Andri Rizki Putra: “Kejujuran mengalahkan kepintaran”

,

Andri Rizki Putra memutuskan untuk berhenti sekolah daripada menyontek — dan terus berprestasi gemilang hingga kini. Miranti Cahyaningtyas berbincang dengan pemuda inspiratif ini.

[Not a valid template]

Perkenalkan Andri Rizki Putra, atau akrab disapa Rizki. Pemuda kelahiran Medan, 23 tahun lalu ini adalah seorang sarjana hukum dengan segudang pencapaian dan inovasi.

Hanya satu bulan duduk di bangku SMA formal, Rizki memilih untuk tidak melanjutkan sekolah dan mendidik dirinya sendiri di rumah, mengikuti sebuah metode yang disebutnya sebagai “unschooling”. Meskipun demikian, dengan berbekal Ijazah Kesetaraan Paket C, Rizki mampu menembus seleksi ketat penerimaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia di tahun 2007. Pada tahun 2011, ia lulus dengan predikat Cum Laude.

Berbekal pengalaman pribadinya, pada tahun 2011 Rizki mendirikan sistem yang ia sebut sebagai masjidschooling untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung meraih Ijazah Kesetaraan Paket A, B, dan C. Sesuai namanya, sistem ini merupakan sistem belajar mengajar yang diadakan di masjid, lebih tepatnya di teras Masjid Baiturrahman Bintaro. Selain Rizki sendiri, tenaga pengajar masjidschooling terdiri dari ibu-ibu rumah tangga sekitar lokasi masjid dan mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Universitas Indonesia (UI), serta pelajar dari berbagai SMA dan perguruan tinggi lainnya.

Selanjutnya, pada tahun 2012 Rizki mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) dengan tujuan serupa masjidschooling, tetapi dengan target siswa lebih luas yang mencakup siswa-siswi yang bukan beragama Islam. Kali ini ia dibantu oleh relawan muda berusia 20 hingga 30 tahun dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.[i]

Terima kasih sudah berkenan menyempatkan waktu berbincang dengan kami di sela segudang kesibukan Anda. Akhir pekan begini biasanya dipenuhi kegiatan apa?

Setiap akhir pekan saya biasanya berkunjung ke yayasan (YPAB) untuk mengajar dan menerima para relawan yang ingin berbagi ilmu di sana. Kadang juga suka diselingi kerja sih; pekerjaan kantor yang terkadang suka menumpuk memaksa saya untuk menyelesaikannya di akhir pekan. Selain itu, saya juga teratur bertemu dengan teman-teman, meski tidak sering.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Saya anak tunggal, lahir di Medan dari ayah keturunan Tionghoa dan ibu Batak. Waktu kecil saya termasuk anak yang hiperaktif. Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan broken home. Berat memang, tetapi saya bisa melaluinya (sambil tertawa).

Dari kecil, Ibu saya tidak pernah menyuruh saya belajar. Hubungan ibu-anak kami memang unik. Saya bisa mengungkapkan apapun padanya, meski mungkin menurut orang lain tidak sopan. Ia membebaskan saya memilih apa yang saya suka. Kepercayaan itu membuat saya semakin bertanggung jawab atas segala pilihan hidup yang saya ambil.

Termasuk ketika putus sekolah. Itu murni keputusan saya sendiri. Segala proses belajar pun menjadi urusan saya sendiri tanpa melibatkan Ibu. Saling percaya saja.

Cita-cita, hobi, atau hal-hal apa yang menjadi kepedulian atau ketertarikan utama Anda?

Cita-cita saya pastinya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, tentunya di bidang pendidikan. Lebih khusus lagi, menyediakan wadah pendidikan gratis bagi mereka yang putus sekolah. Kenapa? Karena saya sendiri kan juga putus sekolah. Saya merasakan adanya kewajiban moral untuk berbagi pengalaman menikmati pendidikan tinggi ini kepada yang lain.

Isu pendidikan selalu menjadi kepedulian utama saya. Menurut saya, pengaruh pendidikan bagi seseorang sangatlah besar. Pendidikan bisa mengubah dan membentuk karakter manusia untuk menjadi lebih baik, lebih rasional.

Sedikit cerita. Saya memiliki murid yang sehari-hari menjadi asisten rumah tangga. Kini ia telah lulus Ujian Nasional Paket C (Setara SMA) di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) yang saya kelola. Tahun ini, ia akan berkuliah melalui program Kakak Asuh dari YPAB. Ia berujar “Kak, saya sekarang kesulitan kalau harus berkomunikasi dan bergabung dengan teman-teman saya yang sama-sama asisten rumah tangga. Cara berpikir kami berbeda.”

Inovasi yang Anda lakukan dalam dunia pendidikan begitu luar biasa. Namun saya pribadi sangat tertarik dengan metode unschooling. Bisa cerita lebih jauh tentang itu?

Begini. Unschooling sebenarnya adalah “tidak sekolah” sama sekali. Saya memilih tidak bersekolah karena kepercayaan saya terhadap sekolah formal luntur mengingat praktek menyontek masal yang terjadi di sekolah saya yang notabene sekolah unggulan. Demi mempertahankan akreditasi, sekolah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan reputasi. Buat apa memiliki nama baik yang dibangun atas kebohongan belaka?

Namun saya dianggap aneh. Saya berusaha menentang apa yang terjadi ke pihak sekolah. Pihak sekolah justru menghambat saya. Bahkan ada yang berujar “Ki, kalau kamu tidak bisa mengikuti yang mainstream (menyontek), kamu akan selalu tertinggal dari masyarakat!” Wah, ketika mendengar kata-kata itu, sungguh mental saya “berantakan”. Kepercayaan saya menimba ilmu di sekolah pun lenyap seketika. Berangkat dari situ saya memutuskan berhenti sekolah di jenjang SMA.

Bagaimana dengan penyusunan dan pengumpulan materi metode unschooling?

Seluruh pelajaran saya pelajari secara otodidak. Saya tidak pernah beli buku cetak sama sekali. Gantinya, saya meminjam buku-buku bekas milik saudara, teman dan senior. Semua buku saya terima dan, namanya buku bekas, tentu kurikulumnya pun kurikulum lama. Tidak masalah bagi saya; entah kurikulumnya berganti, buku cetaknya berganti, toh 1 + 1 tetap hasilnya 2 kan di berbagai buku?

Cara belajar saya adalah dengan meringkas. Misalnya Bahasa Inggris atau Matematika. Saya baca secara skimming seluruh buku-buku tersebut mulai dari level 1 sampai 3 SMA, terus saya tandai bagian-bagian mana saja yang relevan untuk Ujian Nasional. Setelah semua terkumpul, saya mengetik materi tersebut satu persatu. Akhirnya, jadilah sebuah ringkasan yang bersumber dari berbagai buku cetak tersebut. Dari buku ringkasan itulah saya belajar. Seluruh dinding kamar saya tempeli materi pelajaran sampai ke pintu-pintu. Jadi setiap bangun pagi, saya selalu sempatkan melihat dinding, kanan kiri isinya materi pelajaran semua.

Setelah itu, saya tetapkan uji coba berkala untuk mengukur kemampuan saya secara mandiri. Saya buat simulasi sendiri dalam mengerjakan uji coba. Semua standar umum saya ikuti dan kerjakan sendiri. Sama seperti di sekolah umumnya, hanya saja dalam kasus saya, saya sendiri yang memonitor perkembangan belajar saya. Saya tidak pernah terpaku dengan kurikulum. Saya bahkan tidak mengerti tujuan berbagai kurikulum itu. Saya hanya belajar sesuai dengan keinginan saya sendiri. Yang penting semua saya lalui dengan jujur dan ikhlas.

Lantas adakah hambatan atau keuntungan tersendiri dari metode unschooling?

Karena saya memilih belajar otodidak, maka hambatannya utamanya adalah “mengalahkan diri sendiri”! Saya harus benar-benar disiplin atas pengaturan waktu belajar dan sistem belajar yang saya buat sendiri. Ibu saya tidak bisa memonitor langsung kegiatan belajar saya, karena beliau harus keluar rumah mencari nafkah, bahkan sampai larut malam. Mau tidak mau, semua harus ditanggung sendiri.

Yang paling sulit ketika saya tidak mengerti materi pelajaran. Konsekuensi belajar otodidak adalah saya sendiri yang harus memecahkan masalah yang ada. Bagaimana saya harus mampu mengerti materi pelajaran. Teman-teman seangkatan saya masih duduk di kelas 1 SMA, sedangkan saya sudah mempelajari materi kelas 3 SMA. Tidak ada teman ataupun guru yang bisa diajak berdiskusi untuk membahas materi tersebut. Hal itu membuat saya sangat tertekan dan depresi. Namun saya ngotot mencari dari buku-buku lainnya atau dengan pendekatan analogi atau komparasi. Tuhan Maha Baik, setelah sekeras mungkin mempelajarinya, semua materi bisa saya pahami kok secara otodidak.

Keuntungannya, saya jadi lebih kritis. Sangat kritis bahkan. Karena saya terus meringkas buku, maka saya bisa mengukur kualitas suatu buku dan materi yang dirangkum di dalamnya. Saya tidak mau menerima isi konten buku begitu saja tanpa saya berusaha mencari tahu lebih lanjut kebenaran teori dan praktiknya. Makanya dalam rangkuman tersebut, saya juga menambahkan opini-opini pribadi saya atas suatu materi yang dituangkan.

Dukungan apa saja yang Anda terima?

Ibu saya jadi bulan-bulanan keluarga dan tetangga pastinya. Masa anak tunggal dibiarkan putus sekolah dan belajar sendiri? Apalagi saya akan mengikuti Ujian Nasional Paket C yang masih dinilai miring oleh masyarakat awam. Padahal, saya kan sudah melakukan riset untuk mengetahui keabsahan Ijazah Paket C.

Saya pribadi tidak ambil pusing. Saya berada di jalur yang benar kok. Kalau memang mau kuliah, yang penting belajar agar tembus universitas yang diinginkan. Bukan berdasarkan ijazah yang dipegang yang hanya secarik kertas, bukan refleksi kepintaran seseorang.

Saya katakan ke Ibu, “Ma, jangan ambil pusing omongan orang. Aku tahu kok apa yang sedang aku jalani!” Hebatnya, Ibu saya selalu percaya sama omongan saya. Hehehe.

Boleh tahu apa yang sedang Rizki kerjakan saat ini? Mungkin proyek baru atau target tertentu?

Saya masih bekerja di konsultan di daerah Sudirman hari Senin hingga Jumat. Selain itu, tentunya sedang melakukan inovasi-inovasi dan kerjasama yang menarik untuk pengembangan YPAB kedepannya. Tahun 2015 ini YPAB akan meningkatkan kapasitas peserta menjadi 200 peserta putus sekolah per tahun. Karenanya, saya sedang sibuk merancang konsep dengan tim untuk peningkatan kapasitas dan operasional yayasan. Apalagi, sudah banyak peserta kami yang lulus UN. Kami ingin mengadakan program pemberdayaan kemampuan yang lebih praktis untuk mereka yang sudah lulus.

Selain itu, tahun ini buku saya akan terbit melalui Penerbit Bentang Pustaka. Judulnya “Orang jujur tidak sekolah”. Buku ini menceritakan kisah saya dari kecil sampai sekarang dan hambatan-hambatan saya selama bersekolah di sekolah formal. Selanjutnya, pengalaman saya selama masih “putus sekolah”. Juga bagaimana akhirnya saya bisa mendapatkan pendidikan di tengah kondisi putus sekolah. Tentunya juga pengalaman mendirikan dan mengelola yayasan bagi mereka yang putus sekolah.

Saya tidak memiliki target pribadi. Yang utama adalah YPAB ke depannya. Saya bersyukur dengan apa yang sudah saya dapat saat ini.

Pencapaian Anda yang paling membanggakan?

Ketika peserta putus sekolah lulus, dan saya menyaksikan “perubahan” nyata dari profesi maupun kehidupan mereka berkat pendidikan kesetaraan yang mereka dapatkan di yayasan.

Rencana Anda ke depannya?

Pertama, selalu melakukan improvisasi YPAB. Mimpinya, kelas belajar ini bisa menjangkau sampai ke pelosok Indonesia. Saya yakin ini bisa! Dan harus!

Kedua, semoga buku yang saya tulis bisa diterima di masyarakat dan ada nilai yang bisa diambil dari buku ini: bahwa kejujuran mengalahkan kepintaran. Menjadi pintar hanya membawa kita dari satu poin ke poin berikutnya. Tapi, nilai kejujuran bisa membawa kita ke dimensi yang lebih luas.

Ketiga, ingin melanjutkan S2 di bidang kebijakan publik, khususnya permasalahan social urban. Namun ini rencana jangka panjang, masih lama. Paling dekat tahun 2017. Tapi bisa lebih lama dari itu karena menurut saya S2 itu adalah wadah untuk bertukar pengalaman dan membangun jaringan. Dan saat ini, saya masih bau kencur. Apa yang bisa saya representasikan di teman-teman S2 kuliah nanti? Kita lihat saja (sambil tertawa).

Biodata singkat

Nama                                         : Andri Rizki Putra

Tempat, Tanggal Lahir       : Medan, 20 Oktober

Pendidikan terakhir            : S1, Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Riwayat pekerjaan               :

  • 2011 – 2012                    : Assegaf Hamzah and Partners
  • 2012 – sekarang            : Ketua Pembina Yayasan Pemimpin Anak Bangsa
  • 2012 – sekarang            : Ketua Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yayasan Pemimpin Anak Bangsa
  • 2014 – Sekarang            : Hadiputranto Hadinoto & Partners (Baker & McKenzie)

Ikuti perkembangan dan informasi terbaru tentang Rizki di akun Twitter @andririzkiputra dan Instagram @andririzkiputra.

________________________________________

[i] Cuma Setahun, Lulus Cum Laude FH UI. Diakses pada 3 Okt 2014. Di sini.

Leave a Reply
Aquila Klasik