Modest Style

Es Krim yang Membuat Pengungsi Suriah Menangis

,
Warga menikmati es krim di luar toko es krim 'Bakdash', waralaba dari Suriah yang dibuka di Jalan Madinah Munawwarah di ibukota Yordania, Amman, 29 Mei 2013. Bakdash dianggap sebagai salah satu toko es krim khas Arab tertua di dunia, terletak di bazaar Al-Hamidiyeh di Damaskus yang diguncang perang. Kelezatannya kini membuat masyarakat di Amman menitikkan air liur, tapi kenangan akan es krim ini juga membasahi mata warga Suriah yang melarikan diri dari konflik di negara mereka dan merindukan cita rasa khas kampung halaman. AFP PHOTO/KHALIL MAZRAAWI
Warga menikmati es krim di luar toko es krim ‘Bakdash’, waralaba dari Suriah yang dibuka di Jalan Madinah Munawwarah di ibukota Yordania, Amman, 29 Mei 2013. Bakdash dianggap sebagai salah satu toko es krim khas Arab tertua di dunia, terletak di bazaar Al-Hamidiyeh di Damaskus yang diguncang perang. Kelezatannya kini membuat masyarakat di Amman menitikkan air liur, tapi kenangan akan es krim ini juga membasahi mata warga Suriah yang melarikan diri dari konflik di negara mereka dan merindukan cita rasa khas kampung halaman. AFP PHOTO/KHALIL MAZRAAWI

AMMAN, 4 Juni 2013, oleh Rana El Moussaoui (AFP) – Aroma menggoda susu yang direbus, vanili, gom arab, dan kacang pistachio, dentuman berirama palu kayu di dalam tong baja, serta denting sendok di gelas mengiringi percakapan ceria.

Itulah pemandangan, suara, dan aroma Bakdash yang dianggap sebagai salah satu toko es krim khas Arab tertua di dunia dan terletak di bazaar Al-Hamidiyeh di ibukota tertua di dunia, Damaskus, yang diguncang perang.

Kelezatan sensual ini membuat masyarakat di ibukota Yordania, Amman, menitikkan air liur.  Tapi kenangan akan es krim ini juga membasahi mata warga Suriah yang melarikan diri dari konflik di negara mereka dan merindukan cita rasa khas kampung halaman.

Yang mereka rindukan adalah ‘booza’ Bakdash, sejenis es krim Timur Tengah yang unik dengan tekstur elastis, seperti gula-gula atau permen kenyal. Untuk menambah rasa dan tekstur yang berbeda, mereka menggunakan salep, yaitu tepung yang terbuat dari umbi-umbian anggrek mascula.

Mohammad Hamdi Bakdash membuka tokonya di Al-Hamidiyeh pada tahun 1895, dan hingga kini masih beroperasi di sana meskipun perang saudara telah menewaskan lebih dari 94 ribu orang dan semakin mengancam ibukota negara itu.

Awal bulan ini, waralaba Bakdash dibuka di Amman, di jalan Madinah Munawwarah. Dekorasinya identik dengan suasana makanan cepat saji di Bakdash sendiri, dengan lampu-lampu neon menyilaukan, cermin-cermin besar, barisan meja panjang dan para pelayan meremas wadah es krim contong untuk dibawa pelanggan.

‘Saya sangat terharu,’ kata Sleiman Muhanna, seorang profesor arsitektur Suriah yang mengajar di ibukota Suriah dan Yordania. ‘Mereka telah menciptakan kembali jiwa Damaskus.’

Janoub, warga Yordania berusia 25 tahun yang menjalankan toko Bakdash di Amman, mengatakan 60 sampai 70 persen pelanggannya adalah orang Suriah, banyak di antaranya termasuk dalam hampir setengah juta warga negara tersebut yang telah mengungsi dan sekarang tinggal di Yordania.

Dia juga menceritakan dampak emosional tempat tersebut.

‘Saya melihat wanita-wanita tua menangis ketika mereka datang ke sini,’ katanya.

Janoub berbicara selagi dua orang pemuda, dengan bandana putih melilit kepala mereka, menumbuk booza dengan pentungan kayu panjang yang terlihat seperti alu raksasa untuk melunakkan booza dan membuatnya lebih elastis. Bagi mata awam, adonan yang ditarik keluar dari wadah itu tampak seperti adonan pizza atau bahkan permen karet.

Sambil bekerja, Mohammed yang berusia 24 tahun menceritakan bagaimana dia baru datang dari Bakdash pusat untuk bekerja di Bakdash cabang Yordania beberapa minggu yang lalu.

Damaskus ‘tidak seperti sebelumnya. Situasinya terus memburuk. Di sini seperti berada di rumah, tapi ini bukan Damaskus yang sebenarnya.’

‘Mereka mengatakan aroma Damaskus ada di sini, tapi mereka semua rindu ingin pulang.’

Risiko Mengangkut Booza

Penumbukan dilakukan di Amman, dan produk akhirnya dicampur dengan pistachio serta bahan-bahan lezat lainnya untuk penyajian, tetapi es krim itu sendiri masih dibuat di Damaskus untuk ‘mempertahankan cita rasa sejati Suriah’, kata Janoub.

Tapi membawanya ke Amman, 170 kilometer ke arah selatan, sarat dengan risiko.

‘Es krimnya dibuat di Al-Hamidiyeh dan diangkut setiap hari dengan truk berpendingin,’ jelas Janoub.

Truk-truk itu menuju ke selatan melalui Suweida, kemudian melintasi Daraa sebelum menyeberang perbatasan, sambil terus menghindari daerah-daerah yang dibom dan rintangan di sepanjang jalan.

‘Kadang-kadang (rintangan itu datang dari) FSA (pemberontak Tentara Pembebasan Suriah), kadang-kadang tentara (nasional) dan kadang-kadang geng kriminal.’

Sementara dua karyawannya berasal dari Bakdash di Damaskus, Janoub mengatakan karyawan yang lain pengungsi atau mereka yang melarikan diri demi menghindari paksaan masuk dinas militer, yang wajib pada usia 19.

Salah satunya adalah Karim, wajahnya yang takut-takut jarang tersenyum.

Dia berasal dari kota barat tengah Homs dan menolak mengatakan nama sebenarnya. ‘Orang tua saya masih di sana, dan saya melihat tiga sepupu saya dibunuh di depan mata saya.’

Dia mengatakan, dia pergi pada bulan Juli ketika usianya mencapai 19 tahun ‘karena saya tidak ingin berperang di pihak tentara nasional.’

Selagi pelanggan menikmati booza mereka, ia menceritakan sebuah kisah pahit yang mirip dengan begitu banyak pemuda lain seusianya.

‘Abang saya, yang berumur 24, mengatakan salah satu dari kami harus pergi dan bergabung dengan perang melawan rezim. Dia pergi, dan saya di sini.’

Untuk saat ini, jalan Madinah Munawwarah telah menjadi semacam Suriah kecil, penuh dengan toko dan restoran yang mengingatkan mereka akan kampung halaman.

Tapi begitu banyak hati merasakan hal yang sama: ‘Begitu rezim jatuh, aku akan kembali ke Suriah.’

Leave a Reply
<Modest Style