Gadis-gadis Afghan Belajar Mengatakan ‘Tidak’ di Sekolah

,
Dalam gambar yang diambil pada 8 Juli 2013 ini, siswi Afghanistan mengikuti pelajaran di desa Dah Yaya, distrik Dih Sabz, provinsi Kabul. AFP PHOTO/SHAH Marai
Dalam gambar yang diambil pada 8 Juli 2013 ini, siswi Afghanistan mengikuti pelajaran di desa Dah Yaya, distrik Dih Sabz, provinsi Kabul. AFP PHOTO/SHAH Marai

DAH YAYA, 14 Juli 2013. Oleh Edouard Guihaire (AFP) – Dah Yaya adalah desa di Afghanistan yang terhampar di bukit terjal berbatu dengan tradisi yang membatasi perempuan sebagai warga negara kelas dua di negeri miskin papa yang dikoyak oleh pemberontakan Taliban ini.

Tapi di sebuah sekolah yang didirikan oleh seorang perempuan Afghanistan-Amerika yang mendapat penghargaan sebagai 10 besar pahlawan tahun 2012 dari jaringan TV CNN, perempuan belajar untuk bermimpi tentang masa depan yang berbeda, untuk berani mengatakan “tidak” pada dikte dari orangtua mereka.

Walaupun jaraknya hanya 40 menit berkendara dari Kabul, desa itu terasa seperti negeri antah berantah. Jalannya berliku-liku melalui bukit gersang berdebu yang mengelilingi ibukota Afghanistan, melewati rumah-rumah dari bata-lumpur.

Perempuan dan anak-anak perempuan mengenakan burqa. Hanya setelah mereka aman di balik gerbang Zabuli Education Center, barulah gadis-gadis sekolah itu mencopot burqa mereka dan menggantung penutup wajah itu di pegangan tangga.

Didirikan oleh Razia Jan sebagai bagian dari perjuangannya untuk mendidik anak perempuan di pedesaan Afghanistan, sekolah ini ingin perubahan yang tepat di negara yang kondang dengan buruknya hak-hak asasi perempuan tersebut.

‘Saya memiliki 400 anak perempuan,’ kata Jan, yang mendirikan sekolah pada tahun 2008. Didanai oleh donor swasta, sekolah ini menawarkan pendidikan gratis kepada siswa.

‘Kami membuat gadis-gadis ini mampu menyuarakan pikiran mereka sendiri, sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka dan mereka tidak menginginkannya, mereka melawannya, mereka memiliki kekuatan untuk mengatakan tidak, tidak, tidak,’ tambahnya.

‘Semakin banyak pendidikan yang ada, semakin banyak pintu terbuka bagi mereka.’

Terjadi peningkatan besar dalam jumlah anak perempuan yang bersekolah sejak jatuhnya rezim represif Taliban pada tahun 2001 yang disebut-sebut sebagai salah satu prestasi terbesar dari intervensi Barat di negara ini.

Dari tahun 1996 hingga 2001, Taliban melarang anak perempuan bersekolah. Menurut Kementerian Pendidikan Afghanistan, 42 persen murid sekolah adalah anak perempuan.

Tapi rendahnya kehadiran dan ketidakhadiran adalah masalah utama. Berulangnya kasus gawat berupa pelecehan, intimidasi, dan kekerasan menjadi pertanda bahwa bagi banyak perempuan di berbagai pelosok negara ini, belum banyak yang berubah.

Namun Zabuli Education Center memberikan pendidikan di atas rata-rata kepada anak-anak perempuan. Mereka belajar bahasa Inggris sejak usia empat tahun, dan mereka juga memiliki akses ke komputer dan Internet.

Beberapa orang gadis mengaku menjadi penggemar superstar AS Jennifer Lopez dan idola asal Kanada, Justin Bieber – penyanyi pop yang jauh melampaui cakrawala tradisional budaya Afghanistan.

Zuhal Ansaari, 15, menggemari seni dan meyakini bahwa suatu hari ia bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang guru.

‘Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama,’ katanya kepada AFP.

‘Jika seorang wanita berpendidikan, perannya dalam keluarga menjadi lebih penting, dia bisa mengajarkan anak-anaknya dan memiliki kehidupan yang lebih baik, karena pengetahuan dia setidaknya sama seperti suaminya.’

Nazaneen Jahd, 14, bahkan percaya bahwa suatu hari seorang wanita bisa memimpin negeri itu jika dia dididik dengan memadai dan mendapat kesempatan.

‘Saya berharap pemimpin itu akan segera ada,’ katanya.

Menurut Girl’s Education Initiative dari PBB, tingkat melek huruf untuk perempuan Afghanistan berusia 15-24 adalah 18 persen, dibandingkan dengan 50 persen untuk anak laki-laki, dan hanya 13 persen anak perempuan yang tamat SD.

Organisasi ini mengutip statistik yang memperkirakan rata-rata usia perkawinan 17 tahun, sementara angka pernikahan dini (di mana setidaknya satu pengantin berusia di bawah 18) mencapai 43 persen dari semua pernikahan, yang berperan dalam menyebabkan kesenjangan jender dalam pendidikan.

‘Ketika seorang anak perempuan menjadi dewasa atau remaja, orangtua mereka, terutama ayah mereka, dapat memaksa seorang gadis untuk menikah, bahkan dengan seorang pria usia 65-tahun,’ kata Nahid Alawi, seorang guru di sekolah.

Sekolah mungkin tidak dapat ikut campur dalam urusan keluarga, tapi sekolah memiliki misi untuk mendukung gadis-gadis yang berani bersikap asertif.

‘Saya bisa memberikan saran kepadanya: belum waktunya untuk menikah, tapi sayangnya beberapa keluarga memaksa mereka untuk menikah,’ kata Alawi.

Rahila Rohullah, di kelas sembilan, berjuang melawan keluarganya selama enam bulan ketika ayahnya mencoba untuk memukul dan mengancam akan menikahkannya dengan ayah seorang gadis yang ingin dinikahi sendiri oleh ayahnya.

Dia menolak, menemukan perlindungan di sekolah yang memungkinkan dia untuk bertahan sampai ayahnya akhirnya menyerah.

‘Saya sendirilah yang memutuskan dengan siapa saya akan menikah, dan saya tidak akan membiarkan orangtua saya memaksa saya. Ini hak setiap perempuan,’ katanya.

Mer Ruhullah, kepala desa yang mengirimkan empat putrinya ke sekolah, mengatakan perilaku warga mulai berubah dan memuji sekolah yang mengubah kehidupan perempuan di desa.

‘Tentu saja ada orang yang tidak ingin ada sekolah semacam itu untuk anak perempuan di desa kami. Ada juga orang yang tidak menyekolahkan anak-anaknya, tapi masanya telah berubah. Pikiran orang lebih terbuka sekarang,’ katanya.

Tapi Jan mencemaskan bahwa pada satu hari jerih-payahnya akan hancur bila Taliban kembali ke pemerintahan dalam suatu perjanjian damai menyusul penarikan mundur tentara NATO yang dipimpin AS tahun depan.

‘Kita tak bisa mempercayai mereka, mereka pembunuh,’ katanya.

‘Sekali kita digigit ular, kita jangan pergi ke sarangnya lagi untuk digigit,’ ujarnya.

 

 

 

Leave a Reply
Berita terkait
Aquila Klasik