Modest Style

Harapan anak bangsa untuk presiden terpilih

,

Seiring dengan usainya pemilihan presiden dan dalam rangka Hari Anak Nasional, Najwa Abdullah menuliskan harapan-harapannya untuk Presiden terpilih.

Joko Widodo, winner of Indonesia’s presidential election. AFP Photo / Romeo Gacad
Joko Widodo,pemenang pemilihan presiden Indonesia. AFP Photo / Romeo Gacad

Masih segar di ingatan saya, sewaktu saya duduk di bangku sekolah, salah seorang guru yang inspiratif pernah mengatakan “Jika sebuah negara diibaratkan sebagai tubuh manusia, maka pendidikan adalah bagian kakinya. Di Indonesia, bagian inilah yang belum berfungsi dengan baik.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan analogi menariknya bahwa sistem politik adalah kepala, sistem perekonomian adalah badan dan sistem hukum dan keamanan adalah tangannya. Ketiga sistem terakhir adalah hal utama yang membuat suatu negara bisa “hidup”. Namun, kaki yang berfungsi dengan baiklah yang membuat suatu negara bisa berjalan, bahkan berlari jauh menuju peradaban yang lebih baik.

Di dunia yang semakin terglobalisasi ini, Indonesia memang masih bertahan hidup, namun kurang dapat bergerak cepat mengejar ketinggalan kemajuan dengan negara-negara lain. Perkataan guru saya ini memasuki relung hati saya. Tidakkah ini sebuah ironi yang begitu perih? Kita memiliki segalanya: perangkat politik dan hukum, kemakmuran alam di darat, dan laut serta jumlah sumber daya manusia yang begitu besar. Tapi semua kekayaan tersebut ternyata tidak cukup untuk menghantarkan Indonesia menjadi negara yang maju di dunia.

Banyak permasalahan bangsa yang akar permasalahannya terletak pada sistem pendidikan. Wajah pendidikan di Indonesia sarat dengan problematika. Mulai dari kualitas guru yang rendah, cara pengajaran yang dogmatis hingga fasilitas yang jauh dari layak.

Di negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini, perjalanan ke sekolah bisa mengancam nyawa sebagian anak-anak. Masih ingat dengan foto anak-anak yang bergelantungan di jembatan putus untuk menyeberangi sungai besar agar dapat sampai di sekolah?

Di negara dengan populasi Muslim terbesar yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan dalam ideologinya, kehadiran Tuhan seperti tidak ada ketika terjadi kekerasan yang mengancam jiwa ana-anak dan pelajar. Saya tidak akan pernah melupakan tragedi Mei 1998, konflik Sampit, Ambon dan sebagainya. Bahkan di lingkungan sekolah yang terletak di ibu kota Jakarta, anak-anak di bawah umur menghadapi ancaman kekerasan seksual.

Di dalam sistem pendidikan itu sendiri, anak-anak Indonesia dituntut untuk belajar dengan keras dan menguasai semua bidang pelajaran. Diberlakukannya sistem Ujian Nasional (UN) semakin membuat para siswa belajar dalam baying-bayang ketakutan, karena jerih payah siswa untuk belajar selama bertahun-tahun hanya ditentukan oleh ujian yang diselenggarakan dalam tiga hari saja.

Harus diakui, selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada sedikit kemajuan dibandingkan dengan periode-periode pemerintahan sebelumnya. Beberapa tahun lalu, Presiden SBY mengalokasikan dana 20% dari APBN untuk pendidikan, mencanangkan 9 tahun wajib belajar dan ribuan program beasiswa digelontorkan. Atas jasa pak SBY ini, kami bangsa Indonesia sudah mulai berdiri tegak, namun masih memerlukan dukungan lebih untuk bisa berlari.

Suara kami yang selama ini terpendam oleh berisiknya kepentingan elit politik perlu didengarkan dengan lebih baik. Di tengah haru biru pesta demokrasi yang baru saja usai, saya berharap terpilihnya presiden yang katanya begitu dekat dengan rakyat ini bisa meruntuhkan tembok-tembok dingin para elit politik yang selama ini selalu memantulkan harapan-harapan kami akan kemajuan sistem pendidikan di Indonesia.

Jadi, wahai Pak Presiden Terpilih Indonesia yang baru, izinkan saya menyuarakan harapan-harapan berikut untuk pendidikan dan anak-anak Indonesia ke depan:

Pak Presiden, kami ingin belajar tanpa rasa takut. Kami ingin orang tua kami melepas kepergian kami ke sekolah dengan bahagia tanpa rasa cemas. Kami ingin bersekolah tanpa harus menambah beban perekonomian keluarga kami. Kami ingin ada penghargaan yang lebih dari negara dan masyarakat untuk guru-guru kami supaya mereka bisa mengajar kami dengan senang hati dan menularkan kebahagiaan kepada kami.

Pak Presiden, kami ingin pendidikan menjadi perisai kami dari tindak korupsi dan kriminal lain yang merugikan bangsa ini. Kami juga ingin pendidikan dapat memperkuat rasa cinta tanah air dan nasionalisme kami untuk menjaga kedamaian di tengah keberagaman negara ini.

Dan yang terpenting, kami ingin pendidikan membawa kami lari jauh menggapai cita-cita kami, sebagaimana hal tersebut melesatkan Bapak hingga tiba ke kursi presiden di tahun 2014 ini.

Bantu kami berlari, Pak Presiden, untuk bersama-sama mengejar ketinggalan kita dari bangsa lain.

Leave a Reply
<Modest Style