Modest Style

Halalywood: Kebangkitan industri hiburan Islam

,

Generasi baru pemuda Muslim menciptakan cara baru untuk menghibur diri, sambil tetap beriman. Oleh Omar Shahid.

0301-WP-Halalywood-by-Omar-sm

Kita semua kenal Hollywood dan Bollywood. Beberapa dari Anda bahkan mungkin pernah mendengar Lollywood (versi Pakistan) dan Nollywood (versi Nigeria). Bagaimana dengan Halalywood? Tidak pernah? Nah, dimulai sejak 2014, Anda mungkin akan mendengar tentang Halalywood. Aktor dan komedian Amerika Omar Regan, yang turut membintangi film seperti Rush Hour 2, telah bertekad menciptakan industri film berlabel halal untuk umat Muslim.

“Ada 1 miliar Muslim di seluruh penjuru dunia dan tidak seorang pun membuat sesuatu untuk kita dan kisah kita. Jadi saya meninggalkan Hollywood dan beralih ke Halalywood!” ujar Regan di sebuah video yang bertujuan mendorong orang untuk menyumbang proyek Kickstarter-nya.

“Inilah misi kami: kami akan menyediakan hiburan halal, yang merupakan jenis hiburan yang dapat dinikmati Muslim. Kedua, kami ingin mendidik ulang publik tentang Muslim dan Islam. Ketiga, Halalywood akan menjadi wadah bagi penulis, aktor, dan sutradara Muslim muda, tempat yang dapat mereka datangi untuk merealisasikan karya mereka, tempat di mana mereka tidak akan diacuhkan,” terangnya.

Poster American Sharia, segera tayang di bioskop terdekat.
Poster American Sharia, segera tayang di bioskop terdekat.

Regan bersiap merilis film pertamanya American Sharia, sebuah film aksi/komedi tentang oknum pejabat pemerintahan yang menggunakan Islamofobia dalam mempertahankan kekuasaan, akhir tahun ini. Bagaimanapun, Industri Film Islami yang akan didirikan hanyalah satu dari sekian banyak ajang baru yang akan bermunculan.

Sebagai reaksi terhadap dunia di sekeliling mereka, generasi pemuda Muslim modern menciptakan berbagai cara baru untuk menghibur diri, sambil tetap beriman. Generasi baru ini menunjukan bahwa Islam dan hiburan dapat seiring sejalan. Dan dalam prakteknya, mereka menghancurkan stereotipe tentang apa itu Muslim di masa kini.

Tentu, banyak subbudaya baru ini yang disebut oleh Muslim konservatif “tidak Islami” karena menyerupai bentuk hiburan tradisional yang berterima. Salah satu contohnya adalah Industri Musik Islami: diluncurkan sepuluh tahun yang lalu dan meski mendapat penerimaan yang semakin luas di kalangan Muslim, tetap mendapat serangan karena penggunaan instrumen musik, yang dianggap haram oleh sebagian orang,

Awakening Records, sebuah label rekaman dan rumah penerbitan berbasis di Inggris yang didirikan pada 2000, melihat bahwa umat Muslim mengidamkan alternatif dari industri musik arus utama. Dengan banyaknya lirik seksual, kasar, dan misoginis di berbagai musik arus utama, Awakening justru memutuskan untuk menyediakan alternatif yang modern dan menguatkan iman.

Kontrak pertama ditandatangani bersama penyanyi Inggris-Azerbaijan Sami Yusuf, yang pada 2003 menggapai ketenaran dengan album debutnya Al Mu’alim. Kesuksesan Yusuf yang sangat luar biasa dan begitu tiba-tiba mengejutkan Awakening – ia kemudian disebut sebagai “bintang rock Islam terhebat” oleh majalah Time pada 2006.

Namun mengikuti konflik dengan Awakening pada 2008, Yusuf, 33, meninggalkan label rekaman tersebut. Hingga hari ini, ia masih berada di jajaran pemusik Islam terpopuler di dunia dengan terus menghasilkan musik yang ramah pendengar Muslim. Meski begitu, kepergian Yusuf memberikan peluang bagi bintang lainnya. Maher Zain, 32, yang memiliki latar musik arus utama dengan pengalaman kerja dengan pemusik seperti Lady Gaga, berubah haluan pada 2007. Ia merangkul keimanan Islam secara penuh dan segera menandatangi kontrak dengan Awakening.

Hari ini, dengan dua album multi platinum, bersama Yusuf ia telah mengantarkan musik Islami ke dalam rumah jutaan Muslim di seluruh dunia.

Seiring perkembangan musik Islami, secara perlahan kaum non-Muslim pun mengenal aliran ini. Yusuf memperkenalkan genre ciptaannya yang disebut Spiritique, yang disebutnya lebih spiritual daripada relijius dan diharapkan dapat diterima melampaui batas ras dan agama. Senada dengan Yusuf, Saif Adam, seorang seniman Muslim kelahiran Inggris  yang semakin populer, memiliki ambisi untuk menghasilkan musik bagi Muslim juga non-Muslim.

Banyak Muslim yang menggemari musik yang sering disebut “hip-hip berkesadaran”, atau hip-hop politis. Meski jenis musik ini bukan musik Islami, perjuangan melawan penindasan dan penegakan keadilan sosial merupakan intinya. Genre ini juga digunakan sebagai wadah untuk mendukung dan menarik perhatian ke arah permasalahan tertentu, baik Palestina maupun Suriah. Musik ini, lagi-lagi, dilihat sebagai alternatif yang lebih baik ketimbang “yang termasuk arus utama”.

Komedi, seperti musik, juga memiliki kemampuan untuk melampaui perbedaan agama. Di AS, komedian Muslim Amerika-Palestina Yousef Erakat, yang meluncurkan saluran YouTube FouseyTube pada 2011, memiliki lebih dari 150 juta klik untuk sketsa komedinya. Videonya terdiri dari konten keagamaan ringan seperti hal-hal lucu yang dilakukan Muslim saat sholat, sampai berbuat jahil di depan umum, hingga membahas masalah sosial yang serius seperti tuna wisma dan penggencetan.

Humza Arshad di masa-masa tenang
Humza Arshad di salah satu saat kalemnya

Sementara itu di Inggris, serial YouTube Humza Arshad, 28, Diary of a Badman, yang dimulai sejak 2010, telah menjadikannya semacam selebriti internet. Video Arshad berisi satir tentang budaya Inggris Asia melalui pengisahan versi fiksi dirinya dan hubungannya dengan teman dan keluarga.

Namun, salah satu subbudaya yang paling menarik yang muncul belakangan ini adalah tren riasan dan penggila fesyen hijab. Pencarian sekilas di YouTube dengan kata kunci “tutorial hijab” akan menunjukkan dunia baru di mana banyak pemudi Muslim dapat mempelajari bagaimana mengenakan hijab dalam beragam gaya, riasan, dan aksesoris fesyen. Salah satu yang terpopuler adalah YazTheSpaz – penata hijab, busana, dan riasan – yang rencananya akan turut berperan di American Sharia.

Tahun lalu, kita juga menyaksikan mode Islami mencapai ketenaran – entah dalam bentuk Indonesia Islamic Fashion Fair maupun Hijab Fashion Week di London. Dan April ini, Aquila Style akan mengadakan Pearl Daisy Asia Tour 2014, yang akan diramaikan oleh mode dan seni terbaik dunia.

Dan siapa yang dapat melupakan Mipsterz? Video yang rilis akhir tahun lalu dan mengundang kontroversi tersebut memperlihatkan sekelompok Muslimah berpapan luncur, bersepatu hak tinggi, mengenakan hijab sambil mendengarkan lagu Jay Z Somewhere in America. Namun tidak semua tanggapan yang muncul bernada negatif. Noor, salah satu perempuan di video tersebut, menyatakan ia mendapat tanggapan positif dari orang-orang yang awalnya menyangka hijab itu “menindas” dan “memperlemah”.

Namun ada apa di balik tren ini? Dan mengapa Muslim kini menegaskan keimanan mereka dalam cara yang baru, inovatif, dan kreatif?

Yang tampak jelas adalah kemunculan dan penggunaan luas media sosial, yang memungkinkan munculnya bentuk hiburan semacam di atas. Lalu ada pula peristiwa 9/11 dan pemberitaan media yang terus-menerus – yang berdampak pada cara umat Muslim dilihat dan melihat diri mereka. Banyak pemuda Muslim di berbagai belahan dunia, tumbuh besar di masa yang jauh berbeda dengan orangtua mereka, memaknai dan menunjukkan agama mereka secara berbeda. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa pemuda Muslim menjadi ujung tombak hampir semua tren di atas. Anda bahkan dapat mengatakan bahwa revolusi pemuda-pemudi Muslim sedang terbentuk.

Seiring banyaknya kalangan masyarakat yang tampaknya mengacuhkan nilai-nilai keagamaan, umat Muslim melakukan segala yang mereka bisa lakukan untuk menyediakan sesuatu yang khusus bagi umat seagama – sesuatu yang keren, modern, dan terpenting, memiliki nilai Islami.

Omar Shahid adalah seorang jurnalis lepas dengan konsentrasi di bidang hubungan keagamaan. Ia telah menulis untuk The Times, Guardian, Independent, dan New Statesman. Ikuti perkembangan Omar di blognya atau Twitter @omar_shahid.

Leave a Reply
<Modest Style