Modest Style

Empat Reaksi Orang Amerika atas Keislaman Saya

,

Sebagai seorang mualaf yang tinggal di selatan Amerika Serikat, Theresa Corbin seringkali harus menjelaskan agamanya dan apa yang dikenakannya di kepala kepada banyak orang. Di sini ia berbagi empat reaksi terpopuler yang muncul dalam situasi tersebut.

Topik pembicaraan orang-orang di kota. (Foto: Dreamstime)
Topik pembicaraan orang-orang di kota. (Foto: Dreamstime)

Saya warga asli New Orleans. Bagi yang tidak tahu New Orleans, kota ini terletak di dekat hilir Sungai Mississipi di selatan negara bagian Lousiana, Amerika Serikat. Di sana, kami tumbuh dengan menyantap ikan pari yang dijual kiloan, ikut serta dalam karnaval perayaan Mardi Gras, dan berharap dapat menumbuhkan insang ketika kelembaban mencapai 100 persen.

New Orleans adalah rumah saya, dan warganya telah menjadi keluarga saya selama bergenerasi-generasi. Namun sejak saya menjadi mualaf dan mengenakan hijab, sulit bagi orang-orang di sini untuk percaya bahwa saya, seperti mereka, adalah orang selatan asli. Sebagai orang dewasa dan Muslim, saya telah bepergian ke seluruh bagian selatan dari Dallas, Texas sampai Savannah, Georgia. Belum pernah sekalipun saya menemui seseorang yang tidak penasaran dengan siapa saya dan pilihan agama saya.

Beragam reaksi yang saya terima dimulai dari ketidakpercayaan total bahwa, kecuali masalah kepercayaan, saya sama saja dengan mereka hingga rasa penasaran tentang detil-detil kehidupan saya sebagai Muslim. Berikut adalah empat reaksi terpopuler yang saya terima sehari-hari sebagai seseorang dari selatan Amerika.

Penyangkalan

denialPenyangkalan adalah reaksi paling umum yang saya dapatkan, yang merupakan mekanisme pertahanan untuk mengendalikan keterkejutan. Orang-orang yang ada pada kategori ini akan memblokir apapun yang saya katakan pada mereka, dan hanya memandangi penutup kepala saya. Terkadang, di tengah-tengah perbincangan orang ini akan bertanya apakah saya berbicara bahasa Inggris. Jelas sekali tidak ada poin pembicaraan yang terserap bila ia sampai bertanya-tanya apakah saya berbicara bahasa yang sedang kami gunakan.

Beragam pertanyaan lain yang saya dapatkan mulai dari: “Yah, saya tahu Anda berasal dari Amerika, namun dari mana asal orangtua Anda?” sampai “Berapa lama keluarga Anda tinggal di negara ini? Anda pasti berasal dari Timur Tengah, bukan?”

Kepada jenis orang yang tidak dapat atau tidak akan memahami hal seperti ini, saya berusaha sebaik mungkin menjelaskan. Namun jika penolakan untuk memahami tetap tidak terpatahkan, dengan sopan saya mengucap salam dan meninggalkan mereka. Kadang sulit rasanya menahan keinginan untuk mempermainkan mereka dan mengatakan: “Sebenarnya saya tidak bicara bahasa Inggris, dan saya baru saja datang dari Mars.” Namun saya akan menggigit lidah (yang ternyata menyakitkan) dan menahan diri.

Kemarahan

angerKemarahan adalah reaksi paling menyebalkan yang kini semakin jarang saya temui. Orang yang bereaksi dengan kemarahan memahami secara penuh bahwa saya adalah warga asli New Orleans, dan bahwa saya telah membuat pilihan beragama yang tidak tipikal. Kemarahan mereka berasal dari pemikiran bahwa menjadi Muslim berarti menjadi anti-Amerika.

Seorang yang marah sering bertanya: “Bisa-bisanya Anda mengkhianati negara Anda dengan cara ini?” atau “Tidakkah Anda menginginkan kebebasan?”

Saya akan menanggapi orang-orang ini dengan menjelaskan bahwa mereka telah salah memahami makna menjadi Muslim di Amerika yang sebenarnya. Bagaimana bisa saya menjadi anti-Amerika bila saya menikmati kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi Amerika?

 

 

Rasa Penasaran

curiousJenis tanggapan yang ini seringkali adalah yang paling polos. Reaksi yang muncul dapat dimengerti. Meski makin banyak orang Amerika yang menjadi mualaf sekarang ini, hal tersebut masih asing bagi banyak orang selatan.

Beragam pertanyaan yang muncul mulai dari yang memalukan: “Apakah Anda menjadi mualaf karena suami Anda?” sampai yang konyol: “Bagaimana cara Anda mandi dengan mengenakan benda di kepala Anda itu?”

Saya menikmati perbincangan dengan orang-orang yang bereaksi dengan rasa penasaran. Mereka adalah orang-orang yang mudah mengubah cara pandang (dan kesalahpahaman umum) mereka tentang Muslim. Saya meluangkan waktu sebanyak mungkin dengan orang-orang seperti ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

 

 

Keterkejutan

surpriseReaksi ini sesekali muncul. Dan saya sama terkejutnya mendapatkan reaksi semacam ini. Orang yang memberikan reaksi ini terhadap pilihan beragama saya memahami beratnya membuat  keputusan sebesar ini, dan biasanya merasa kagum dengan pilihan yang saya buat untuk menjalani cara hidup yang tidak umum.

Pertanyaan yang muncul dari orang-orang dengan reaksi ini adalah yang paling simpatik: “bagaimana reaksi keluarga Anda? Apa yang mendorong Anda mebuat keputusan ini? Apakah Anda menjadi tontonan masyarakat karena penutup kepala Anda?”

Menurut saya, orang-orang yang bereaksi seperti ini sebenarnya pernah, dengan satu dan lain cara, berniat membebaskan diri dari tuntutan-tuntutan yang diberikan pada mereka. Mereka melihat saya sebagai seseorang yang berhasil menjalankan hidup yang menjadi pilihan saya dan bukan yang orang lain pilihkan untuk saya.

Terkadang sulit untuk menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepada saya dalam waktu yang singkat. Jadi saya menyarankan mereka untuk mengunjungi blog saya yang berisi tentang hidup saya sebagai seorang mualaf.

Menjadi Muslim Amerika merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan dan menyampaikan kepada orang lain apakah Islam itu, dan bahwa siapapun bisa menjadi seorang Muslim.

Leave a Reply
<Modest Style