Modest Style

‘Getting Away With Murder’: Mempelajari Konspirasi Pembunuhan Bhutto

,
Berkas foto: Para pendukung Partai Rakyat Pakistan (PPP) berkumpul di lokasi terbunuhnya mantan perdana menteri Benazir Bhutto di Rawalpindi pada peringatan tahun kelima kematiannya, 27 Desember 2012. AFP Photo / Aamir Qureshi
Berkas foto: Para pendukung Partai Rakyat Pakistan (PPP) berkumpul di lokasi terbunuhnya mantan perdana menteri Benazir Bhutto di Rawalpindi pada peringatan tahun kelima kematiannya, 27 Desember 2012. AFP Photo / Aamir Qureshi

NEW YORK, 5 Desember 2013 (AFP) – Sebuah buku baru menawarkan teori kepada khalayak luas tentang adanya upaya menghalangi penyelidikan, menyalahkan pihak lain, dan yang mencengangkan, gagalnya pengamanan di balik pembunuhan mantan perdana menteri Pakistan Benazir Bhutto, 2007 silam.

Pada 2010, penulis buku dan diplomat asal Chili, Heraldo Munoz, memimpin laporan investigasi PBB yang memberatkan karena menyatakan kematian Bhutto sebenarnya dapat dicegah dan kegagalan Pakistan dalam menyelidiki kasus ini sebagaimana mestinya adalah kesengajaan.

Buku Munoz, yang kini menjadi asisten sekretaris jenderal PBB, berjudul “Getting Away with Murder: Benazir Bhutto’s Assassination and the Politics of Pakistan”, akan dijual di Amerika Serikat mulai minggu depan.

Lulusan Universitas Oxford, Bhutto sudah dua kali menjabat sebagai perdana menteri . Saat dibunuh dalam penembakan dan serangan bom bunuh diri pada 27 Desember 2007, ia sedang berkampanye untuk pemilu 2008 setelah kembali dari pengasingan.

Enam tahun kemudian, tak ada seorang pun yang dihukum atas pembunuhan tersebut.

Pemerintah pada saat itu menyalahkan Taliban Pakistan. Biarpun sedikit bukti, Agustus ini pengadilan Pakistan telah mendakwa Pervez Musharraf, presiden Pakistan periode 1999-2008, atas tuduhan pembunuhan Bhutto.

Munoz membandingkan pembunuhan ini dengan plot pembunuhan kolektif di sebuah pementasan teater abad ke-17, dan secara khusus mencurigai mantan menteri dalam negeri Pakistan lantaran menolak untuk memberikan jawaban yang jujur.

Ditanya pada acara peluncuran bukunya di New York apakah dia takut keselamatannya terancam selama proses investigasi yang ia lakukan, Munoz menjawab “tidak terlalu”, namun mengungkapkan bahwa sekitar Januari 2010, dia terpaksa meningkatkan pengamanannya.

“Saya menerima peringatan dari sumber yang sangat terpercaya bahwa ‘orang-orang ini’ mampu melakukan segalanya dan ‘orang-orang ini’ tidak memahami dunia,” ujarnya kepada hadirin.

Tetapi dia tidak pernah mengetahui siapa “orang-orang ini” yang disebutnya sebagai “sejumlah pihak yang mungkin tidak senang atas penyelidikan yang kami lakukan,” katanya.

Penjelasan terbaik tentang siapa yang membunuh Bhutto diibaratkan Munoz dengan pementasan lakon Spanyol abad ke-17 berjudul “Fuenteovejuna” karya Felix Arturo Lope de Vega, di mana sebuah desa dikisahkan bersekongkol untuk menghabisi  nyawa seorang komandan yang dibenci.

Al-Qaeda menginginkan kematian Bhutto, Taliban Pakistan melakukan serangan itu—kemungkinan dengan dukungan beberapa agen rahasia yang licik—dan polisi lokal berupaya untuk menutupi bukti-buktinya. Demikian menurut Munoz.

Pasukan keamanan Bhutto sendiri gagal untuk menyelamatkannya. Pihak-pihak yang memintanya kembali ke Pakistan pun tidak menyediakan penjagaan untuknya, kata Munoz menjelaskan argumentasinya.

Amerika Serikat pernah menyarankan Bhutto untuk menyewa perusahaan penyedia jasa keamanan yang sebelumnya dikenal sebagai Blackwater, ungkap Munoz, tetapi Musharraf menolak keterlibatan agen-agen asing.

“Para aktor politik, bahkan yang dekat dengannya, memilih untuk melupakan peristiwa itu daripada melacak pelakunya,” tambahnya.

“Yang pasti, dia jelas menjadi target Taliban Pakistan dan Al-Qaeda,” tegas Munoz. “Pihak-pihak status quo Pakistan pun menginginkan dia disingkirkan atau mati.”

Dia mengatakan polisi “jelas bertanggung jawab atas upaya untuk menyembunyikan bukti dan saya yakin perintah itu berasal dari perwira tinggi”.

Para penyidik federal terlambat dalam mengakses tempat kejadian perkara (TKP), awalnya akibat beberapa cangkir teh sampai-sampai hari terlalu gelap dan kemudian akibat makan siang besar.

Pada akhirnya mereka hanya mengumpulkan 23 potong bukti dari TKP yang telah diamankan, padahal menurut Scotland Yard Inggris, bukti yang dapat diperoleh dari kasus seperti ini biasanya berjumlah ribuan.

Munoz mengatakan, membayangkan duda Bhutto, mantan presiden Pakistan yang sangat tidak terkenal, Asif Ali Zardari, terlibat dalam kematiannya, adalah hal yang konyol.

“Dia bersikap kooperatif, tetapi sulit bagi saya untuk mengatakan seluruh jajaran pemerintahannya kooperatif sebab rintangan yang kami hadapi begitu beragam,” ujarnya.

Diungkapkannya, mantan menteri dalam negeri Rehman Malik, kepala keamanan Bhutto, sudah berada di sebuah Mercedes pengawal anti peluru namun segera menghilang setelah serangan.

“Kalau boleh jujur, mereka mungkin ingin menyelamatkan diri sendiri,” ujar Munoz. “Kami pun tidak pernah bisa mendapatkan jawaban yang jujur darinya.”

Diplomat itu mengungkapkan biarlah pengadilan yang memutuskan siapa yang bersalah. Tetapi dia menegaskan Musharraf memikul “tanggung jawab politik” karena tidak menyediakan pengamanan yang memadai bagi perdana menteri yang hidup di bawah ancaman tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style