Modest Style

Donor Organ: Antara Kepentingan Rakyat dan Negara

,

Elest Ali membahas bagaimana masalah donor organ telah menyebabkan kecemasan dan perpecahan di antara masyarakat Turki.

Sebuah masalah yang mengaburkan batas. (Gambar: PhotoXpress)
Sebuah masalah yang mengaburkan batas. (Gambar: PhotoXpress)

Dari dompetnya, Osman mengeluarkan lipatan kertas dan membukanya di atas meja di antara kami. “Lihat? Ini milik saya,” seringainya polos, seakan kepemilikan selembar kertas tersebut merupakan bentuk perlawanan kuat dan bukan sebuah usaha pribadi mempertahankan hak anumerta atas tubuh, apa yang kebanyakan orang lihat sebagai hak azasi dasar manusia. Kertas tersebut berisi surat bertulisan tangan kasar yang menekankan keinginan Osman untuk tidak mendonorkan organ dan jaringan tubuhnya. Sebagai penguat, tiga temannya turut menandatangani surat tersebut selaku saksi.

Osman adalah bagian dari tren yang sedang berkembang di Turki sebagai reaksi terhadap aturan baru yang diusulkan oleh Kementerian Kesehatan. Jika aturan tersebut diberlakukan, pengambilan organ tubuh dari seorang yang telah meninggal tanpa izin dari keluarganya dapat dilakukan, bahkan bila yang bersangkutan tidak terdata dalam daftar donor dan tidak membawa kartu donor. Hukum yang diusulkan menyatakan bahwa kecuali ketidaksediaan berdonor dapat dibuktikan oleh yang bersangkutan, organ dan jaringan tubuh akan diambil untuk transplantasi. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan saat Anda baru saja meninggal dan berada di alam lain di mana berkomunikasi dengan mahluk hidup hampir tidak mungkin.

Donor organ untuk transplantasi merupakan masalah yang terus menimbulkan perdebatan di antara masyarakat Muslim dunia. Pihak pejabat keagamaan yang mendukung gerakan ini antara lain adalah Dewan Ulama Besar Arab Saudi, Otoritas Keagamaan Iran, Akademi Al-Azhar Mesir, dan Dewan Muslim Inggris.[i]

Pendapat lain mengenai masalah donor organ disampaikan oleh Mufti Mohammed Zubair Butt dari Dewan Muslim Inggris yang menyebutkan, “Sejumlah besar ulama Muslim berpendapat bahwa donor organ tidak diperbolehkan. Mereka menganggap bahwa donor organ membahayakan penghargaan istimewa yang diberikan kepada manusia dan hal tersebut tidak boleh dilakukan atas dasar apapun. Beberapa ulama seperti ulama Akademi Fiqh Islam India hanya mengizinkan donor dari pendonor hidup.”[ii]

Ada pula pendapat ulama lain yang Osman, seorang Muslim biasa, jadikan pedoman. Pendapat ini menekankan pentingnya mengusahakan kesembuhan penyakit, namun menyatakan bahwa tidak diizinkan seseorang memberi atau menerima donor organ untuk transplantasi. [iii]

Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menurunkan penyakit dan penawarnya dan Dia telah menentukan setiap penawar untuk setiap penyakit. Jadi rawatlah dirimu sendiri dengan menggunakan obat-obatan sekuatmu, tetapi jangan menggunakan sesuatu yang jelas-jelas dilarang.” [iv] Hadits ini dikutip oleh Syekh Ömer Öngüt dalam karya panjangnya İnsanın Yaratılışı ve Organ Nakli (Penciptaan Manusia dan Donor Organ). Pandangan Syekh Ömer menimbulkan kontroversi pada 2004 saat media Turki mencacinya setelah Sabah, sebuah harian, mempublikasi wawancara “off the record” dengannya. Dalam wawancara tersebut, ulama anti-media itu secara lugas menganjurkan seorang wartawan untuk menolak donor organ.

Osman telah mempelajari sangat banyak buku Syekh Ömer. Ia yakin bahwa hidup dan tubuh manusia dianggap suci di dalam agama Islam, dan merupakan sebuah hadiah istimewa yang dipinjamkan kepada kita. Menurutnya, apa yang memang bukan milik kita tidak boleh kita berikan kepada orang lain. Ia juga menambahkan bahwa dalam kepercayaan Islam bagian tubuh kita akan bersaksi atas apa-apa saja yang telah kita lakukan dengannya di hari perhitungan. “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS An-Nur:24) [v]

Saya mencoba memancing perdebatan dengan menyampaikan sebuah paradoks: lalu bagaimana dengan menyelamatkan nyawa seseorang saat kita mampu dan, sebagai seorang yang beriman, memiliki tanggung jawab untuk melakukannya? Dalam hal ini, mendonorkan organ untuk menyelamatkan nyawa orang lain menjadi, secara teori, hal yang lebih Kristiani, atau lebih Islami, untuk dilakukan, bukan? Ia menggelengkan kepala. “Bukan hak kita menentukan hidup matinya seseorang.”

Menanggapi pendapat Osman, sekarang saya akan membicarakan area abu-abu yaitu kematian otak.

Konsep medis “kematian otak” (atau “kematian batang otak”) pertama kali diperkenalkan tahun 1965. Menurut Turog RD dalam sebuah laporan Hastings Center, konsep ini diterima secara luas di negara-negara Barat dan digunakan untuk menetapkan batasan-batasan etis dan hukum pengambilan organ untuk transplantasi. Transplantasi organ membutuhkan jaringan hidup, sehingga kebanyakan organ harus diambil dari pasien yang dinyatakan “mati secara medis” yang berarti mengalami “mati otak”, namun memiliki jantung yang masih berfungsi. Meski begitu, kekhawatiran atas hubungan teoris dan konsistensi internal konsep tersebut tetap ada. [vi]

Penemuan medis membuktikan bahwa batang otak bukan satu-satunya alat pengendali fungsi tubuh. Lebih jauh lagi, ada beberapa kasus langka yang menunjukkan bahwa hilangnya fungsi otak bukannya tidak dapat diperbaiki. [vii] Di sejumlah negara termasuk Jepang, kematian otak tidak dianggap sebagai kematian sungguhan. Dan bagi penentang donor organ, kematian otak hanya omong kosong yang digunakan para dokter untuk mengambil apa yang mereka perlukan, saat mereka memerlukannya.

Di antara umat Muslim yang mendukung donor organ, Al-Maidah 32 merupakan ayat yang paling sering dikutip. “… Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [viii] Osman sudah akrab dengan argumen ini. Ia menanggapi dengan, “Itu kutipan yang baik, namun isi ayat itu sebelumnya adalah ‘barang siapa yang membunuh seorang manusia … maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.’” [ix]

Osman melanjutkan, “Seseorang bisa saja sedang sekarat, namun suntik mati terlarang di agama kita. Begitu pula mematikan seseorang yang sekarat dengan mengambili organnya.” Ia kemudian menunjukkan sebuah bagian dari karya Syekh Ömer tadi. Ia menggarisbawahi kata “Ihyaha” di dalam ayat tersebut. “Ihyaha” umumnya diterjemahkan sebagai “selamat”, namun istilah tersebut memiliki makna yang lebih mendekati “bangkit”. Di Turki, kami juga menggunakan istilah yang sama untuk “membangun” atau “memperbaiki” sesuatu. Intinya jelas, ayat tersebut (yang kemudian diikuti oleh ayat lain yang menyatakan bahwa Tuhan telah mengirimkan nabi kepada bangsa Israel dengan tanda yang jelas) berhubungan dengan kebangkitan spiritual. Terutama karena seseorang dapat menyelamatkan hidup saudaranya secara fisik, namun tidak dapat membangkitkan atau menghidupkan dirinya sendiri dari kematian.

Osman memiliki dasar yang kuat. Mari tambahkan laporan terbaru Dr Sam Parnia dari Stony Brook University Hospital New York ke dalam argumennya. Studi yang dilakukan Dr Parnia menunjukkan bukti bahwa kesadaran manusia tidak hilang saat tubuhnya mati. [x] Konsep ini akrab dengan kaum Muslim atau pengikut agama lain yang mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Rasulullah SAW bersabda, “Menghancurkan (merusak) tulang orang yang sudah meninggal sama dengan menghancurkannya dalam keadaan hidup.”[xi] Hadits ini menunjukkan kesucian tubuh manusia, juga kepercayaan bahwa yang mati tetap memiliki tingkat kesadaran tertentu setelah kematiannya.

Pengambilan organ dan jaringan tubuh disahkan di Turki tahun 1979. Saat ini,mafia perdagangan organ menggila di negara tersebut (dalam bulan Oktober saja, sebuah kelompok mafia beranggotakan 26 telah ditahan), sedangkan banyak rumah sakit menyatakan bahwa mereka menghadapi masalah kekurangan organ transplantasi yang sangat besar.

Dalam upaya meningkatkan jumlah pendonor organ dan mendukung usulan kontroversial pemerintah, Kementerian Agama Turki (badan semi-pemerintah dengan pendanaan dari negara) mengeluarkan fatwa yang mengizinkan donor organ Maret lalu.

Namun, masyarakat Turki yang waspada tidak merasa fatwa tersebut pantas dikeluarkan untuk memaksakan penerimaan terhadap aturan yang diusulkan. Mereka juga tidak percaya bahwa aturan untuk tidak ikut serta menjadi pendonor dapat dilaksanakan dengan benar dalam sebuah negara marak korupsi. Banyak orang yang, seperti Osman, merasa hak azasi mereka terancam.

Berbicara tentang surat “ketidakikutsertaannya”, Osman berkata, Ini bentuk upaya kami, namun siapa yang dapat memastikan bahwa [kertas ini] tidak akan diambil dan dihancurkan saat kami sedang terbaring di atas meja operasi?” Inilah ketakutan yang yang ada di masyarakat, kecurigaan terhadap pihak yang berwenang, yang bermunculan di Turki kini. Osman adalah seseorang yang relijius. Kekecewaan terhadap para politisi dan kesadaran akan adanya kekuasaan tersembunyi yang dipegang oleh sekte “keagamaan” tertentu dengan tujuan politis membuatnya menyimpan pendapatnya sendiri.

Yang ia lihat, setiap orang berusaha mendapatkan apa yang mereka bisa, dan rakyat selalu menjadi pihak yang harus menanggung beban. “Mereka telah merampas kekayaan kami, kesehatan kami, ketenangan hidup kami. Mereka telah merampas pekerjaan kami dan masa depan anak-anak kami. Sekarang mereka menginginkan organ kami saat kami sekarat! Negara ini seperti lelucon payah,” tutupnya.

 


[i] ‘Islam and Organ Donation: a guide to organ donation and Muslim beliefs’, NHS, UK, tersedia di sini.
[ii] NHS Blood and Transplant, ‘Organ Donations and Religious Beliefs’, tersedia di sini.
[iii] Ömer Öngüt, İnsanın Yaratılışı ve Organ Nakli, Hakikat Publishing, 2005, pp. 171-175.
[iv] Sunan Abu Dawud 3874, tersedia di sini.
[v] Surat An-Nur  24-30, tersedia di tersedia di sini.
[vi] Truog RD, ‘Is it time to abandon brain death?’, Hastings Center Report, Jan-Feb 1997; 27(1): 29-37, pratinjau tersedia di sini.
[vii] H Kerridge, et al.,’Death, dying and donation: organ transplantation and the diagnosis of death’, Journal of Medical Ethics, 2002; 28:89-94, tersedia di sini.
[viii] Surat Al Maidah 32, tersedia di sini.
[ix] Surat Al-Maidah 32, tersedia di sini.
[x] Interview with Dr Sam Parnia by Brandon Keim, ‘Consciousness After Death: Strange Tales From the Frontiers of Resuscitation Medicine’, Wired, 4 Apr 2013, tersedia di sini.
[xi] Sunan Abu Dawud 3207, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style