Modest Style

Hidangan bagi Jiwa

,

Mempersiapkan serta berbagi hidangan sahur dan berbuka puasa dapat menjadi salah satu kegiatan rohani Ramadhan ini, tulis Eren Cervantes-Altamirano.

[Not a valid template]

Makanan selalu menjadi gairah saya: mulai dari aromanya yang mengisi dapur hingga kenangan berbagi hidangan rumah bersama keluarga. Saya dibesarkan untuk menjadi pembuat kue yang menyukai penganan manis melebihi apa pun di dunia.

Saat berpuasa selama Ramadhan pertama, saya heran menyadari saya tidak merasa haus atau lapar. Alih-alih, saya merindukan penganan manis. Selama shalat, saya malah memikirkan cupcake Black Forest berlapis krim kocok dan saus ceri. Menderita rasanya melewati jalan-jalan kota saya yang penuh dengan aroma lezat di mana-mana!

Selama Ramadhan pertama, saya berjuang membagi waktu antara shalat, makan, keluarga, pekerjaan dan sekolah. Saya sadar saya jarang makan di waktu yang tepat dan hampir tidak menikmati bulan suci ini. Akhirnya saya belajar bahwa untuk kasus saya, proses mempersiapkan hidangan sama pentingnya dengan kegiatan rohani selama Ramadhan.

Memasak menjadi semacam cara mengolah rohani di mana saya merasakan keterlibatan dalam kegiatan berefleksi dan berbagi dengan keluarga. Mulai dari merencanakan hidangan berbuka hingga gigitan pertama, proses memasak menghidupkan nilai-nilai kebaikan ke dalam bulan Ramadhan.

Sebagai latihan spiritual, saya lebih sadar diri akan apa yang saya makan dan berapa jumlahnya. Meski di beberapa kasus kita makan berlebihan karena berlimpahnya hidangan berbuka selama bulan puasa, saya berjanji pada diri sendiri untuk makan secukupnya agar kuat berpuasa seharian penuh. Tidak ada hidangan tambahan, tidak ada pula perasaan mual akibat menyantap terlalu banyak makanan. Jenis sajian yang kita konsumsi pun perlu dipertimbangkan secara saksama.

Ramadhan tidak hanya mengajarkan kita tentang disiplin tapi juga keseimbangan. Kunci menuju hidup sejahtera sebagai seorang muslim adalah menemukan keseimbangan di antara setiap titik ekstrem, mulai dari cara beribadah hingga ke cara makan.

Di sejumlah kasus, saya menyadari hidangan yang disantap bersama teman atau di masjid memang mengenyangkan tetapi belum tentu meningkatkan kesehatan. Saya malah merasa letih dan kembung, tidak bersemangat untuk shalat, mengaji atau mengikuti kegiatan apa pun. Jadi, bila memungkinkan, saya memilih makanan yang dimasak di rumah.

Diet pribadi saya sekarang berisi setidaknya empat cup (907 gram) buah dan sayuran segar atau yang dimasak sebentar karena menyediakan lebih banyak energi sehingga saya tidak kelelahan selama jam kerja. Walau mungkin kedengarannya sulit untuk menggabungkan sayur dan buah sebanyak itu, saya menyadari bahwa sahur dengan smoothie atau jus dapat menjadi teman yang menyenangkan. Hampir setiap hari saya mencampur pisang dengan dua cup (454 gram) sayuran hijau, satu cup (227 gram) buah, sedikit air.

Saya sepakat bahwa smoothie tidak cukup untuk bekal berpuasa seharian, jadi saya juga menyediakan sajian yang rendah kadar gula dan karbohidratnya. Ini lantaran ramuan smoothie/jus malah membuat saya semakin lapar hanya setelah beberapa jam. Jadi untuk melengkapi resep smoothie harian, saya akan memasak berbagai variasi hidangan Meksiko yang praktis.

Sebagai contoh, quesadilla (roti tortilla ala Meksiko dengan cocolan saus salsa yang pedas dari cabai jalapeno) adalah pilihan yang bergizi dan praktis untuk sahur. Tortillanya saya pastikan terbuat dari jagung karena lebih bernutrisi dan saya menggunakan keju berkualitas tinggi—favorit saya adalah keju halloom atau keju khas negara Siprus, terbuat dari susu domba/kambing/campuran keduanya yang diasamkan (saya tahu, tidak Meksiko sekali ya?).

Menyiapkan hidangan sehat dan bernutrisi untuk keluarga selama Ramadan memang penuh tantangan, tapi pengalaman yang diperoleh lebih memiliki arti. Menyediakan sajian sehat yang bergizi seimbang tidak hanya meningkatkan kesehatan, tetapi juga kinerja Anda. Setelah menyantap hidangan sahur seperti di atas, saya selalu merasa kenyang tanpa perasaan mual. Saya pun siap untuk bekerja, belajar serta menghabiskan waktu bersama keluarga.

Melibatkan segenap keluarga dalam proses mempersiapkan hidangan pun adalah cara yang hebat untuk menikmati waktu berkualitas bersama orang-orang tersayang. Sambil berbagi tugas memasak, mereka berkesempatan mempelajari ilmu kesehatan dan keseimbangan gizi. Di rumah saya, semua orang turun tangan menyediakan santapan, di mana kami dapat saling berbagi dan bersama-sama menikmati makanan yang disajikan. Ramadhan bukan sekadar saling berbagi makanan, tapi juga waktu, kegiatan dan cerita.

Saya pribadi merasa dapur adalah tempat yang menarik (inilah inti rumah saya). Saat memasak sendirian, saya gemar berdoa dan merenungi hubungan saya dengan Allah. Menurut saya, tidak ada karunia yang lebih besar daripada rasa dan aroma yang berasal dari bumi ciptaan Allah, dan Dia memberi kita kesempatan untuk menikmatinya. Sama halnya ketika dapur diramaikan oleh keluarga dan anak-anak, saya diingatkan akan anugerah dalam hidup dan semua hal yang harus saya syukuri. Dapur adalah daerah kekuasaan saya, tempat saya menjernihkan pikiran dan mempersiapkan diri untuk beribadah.

Saya senang menggunakan momen menjelang berbuka untuk memasak makanan yang kreatif. Memang saya tidak selalu bisa melakukannya lantaran jadwal saya yang sibuk, tapi kapan pun saya punya waktu, kegiatan ini bisa berefek terapeutik. Saya memulai proses memasak dengan mengingatkan diri mengenai komitmen saya terhadap kesehatan dan keseimbangan. Karenanya, saya gemar memasak tiga jenis hidangan, termasuk satu hidangan utama, salad dan hidangan pendamping.

Sajian Ramadhan favorit saya adalah menu Meksiko-Lebanon yang disebut kibbeh charola. Pada dasarnya hidangan ini berupa kibbeh (campuran sejenis serealia yang disebut bulgur, bawang bombai, dan daging) yang ditaburkan di atas sajian yang diletakkan pada piring datar berhias daun mint, pomegranate molasse (konsentrat sirup delima), merica, garam, cabai merah keriting dan kacang pinus (pine nuts). Proses memasaknya makan waktu sekitar 1,5 jam dan dapat dihidangkan bersama salad Yunani (Greek salad) atau salad sayuran yang sederhana. Saya juga menghidangkannya dengan nasi kacang merah (pink rice/red bean rice), hidangan pendamping tradisional Meksiko yang dibuat dari tomat dan jus bit. Untuk makanan penutup, saya senang memanggang kue dan sesekali mencoba resep baru—mulai dari kue marmer kering sampai mousse mangga. Pencuci mulut yang enak, buah-buahan dan teh menjadi sentuhan sempurna setelah menyantap masakan rumah yang sehat.

Meski buat saya memasak adalah segalanya, saya juga tahu tidak semua orang bisa melakukannya. Tidak semua orang mengalami relasi spiritual dengan Allah saat memasak. Sama seperti saya yang menganggap memasak dan memanggang kue memberi saya kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan keluarga, setiap orang mesti menemukan cara untuk menjernihkan pikiran dan mempersiapkan diri menjalankan kegiatan rohani selama Ramadan. Pada akhirnya, makna bulan suci ini adalah tentang kesehatan, keseimbangan dan spiritualitas.

Setelah menghabiskan sajian penutup, saya pun siap untuk menunaikan shalat dan memanfaatkan waktu untuk beribadah spiritual. Proses memasak menjernihkan pikiran dan menenangkan ketidaknyamanan yang saya alami sepanjang hari. Kekhusyukan dalam mengaji dan shalat menjadi relaksasi yang sejenak membebaskan saya dari jadwal sibuk. Setelah shalat, pikiran saya menjadi jernih dan bersih. Saya pun siap beristirahat serta memulai hari, insya Allah.

 

Leave a Reply
<Modest Style