Modest Style

Hadapi Kemacetan, Warga DKI Manfaatkan Twitter

,
Para pengguna jalan di Jakarta, kota metropolitan paling aktif sedunia perihal mengirim tweet, memanfaatkan layanan microblogging itu untuk memperingatkan sesama pengguna jalan mengenai titik kemacetan atau mengatur mobil tumpangan. ©AFP PHOTO / Bay ISMOYO
Para pengguna jalan di Jakarta, kota metropolitan paling aktif sedunia perihal mengirim tweet, memanfaatkan layanan microblogging itu untuk memperingatkan sesama pengguna jalan mengenai titik kemacetan atau mengatur mobil tumpangan.
©AFP PHOTO / Bay ISMOYO

(JAKARTA-AFP) – Muak menghabiskan berjam-jam terjebak dalam kemacetan ibu kota Jakarta, ratusan ribu komuter pengguna aktif media sosial mengirimkan tweet untuk menaklukkan kepadatan lalu lintas.

Kunonya sistem transportasi publik di ibu kota ekonomi terbesar Asia Tenggara ini, ditambah lagi dengan meningkatnya daya beli masyarakat, telah menambah jumlah pengendara motor yang amat mengandalkan Twitter untuk mengatasi kemacetan.

Para pengguna jalan di Jakarta, kota metropolitan paling aktif sedunia perihal mengirim tweet, memanfaatkan layanan microblogging itu untuk memperingatkan sesama pengguna jalan tentang titik kemacetan atau mengatur mobil tumpangan.

Mengandalkan bantuan situs web terbilang langkah putus asa bagi para pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta. Dalam survei 2010 yang diadakan biro konsultan Frost & Sullivan, kota besar ini dijuluki tempat paling tidak menyenangkan di dunia bagi para komuter.

Hendry Soelistyo adalah pelopor awal penyedia perangkat online untuk memecahkan masalah lalu lintas Jakarta. Untuk bekerja saja, para komuter sering menghabiskan hingga lima jam sehari dalam lautan mobil dan motor yang bergerak lambat.

Empat tahun lalu, pengusaha TI tersebut mendirikan lewatmana.com, situs web dan akun Twitter terkait yang memungkinkan komuter untuk berbagi informasi real-time tentang kondisi jalan.

“Orang Indonesia meng-update status mereka di Facebook dan Twitter sepanjang waktu. Jadi, kami pikir, kenapa tidak sekalian berbagi informasi tentang kemacetan?” ujar Soelistyo kepada AFP.

Lewatmana khususnya menyediakan informasi tentang titik macet, namun juga memperingatkan tentang jalur atau wilayah mana yang terkena dampak demonstrasi yang relatif sering di Jakarta.

Situs ini mengandalkan para penggunanya dan 100 kamera CCTV yang terpasang di jendela kantor seluruh kota untuk memonitor lalu lintas dan mengirimkan foto via Twitter.

Layanan yang mengirimkan lebih dari 14.000 tweet per bulan ini telah menjadi nama yang terkenal dan kini memiliki sekitar 200.000 follower.

Usaha lain untuk memecahkan masalah kemacetan Jakarta melalui Twitter adalah komunitas mobil tumpangan (car-pooling) yang disebut Nebengers. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah kendaraan di pusat kota.

“Nebengers selayaknya terminal mobil virtual, di mana kita dapat menumpang untuk pergi ke sekolah atau ke kantor,” ungkap pendirinya, Andreas Aditya Swasti (27).

Memberi tumpangan kepada orang asing terbilang jarang di Indonesia, tetapi Nebengers telah memikat hati sekitar 4.000 follower Twitter. Setiap hari, ada lebih dari 400 orang yang menggunakan layanan ini untuk memberikan atau memperoleh tumpangan.

Orang-orang yang ingin menawarkan kursi di mobil mereka untuk orang lain yang memiliki rute sama menuliskan pesan dua jam sebelum keberangkatan.

Ratna Mayasari, yang bekerja di pusat kota dan menawarkan tumpangan gratis dari rumahnya di Jakarta Selatan, mengatakan cara ini membantunya dalam melewati perjalanan pulang pergi dari rumah ke kantor yang makan waktu satu setengah jam bersama komuter lain.

“Sebelum ini, saya biasanya menyanyi atau malah mengomeli kemacetan sendirian. Tetapi sekarang saya punya teman untuk melakukan hal itu bersama saya,” katanya.

Dengan buruknya sistem transportasi publik yang tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota dan tingginya volume mobil dan motor baru yang memenuhi jalan setiap hari, Jakarta membutuhkah segala macam bantuan yang dapat diperolehnya dalam hal mengatur lalu lintas.

Antara tahun 2000-2010, jumlah motor di jalan meningkat 460% dan jumlah mobil menjadi 160%. Demikian menurut laporan Japan International Cooperation Agency.

Badan yang didanai negara dan memberikan bantuan serta saran dari pemerintah Jepang ini membantu Jakarta dalam memperbaiki masalah lalu lintasnya.

Berbagai usaha pemerintah daerah untuk mengurangi jumlah kendaraan, seperti menaikkan ongkos parkir hingga dua kali lipat, secara luas telah terbukti tidak efektif. Inisiatif terkini adalah mengerahkan petugas untuk mengempeskan ban mobil dan motor yang diparkir sembarangan.

Transportasi publik—mayoritasnya terdiri dari bus berkondisi payah yang menyemburkan asap hitam beracun serta kereta dan minibus yang penuh sesak—telah terbukti bukan pilihan utama bagi kelas menengah yang pertumbuhannya pesat dan kini mampu membeli mobil.

Proyek-proyek transit massal baru—yang pembangunannya telah ditunda selama beberapa dasawarsa—secara perlahan kembali dikerjakan. Sejumlah upacara pembukaan untuk kereta api bawah tanah dan monorail pertama di Jakarta pun akan berlangsung di bulan ini.

Akan tetapi, sebelum semua proyek tersebut rampung dan mulai beroperasi, para pengguna Twitter Jakarta kelihatannya masih harus ikut serta mengatur kekacauan lalu lintas kota untuk beberapa tahun lagi.

“Di mana lagi Anda bisa menemukan penduduk kota menyibukkan diri mereka sendiri dengan pengaturan lalu lintas? Indonesia barangkali adalah yang paling aktif, karena di negara lain, pemerintahnyalah yang melakukan hal-hal seperti ini,” ujar Soelistyo.

Leave a Reply
<Modest Style