Modest Style

Di Lebanon, Warga Suriah yang Terguncang Bertahan Hidup

,
Seorang wanita Suriah lanjut usia yang melarikan diri dari kekerasan di Qusayr baru-baru ini membawa barang bawaannya setelah kedatangannya di kotamadya Arsal di desa Beeka di mana ia akan mendaftarkan namanya dan mendapatkan tempat penampungan pada tanggal 14 Juni 2013. FOTO AFP / Joseph EID
Seorang wanita Suriah lanjut usia yang melarikan diri dari kekerasan di Qusayr baru-baru ini membawa barang bawaannya setelah kedatangannya di kotamadya Arsal di desa Beeka di mana ia akan mendaftarkan namanya dan mendapatkan tempat penampungan pada tanggal 14 Juni 2013. FOTO AFP / Joseph EID

Oleh Rita Daou (AFP) – Kesedihan tergurat di wajah perempuan 45 tahun bernama Jamila, yang tinggal di tempat terbuka di halaman kotamadya Arsal di Lebanon dan masih trauma atas pelariannya dari bekas markas pemberontak Qusayr di Suriah.

Bersama dengan suaminya yang tengah sakit dan ketiga anaknya, ia melarikan diri dari kota Homs, provinsi di wilayah tengah Suriah beberapa jam sebelum kota itu jatuh ke tangan pasukan pemerintah yang didukung oleh Hezbollah, Lebanon, pada tanggal 5 Juni.

Mereka harus menyaksikan sesama warga Suriah yang mati dikuburkan begitu saja di tepi jalan sepanjang perjalanan mereka mencari perlindungan di kota Arsal menyeberangi perbatasan di Lebanon.

Kini mereka berjuang untuk bertahan, tanpa rumah tinggal dan hampir tak ada jalan untuk mencari makan. Ketika makanan dibagikan, ratusan pengungsi akan mengantre untuk bisa menerima jatah.

‘Kami pergi meninggalkan kota kelompok demi kelompok beberapa jam sebelum kejatuhannya. Kami betul-betul berlari, masing-masing berjuang untuk dirinya sendiri,’ kata Jamila, suaminya yang sakit terbaring di atas kasur tak jauh darinya.

‘Lusinan yang meninggal karena kehausan, atau karena luka-luka, atau hanya karena kelelahan,’ ujarnya, mengenakan kerudung hitam, suaranya terbata-bata.

‘Para lelaki menggali kubur bagi mereka yang meninggal dengan tergesa. Sungguh mengerikan.’

Rasa haus yang terus-menerus mendera, membuat para pengungsi yang kehausan berupaya mengambil getah dari ranting-ranting dan tetesan dari pipa-pipa irigasi.

Dipandu oleh pejuang pemberontak, mereka memakan buah-buahan dari pepohonan sepanjang rute perjalanan, dan bahkan kentang mentah yang digali dari kebun.

Konflik di Suriah, kini memasuki tahun ketiga, telah mengubah wajah kota Arsal, kota kaum muslim Sunni berpenghuni 40.000 warga yang kini menjadi rumah bagi 35.000 pengungsi, termasuk di dalamnya 3.000 orang yang tiba dari Qusayr dalam 10 hari terakhir.

Tanpa tempat tinggal, beberapa pengungsi telah membangun penampungan darurat di pojok-pojok halaman kotamadya, menggantungkan selimut dari pohon ke pohon untuk mendapatkan privasi dan naungan seadanya.

‘Kami tak punya uang dan makanan,’ ujar Jamila.

Agen PBB dan LSM dari Qatar, Denmark dan Norwegia mencoba untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, namun upaya mereka ‘tak mencukupi’, kata anggota dewan kotamadya Wafiq Khalaf menjelaskan, mendesak agar tenda-tenda dibagikan.

Beberapa penduduk telah menawarkan ruang kosong atau gedung-gedung yang dalam perbaikan untuk digunakan sebagai penampungan sementara.

Sebuah kelompok yang terdiri dari 17 orang tinggal di tangga. Di gedung yang lain, Mohammad yang berusia 30 tahun mengambil tempat di garasi untuk tinggal bersama tiga anaknya, yang tertua baru berumur lima tahun.

‘Ibu mereka terbunuh oleh roket di tengah jalan,’ ujarnya sedih.

Bekas anggota partai yang berkuasa, Baath, itu berbicara dengan getir tentang nasibnya.

‘Bertahun-tahun kita menyanyikan lagu ‘Jayalah Bashar al-Ashad’ dan begini balasan mereka kepada kami.’

Di halaman kotamadya, seorang remaja berwajah imut usia 18 tahun tampak dengan luka terbalut perban yang katanya didapatnya ‘dalam pertempuran’.

Ia melarikan diri dari Qusayr berjalan kaki, namun bersikeras untuk kembali ke Suriah ‘untuk menggulingkan rezim’.

Bagi para pengungsi yang lain, kehidupan sehari-hari dan perjuangan untuk bertahan menjadi prioritas utama.

‘Tak ada tempat untuk mencuci… kami sudah tujuh hari hidup tanpa rumah,’ keluh yang lainnya, Rima.

Ia pergi bersama suaminya dan keempat anaknya, termasuk seorang bayi yang baru berusia 10 bulan, dengan mobil.

Mereka berkata mereka dipaksa memutar kembali ke Yordania sebelum tiba di Lebanon dengan berkendara melewati provinsi Damaskus.

Wilayah Arsal bertapal batas sejauh 55 kilometer (34 mil) dengan Suriah, dipenuhi dengan perlintasan ilegal yang digunakan oleh mereka sangat ingin melarikan diri dari pertikaian yang telah menewaskan lebih dari 93.000 orang itu.

Pesawat udara Suriah telah berulang kali mengebom area ini, rezim berkilah bahwa itu adalah upaya ‘mengejar para teroris’, deskripsi mereka untuk para pemberontak.

Kawasan Sunni mendukung penuh pemberontakan Suriah, yang didominasi-Sunni, namun berada di tengah lingkup area yang didominasi Syiah yang menjadi benteng pertahanan gerakan Hezbollah, sekutu dari rezim Damaskus.

Aliran pengungsi tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, dengan datangnya sebuah truk berisi 30 orang berikutnya yang datang pada hari Jumat.

‘Semoga Tuhan membuat mereka menderita seperti mereka telah membuat kami menderita!’ tangis seorang perempuan saat kendaraan itu berlalu.

Leave a Reply
<Modest Style