Modest Style

Hagia Sophia di Istanbul: Museum atau Masjid?

,
Foto yang diambil 29 November 2013 ini menampilkan Hagia Sophia di Istanbul. Sejak tahun 537, selama berabad-abad Hagia Sophia merupakan gereja—dan kediaman Uskup Agung Konstantinopel—sebelum dijadikan masjid di bawah kesultanan Utsmaniyah pada 1453. Bangunan ini dibuka sebagai museum pada 1935 setelah berdirinya republik Turki modern. AFP Photo / Bulent Kilic
Foto yang diambil 29 November 2013 ini menampilkan Hagia Sophia di Istanbul. Sejak tahun 537, selama berabad-abad Hagia Sophia merupakan gereja—dan kediaman Uskup Agung Konstantinopel—sebelum dijadikan masjid di bawah kesultanan Utsmaniyah pada 1453. Bangunan ini dibuka sebagai museum pada 1935 setelah berdirinya republik Turki modern. AFP Photo / Bulent Kilic

ISTANBUL, 4 Desember 2013. Oleh Dilay Gundogan dan Emmanuelle Baillon (AFP) – Terletak di ujung semenanjung bersejarah Istanbul, Hagia Sophia—dengan kubahnya yang spektakuler, desainnya yang elegan dan menaranya yang menjulang—merupakan pemandangan ikonis bagi jutaan turis yang setiap tahun mengunjungi kota itu.

Tetapi apakah bangunan itu seharusnya menjadi masjid, gereja atau museum?

Nasib kompleks berusia 1.500 tahun yang menghadap Selat Bosporus itu telah menjadi titik sengketa pahit setelah Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc, memintanya untuk kembali dijadikan sebagai tempat ibadah umat Muslim.

Komentarnya itu, meski bukan kebijakan resmi, telah menambah kekhawatiran terhadap apa yang dikatakan para kritikus sebagai upaya keras pemerintah untuk memaksakan nilai-nilai Islam ke dalam masyarakat Turki yang sekuler.

Monumen dari zaman kekaisaran Bizantium itu pun dapat menjadi bahan perdebatan politik bagi Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, yang sedang berusaha menggalang dukungan yang sedang menurun di kalangan umat Muslim konservatif dalam pemilihan umum tahun depan.

Hagia Sophia, yang dalam bahasa Yunani berarti “Kebijakan Suci”, dibangun pada abad keenam dan selama berabad-abad digunakan sebagai gereja Ortodoks—serta kediaman Uskup Agung Konstantinopel—sebelum dijadikan masjid oleh kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1400-an.

Protes Yunani

Mustafa Kemal Ataturk, pendiri republik Turki modern, mencanangkan Hagia Sophia sebagai museum pada 1934 dan membukanya untuk umum di tahun berikutnya.

“Kami sedang menyaksikan Hagia Sophia berduka, tetapi mudah-mudahan kami segera dapat melihatnya tersenyum kembali,” ujar Arinc awal bulan ini.

Reaksi Yunani, yang wilayahnya pernah menjadi bagian dari kesultanan Utsmaniyah dan sering bertentangan dengan Turki untuk isu-isu agama, adalah kemarahan, mengatakan komentar semacam itu menyinggung perasaan religius jutaan umat Kristiani.

Mihail Vasiliadis, pemimpin redaksi  harian berbahasa Yunani di Istanbul, Apoyevmatini, mengatakan Hagia Sophia merupakan simbol penting bagi seluruh komunitas Kristen Ortodoks.

“Ada sebagian komunitas Kristen Ortodoks yang telah menyaksikan Hagia Sophia berduka selama lebih dari 500 tahun dan mereka adalah yang ingin melihatnya dikembalikan sebagai gereja,” ungkapnya kepada AFP.

Komunitas kecil Yunani di Istanbul, yang jumlahnya hanya beberapa ribu jiwa, kesal atas masalah berupa sikap keras Ankara yang bertolak belakang dengan Athena untuk meningkatkan hak-hak keagamaan mereka.

“Tak perlulah memperburuk situasi yang sudah runyam ini,” ungkap Vasiliadis.

Bulan lalu, Yunani dengan tegas menolak ide untuk mengoperasikan kembali dua masjid di Athena sebagai imbalan atas kembali dibukanya sekolah kependetaan Ortodoks di Turki.

Dua gereja lain di Turki yang sama-sama menyandang nama Hagia Sophia baru saja diubah fungsinya menjadi masjid.

Sudah ada sekitar 83.000 masjid di negara itu—naik sekitar tujuh persen sejak Erdogan memerintah 11 tahun yang lalu.

Istanbul sendiri telah memiliki sekitar 3.000 masjid, termasuk Masjid Biru atau Blue Mosque dari abad ke-17 yang menakjubkan dengan jarak tidak jauh dari Hagia Sophia.

Akan tetapi, bagi Muslim yang taat, membuka Hagia Sophie untuk tempat beribadah juga bermakna penghormatan pada Fatih Sultan Mehmet, sultan Turki Utsmaniyah yang mengubahnya menjadi masjid setelah menaklukkan Konstantinopel dan ikut shalat berjamaah pertama pada 1453.

Golongan islamis nasionalis yang tergabung dalam Partai Serikat Raya (BBP) telah menggelar sejumlah unjuk rasa demi meminta pencabutan larangan shalat bagi Muslim di Hagia Sophia, bagian dari situs Warisan Dunia UNESCO yang meliputi bekas wilayah kekaisaran Bizantium dan Utsmaniyah dari Istanbul lama.

Berbekal sertifikat pendaftaran tanah tahun 1936 yang menggambarkan kompleks tersebut sebagai masjid, wakil pemimpin BBP Bayram Karacan mengklaim peralihannya sebagai museum tidak sah.

“Fakta bahwa Hagia Sophia adalah museum tidak pernah diterima orang Turki… mengubahnya sebagai masjid sama halnya dengan menyatakan kembali kedaulatannya,” kata Karacan.

Di luar Hagia Sophia, para pengunjung dan penduduk lokal berbeda pendapat mengenai kemungkinan dialihfungsikannya monumen yang oleh UNESCO digambarkan sebagai salah satu “karya arsitektur adiluhung” dari zaman bersejarah tersebut.

“Kami sudah punya banyak masjid di sini dan sebagian besarnya kosong. Siapa yang akan memenuhi semua masjid itu bila bangunan ini dijadikan masjid? Para turis tidak akan ke sini lagi,” ujar pemilik toko berusia 52 tahun, Fehmi Simsek.

Diwawancara setelah keluar dari Hagia Sophia, turis Jerman 23 tahun, Tamara, mengatakan kompleks itu sudah berabad-abad menjadi testamen terhadap makna historis dan agama di Istanbul.

“Kenapa Anda ingin mengubah bangunan yang begini luar biasa?”

‘Perdebatan terkait dengan pemilihan umum?’

Sejarawan Ahmet Kuyas dari Universitas Galatasaray di Istanbul mengungkapkan perdebatan ini dapat dihubungkan dengan pemilihan umum Turki mendatang, saat pemungutan suara lokal berlangsung Maret, pemilihan presiden di bulan Agustus dan pemilihan parlemen pada tahun 2015.

Erdogan, yang dijuluki “Sultan”, sering kali menimbulkan reaksi emosional atas sejumlah kebijakan keagamaannya yang dianggap konservatif, termasuk membatasi penjualan dan iklan minuman beralkohol serta mengizinkan pemakaian hijab bagi perempuan yang bekerja di bidang layanan publik.

“Mengubah Hagia Sophia menjadi masjid akan menjadi pukulan lain bagi sekularisme di Turki,” ujar Kuyas, seraya menggambarkan bangunan itu sebagai “simbol perdamaian universal, perdamaian antarbangsa dan antaragama.”

Sevda, perempuan Muslim dari Turki, mengatakan gedung itu akan lebih mudah diakses bagi semua orang bila dijadikan masjid, karena saat ini ada biaya yang diberlakukan untuk memasukinya sebagai museum.

“Tempat itu milik kami dan oleh karena itu harus menjadi masjid,” tambah temannya, Kubra.

Pengunjung dari Spanyol yang memperkenalkan diri hanya sebagai Alex mengungkapkan dia tidak keberatan atas perubahan status Hagia Sophia selama masyarakat umum masih bisa mengunjunginya.

“Tempat yang indah itu harus dilihat semua orang,” tambahnya.

Leave a Reply
<Modest Style