Modest Style

Hidup dalam Poligami

,

Walaupun poligami disertai dengan serangkaian aturan ketat tentang keadilan, sebagian laki-laki memilih untuk melanggar aturan itu. Aysha Noora bertutur tentang kisahnya.

Gambar: Stockvault
Gambar: Stockvault

Semua bermula ketika tas kerja ayah saya terjatuh dari tempat tidur saat kakak perempuan saya sedang mencari beberapa CD.  Saat terjatuh, beberapa lembar foto ikut tercecer keluar. Kakak saya luar biasa terkejut dengan apa yang ia lihat: ayah kami, dalam balutan jas resmi, bersanding dengan seorang perempuan yang bukan ibu kami. Dengan kata lain, itu adalah foto pernikahan.

Selepas ibu mengakhiri shalat dzuhur, kakak saya memperlihatkan foto-foto itu kepadanya. Ibu terhempas di atas sajadah, terpukul, tapi saat itu ia tidak menangis. Tak satu pun dari kami percaya bahwa ayah saya, yang kami anggap ayah terbaik bagi kami, telah melakukan ini.

Semua bermula sejak saat itu. Saya baru berusia tujuh tahun. Masih kanak-kanak.

Saya masih mengingat saat mengintip ke dalam rumah tante saya ketika ibu menarik kerah kemeja ayah, menuntut penjelasan atas tindakan ayah menikahi perempuan lain secara diam-diam. Pendukung utamanya dalam hal ini adalah orangtuanya sendiri, yang saya yakin begitu membenci kami karena kami tak berkulit putih. Oleh karenanya, mereka memaksa ayah untuk menikahi perempuan lain yang cantik dan berkulit putih.

Ketika kami tak berdaya dan butuh ketenteraman, tak satu pun kerabat yang mengacuhkan kami, mereka mengabaikan saat kami berusaha terlibat dalam percakapan mereka. Kami, kakak-beradik, selalu mendapat nilai memuaskan di sekolah, namun situasi ini sungguh mengganggu dan nilai-nilai kami pun merosot tajam.

Ibu berada dalam kebimbangan apakah akan menceraikan ayah. Setelah berbulan-bulan terjaga di malam hari dan memanjatkan doa memohon petunjuk kepada Allah (SWT), ia akhirnya memutuskan untuk berkemas dan menyusul ayah ke Malaysia, di mana ia bekerja, berjuang untuk mendapatkannya kembali. Sebagai anak usia tujuh tahun, saya bingung melihat reaksi ibu. Banyak orang-orang sekitar yang sudah dewasa mengejek saya dan kakak laki-laki saya yang berusia delapan tahun dengan mengatakan ‘Oh rupanya kalian punya ibu tiri sekarang ya!’ Betapa kami benci mendengar kata-kata itu.

Kami berangkat menuju Malaysia di bulan November; saat itu tepat sebelum Ramadhan. Saya begitu bersemangat karena ini adalah perjalanan pertama saya naik pesawat terbang dan juga karena saya pikir saya akan menetap bersama ayah untuk seterusnya. Biasanya saya hanya punya kesempatan bertemu dengannya sekali dalam setahun saat beliau kembali ke Sri Lanka. Saat pesawat mendarat di Penang, saya memekik girang saat melihat ayah saya. Namun sekaligus terpana saat melihat sesosok perempuan yang berdiri di sampingnya.

Saya membenci perempuan itu sejak pertemuan pertama.

Begitu kami tiba di apartemen, kami menyadari bahwa kami betul-betul asing di negeri ini. Kami tak bisa memahami bahasa mereka dan visa kami hanya berlaku sementara.

Istri baru ayah acapkali menyambangi kami bersama ayah, berlaku romantis kepada ayah di depan ibu. Mereka berbagi segelas soda dengan dua sedotan, hingga ibu menyudahinya dengan mengancam ayah. Ia juga menetapkan bahwa anak-anak harus mengunjungi istri barunya setiap minggu, sementara istrinya memperbolehkan ayah mengunjungi kami satu jam saja setiap hari, dan akan menginap bersama kami hanya di hari Sabtu. Satu hari, saat saya dan kakak saya datang mengunjungi mereka, istri baru ayah memperlihatkan foto-foto bulan madu mereka kepada kakak saya, yang kemudian menangis saat pulang ke rumah.

Sebelumnya di Sri Lanka, ayah menjanjikan akan mendaftarkan kami bersekolah di Malaysia, namun kenyataannya kami tak bersekolah hingga dua tahun. Ia pun tak membayar biaya kuliah kakak perempuan saya meski sebenarnya ia sanggup membayar. Kakak saya harus bekerja keras untuk uang yang hanya sebesar RM300 (sekitar US$100) – jumlah yang besar bagi kami. Ayah akan beralasan kepada kami ‘Ayah ingin melihat kalian berjuang dalam hidup.’

Perdebatan sering terjadi antara ayah dan ibu. Ayah mulai melakukan kekerasan. Ia bisa saja menonjok ibu, menjambak rambutnya dan mencakarnya. Sebagai anak-anak, kami menangis dan memohon mereka berhenti, dan mencoba melerai mereka – namun kakak saya dan saya sendiri hanya anak-anak berusia sembilan dan delapan tahun. Kakak perempuan saya yang sudah berusia 17 tahun berupaya memisahkan mereka namun ayah kemudian menamparnya dan mendorongnya hingga jatuh. Tapi saya tak akan pernah lupa pertikaian yang paling mengerikan.

Saat saya berumur 11, ayah, yang sangat terobsesi dengan mobil, membeli Mercedes Benz. Saat penjualan bisnisnya anjlok dan ia tak punya cukup uang untuk pembayaran ban mobilnya, ia datang ke rumah dengan gusar dan memaksa ibu menyerahkan gelang-gelang emasnya untuk digadaikan. Ibu menolak permintaan ayah, dan mendapat tinju di matanya. Seluruh wajahnya bengkak dan ibu tak sanggup bicara dan makan selama berminggu-minggu. Saat kami berusaha menyingkirkan ayah, ia menendang kami.

Kami tak sanggup lagi. Suatu hari, saat pertikaian akan berlangsung lagi, kakak perempuan saya menghadang dan menampar wajah ayah. Ia menukas, jika ayah berani menyentuh ibu lagi, maka ia akan berakhir di balik penjara. Dengan demikian, penyiksaan fisik akhirnya berhenti.

Namun penyiksaan dalam bentuk lain berlanjut. Ayah berhenti menanggung pembayaran sewa rumah kami dan tagihan-tagihan, karena istri barunya mengontrol seluruh keuangan mereka. Kami hidup tanpa listrik berhari-hari karena tagihan tak dilunasi tepat waktu. Saya ingat harus belajar dengan nyala sebatang lilin sepanjang malam sementara kakak saya dan ibu bekerja mati-matian untuk membayar tagihan-tagihan kami.

Ayah menolak membelikan kami buku-buku sekolah. Di sekolah, saya berulang kali dihukum karena alasan ini, hingga sahabat saya, yang akan pindah ke negara bagian lain, memberikan semua bukunya kepada saya. Ia pun tak membayar biaya visa pelajar saya, dan saat usia saya menginjak 13 tahun, saya dilarang untuk bersekolah selama sebulan karena tidak melunasi biaya sejumlah RM200. Saya ingat menangis pilu; begitu malu karena saya tak sanggup menjelaskan alasan ketidakhadiran saya kepada teman-teman sekelas.

Di tahun 2007, nenek dari pihak ibu saya meninggal dunia. Sebagai anak tertua, ibu harus segera kembali ke Sri Lanka untuk mengurus segala keperluan. Kami bertiga tetap di Malaysia tanpa orangtua selama sebulan, dan ayah hanya berkunjung dari jam 8 hingga jam 9 malam, namun tak pernah menginap. Kami mengunci pintu rapat-rapat dan berdoa untuk keselamatan kami.

Hari-hari kami lalui dengan susah-payah. Namun itu semua menumbuhkan keberanian kami. Kami meyakinkan diri sendiri untuk bertahan dan menjalani setiap hari layaknya seorang pejuang, menegaskan bahwa ini adalah ujian besar dari Allah. Kami belajar dengan tekun karena kami tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya pilihan untuk keluar dari penderitaan ini. Kami terus memohon kepada Allah untuk memperbaiki keadaan. Saya percaya doa-doa yang tak putus dan keimanan yang kuat akan membantu kami.

Allah memberi kami beragam cara untuk memenuhi kebutuhan. Dia memberikan kakak saya pekerjaan yang baik sebagai seorang akuntan. Dia memberikan kakak laki-laki saya kesempatan untuk mengejar jenjang pendidikan di bidang teknik mesin yang diimpikannya. Dan Dia memberi saya kesempatan menjalani jenjang pendidikan akuntan profesional. Hari ini, alhamdulillah, kehidupan kami semakin baik.

Sejalan dengan niat kami mendapatkan ayah kembali, saya merasa Allah menjawab doa kami. Sejak 2011, perilaku ayah berubah; ia mulai memperhatikan kami. Misalnya, ia kini membayar kebutuhan harian kami, dan bahkan biaya kuliah saya! Meski ia masih tinggal bersama istri keduanya dan masih mengunjungi kami hanya satu jam setiap harinya, ia berubah menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Saya yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali bersama kami. Dan saya berharap itu akan segera terwujud, insya Allah.

Dalam Islam, poligami disertai dengan dengan serangkaian aturan yang menekankan keadilan bagi para istri. Namun menurut saya kebanyakan laki-laki yang berpoligami melakukannya sebagai alasan untuk menikahi perempuan lain dan menelantarkan istri pertamanya. Poin ini seringkali terlupakan atau terabaikan bahwa Nabi Muhammad (SAW) rasul kita tercinta dikabarkan menyampaikan bahwa jika kita tak sanggup berlaku adil, maka nikahilah satu perempuan saja. Ayah saya tak pernah – dan masih saja belum – memperlakukan kedua istrinya dengan adil.

Periode hitam ini menyisakan banyak luka bagi kami. Meski poligami diperbolehkan dalam Islam, saya pribadi percaya bahwa laki-laki harus benar-benar memahami mengapa Rasulullah melakukan poligami, dan tak memanfaatkannya untuk menghancurkan hidup perempuan-perempuan yang tak berdosa dan anak-anaknya.

Leave a Reply
<Modest Style