Modest Style

Di tengah riuh pilpres, korban perkosaan di halte TransJakarta menanti vonis sendiri

,

Lagi-lagi, seorang korban perkosaan dipersalahkan dan tidak menemui keadilan. Selengkapnya oleh Miranti Cahyaningtyas.

Foto arsip: Perempuan Indonesia menggelar protes mengenakan rok mini di bundaran HI pada tanggal 18 September 2011 sambil mengecam pernyataan yang dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menyalahkan pemerkosaan beramai-ramai kepada pilihan pakaian korban. Fauzi Bowo pada 16 September meminta perempuan untuk tidak mengenakan rok mini saat naik angkutan umum di ibukota setelah seorang wanita 27 tahun diserang di sebuah angkutan umum awal bulan ini. AFP Photo / Romeo Gacad

Saat sebagian dari kita sedang membuat pertimbangan terakhir sebelum memutuskan akan mencoblos siapa besok, dan sebagian yang lain sedang khusyuk-khusyuknya beribadah Ramadhan atau menyusun jadwal berbuka bersama, pada pukul satu siang ini seorang wanita berinisial YF akan menghadiri sidang putusan hukuman terhadap tindak kejahatan pemerkosaan yang menimpanya – kemungkinan seorang diri.

YF adalah seorang wanita biasa berdarah Aceh yang bekerja di Jakarta untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia rutin menggunakan layanan TransJakarta untuk bepergian antara rumah dan tempat kerjanya. Meski memiliki semangat hidup dan semangat juang yang tinggi, kondisi fisiknya lemah karena menderita asma sehingga ia acapkali Bukan sekali dua ia merasa lemas dan tiba-tiba tidak sadarkan diri. Namun, ia tidak mau dikalahkan oleh kondisi fisik demi memenuhi kebutuhan orang-orang terkasihnya, terutama sang ibu.

Tanggal 21 Januari 2014 pukul empat sore, saat ibu kota Jakarta sedang dilanda banjir di mana-mana, YF jatuh pingsan di Halte Atrium Senen dan diturunkan oleh petugas TransJakarta di Halte Harmoni untuk diberi pertolongan. Namun, di sana ia justru menjadi korban tindak pelecehan seksual. Tindakan asusila terhadap YF dilakukan di ruang genset halte oleh empat petugas TransJakarta yang berada di sana.

Bagaimana hari-hari YF setelahnya? Ia tetap bekerja demi penghasilan yang memang sangat dibutuhkan, di samping juga mengajukan laporan ke kantor TransJakarta tanpa mendapat tanggapan serius, ke rumah sakit untuk divisum dengan biaya pribadi, ke kantor polisi untuk membuat laporan, menghadiri (atau tidak menghadiri) sidang-sidang sekaligus mengkhawatirkan kemungkinan dikenai sanksi dari tempat kerja karena harus sering-sering izin mengurus kasusnya.

Ia harus melakukan semua itu sendiri. Tanpa dampingan hukum ataupun dampingan sosial. Sementara itu, hubungannya dengan orang-orang terdekat, yang sama-sama tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap kejadian ini, memburuk.

Hingga akhirnya ia bertemu Kartika Jahja yang mulai menggerakkan massa, sedikitnya untuk membuat pengumuman pada jaksa, hakim, dan siapa pun yang memiliki kewenangan dalam ruang sidang dan kasus ini bahwa masyarakat mengawasi mereka. Usaha ini tidak memberi hasil berarti. Bahkan pendamping hukum dari sebuah lembaga bantuan hukum yang membawa surat kuasa dan izin dari ketua pengadilan tidak pernah diperkenankan memasuki ruang sidang. YF pun tidak pernah diberi kesempatan menentukan apakah ia ingin berada di dalam satu ruang dengan pelaku.

“Sebagai seorang muslim kenapa tak mau memaafkan terdakwa? ‘kan agama islam mengajari untuk saling memaafkan?” tanya hakim anggota.

“Sudah tahu gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa tidak ditemani?” tanya pengacara terdakwa.

“Saudari kan orang Aceh. Berarti muslim ya. Apa boleh seorang wanita Muslim pakaiannya seperti itu?” kata pengacara lainnya lagi.

“Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?”

Celana pendek yang dimaksud adalah celana selutut yang dikenakan korban karena Jakarta saat itu sedang banjir di mana-mana.

Di atas hanya beberapa lontaran pertanyaan tanpa simpati yang menusuk hati dan membuat saya geram – saya rasa Anda juga.

Di negara dengan umat Muslim terbesar di dunia, di negara yang memiliki hari khusus untuk memperingati seorang pahlawan wanita, di negara yang pernah memiliki seorang presiden wanita, seorang wanita bernama YF masih mendapat perlakuan seperti itu seakan-akan ia “meminta” diperkosa?

Keempat pelaku dikenai Pasal 290 KUHP tentang pencabulan dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun penjara. Jaksa penuntut, yang memang dirasa tidak kooperatif sejak awal perkara, pada 6 Juli hanya menuntut keempat pelaku dengan hukuman 1,5 tahun penjara. Itu pun sebelum dipotong masa tahanan selama proses persidangan.

Siang ini pukul satu siang tanggal 8 Juli 2014, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan menjatuhkan vonisnya. Hampir tidak mungkin hakim akan memberi hukuman yang lebih berat daripada yang telah dituntut jaksa.

Mari kita berdoa keajaiban terjadi siang ini di ruang pengadilan tersebut.

Penjelasan lebih detil tentang kasus ini dapat dilihat di posting blog Kartika Jahja, Benar Tak Selalu Menang, atau cuitannya.

Leave a Reply
<Modest Style