilangnya manusia, yang satu sejarah gemilang pencapaian kepemimpinan yang merakyat. Pilihan yang dimiliki rakyat Indonesia hampir tidak pernah “sejelas” ini.

Keterkejutan saya mungkin juga adalah perwujudan rasa tertampar atas sikap yang selama ini saya ambil: sebisa mungkin menyembunyikan pilihan – lebih tepatnya kecenderungan – saya karena meyakini bahwa politik adalah urusan pribadi, dan pilihan pemilu itu bersifat luber jurdil: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Namun, mungkin saya belum bersikap adil terhadap orang-orang masih bingung tanpa keistimewaan akses informasi semudah yang saya miliki.

Maka maafkan saya karena hanya diam-diam mengkhawatirkan suara pengikut fanatik suatu partai agama. Maka maafkan saya karena bersikap seakan tidak khawatir akan banyaknya orang yang masih terperangkap tipuan karisma dan nostalgia sosok berseragam yang membela kemuliaan bangsa. Maka maafkan saya karena ingin menjaga hubungan baik dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan berusaha tidak menyuarakan pendapat saya.

The Jakarta Post membuat keputusan berdasarkan nilai pluralisme, hak azasi manusia, kemanusiaan yang beradab, dan reformasi. Bagaimana dengan Anda?

________________________________________

[i] Sanksi untuk Media yang Tak Netral dalam Pemberitaan Capres. www.hukumonline.com. 25 Juni 2014. Dapat dilihat di sini
[ii] Editorial: Endorsing Jokowi. www.thejakartapost.com. 4 Juli 2014. Dapat dlihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style