Modest Style

Facebook Membuat Kita Terhubung Tapi Tidak Membahagiakan

,
Seorang wanita memeluk laptop berstiker 'like'. AFP photo/Gerry Images/Justin Sullivan
Seorang wanita memeluk laptop berstiker ‘like’. AFP photo/Gerry Images/Justin Sullivan

WASHINGTON, 14 Agustus 2013. Oleh Rob Lever (AFP) – Orang yang menggunakan Facebook mungkin merasa lebih terhubung, tapi kurang bahagia.

Sebuah penelitian pada orang dewasa muda yang dirilis Rabu menyimpulkan bahwa semakin sering orang menggunakan Facebook, semakin buruk perasaan mereka setelahnya.

Sekilas, Facebook menyediakan sumber tak ternilai bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia akan hubungan sosial,’ kata psikolog sosial dari University of Michigan, Ethan Kross, penulis utama penelitian tersebut.

‘Namun, bukannya meningkatkan kebahagiaan, kami menemukan bahwa penggunaan Facebook meningkatkan kemungkinan sebaliknya — yaitu mengurangi kebahagiaan.’

Para peneliti merekrut 82 orang dewasa muda yang memiliki smartphone dan akun Facebook dan menilai kebahagiaan subjektif mereka dengan mengirim mereka SMS secara acak lima kali kali sehari selama dua minggu.

Para peneliti mengatakan studi ini, yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLOS, diyakini merupakan pengukuran pertama dampak Facebook pada kebahagiaan dan kepuasan hidup.

‘Hasil penelitian ini sangat penting karena langsung diarahkan ke dampak fundamental pengaruh jaringan sosial pada kehidupan manusia,’ kata pakar cognitive neuroscience University of Michigan, John Jonides, penulis lain dari penelitian ini.

Para peneliti memonitor kelompok studi dengan menanyakan perasaan mereka, apakah mereka khawatir atau kesepian, seberapa sering mereka menggunakan Facebook, dan seberapa banyak mereka berinteraksi ‘langsung’ dengan orang lain.

‘Semakin sering orang menggunakan Facebook pada satu waktu, semakin buruk perasaan mereka pada waktu berikutnya ketika kami mengirim SMS kepada mereka,’ tulis para peneliti. ‘Semakin banyak mereka menggunakan Facebook lebih dari dua minggu, tingkat kepuasan hidup mereka semakin menurun dari waktu ke waktu.’

Sebaliknya, interaksi personal menyebabkan orang untuk merasa lebih baik seiring berjalannya waktu, demikian para peneliti mencatat.

Para ilmuwan juga tidak menemukan bukti bahwa penggunaan Facebook hanyalah gejala perasaan sedih. Orang lebih kecil kemungkinannya untuk menggunakan Facebook ketika mereka sedih, meskipun mereka lebih sering menggunakan jejaring sosial ketika mereka kesepian.

‘Bukan berarti penggunaan Facebook merupakan pelampiasan dari perasaan buruk atau kesepian,’ kata Kross.

Namun para peneliti memutuskan untuk tidak mengklaim efek yang sama bagi semua pengguna Facebook atau jejaring sosial lainnya.

‘Kami berkonsentrasi pada orang dewasa muda dalam penelitian ini karena mereka mewakili inti demografi pengguna Facebook,’ kata studi tersebut.

‘Namun, penting untuk meneliti apakah temuan ini dapat digeneralisasikan ke kelompok usia lainnya. Penelitian di masa mendatang juga harus meneliti apakah temuan ini berlaku umum pada situs jejaring sosial lainnya.’

Studi ini muncul seminggu setelah peneliti Inggris menerbitkan sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa sering memposting foto di Facebook dapat merusak hubungan di kehidupan nyata.

Makalah diskusi yang dipimpin oleh David Houghton dari Universitas Birmingham mengatakan bahwa posting foto-foto di Facebook, terutama foto diri sendiri, tidak selalu disukai oleh teman-teman yang kurang akrab.

‘Orang-orang, selain teman-teman yang sangat dekat dan kerabat, tampaknya tidak menyukai orang yang terus-menerus berbagi foto diri,’ kata Houghton.

Para peneliti menunjukkan bahwa walaupun Facebook menciptakan kelompok ‘pertemanan’ yang homogen, sebagian besar pengguna memiliki berbagai jenis hubungan dengan orang-orang yang dapat melihat postingan mereka.

‘Perlu diingat bahwa informasi yang kita posting ke ‘teman-teman’ kita di Facebook pada dasarnya akan dilihat oleh berbagai kategori orang: mitra, teman, keluarga, kolega dan kenalan, dan masing-masing kelompok tampaknya memiliki pandangan yang berbeda terhadap informasi yang kita bagi,’ kata peneliti.

Leave a Reply
<Modest Style