Di balik maraknya perceraian usia muda

,

Sabar dan saling menghormati adalah kata-kata kunci yang harus dipegang teguh dalam pernikahan. Oleh Khairina Nasution.

Risty Tagor dan suami tahun 2013 lalu. Gambar: Instagram
Risty Tagor bersama suami pada tahun 2013 lalu. Gambar: Instagram

Ariestia Ramadhany Tagor Harahap alias Risty Tagor akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, Rifky Balweel. Pasangan artis yang menikah sejak 2 Oktober 2010 itu merasa sudah tak ada lagi kecocokan di dalam rumah tangga mereka. Sidang perdana keduanya akan digelar pada 11 September 2014 dengan agenda mediasi dan pemeriksaan berkas.

Kepada media, Risty, yang bermain dalam sinetron Anak-anak manusia bersama Rifky, mengaku masih tinggal serumah dengan suaminya itu. Sebab, mereka tidak ingin putra mereka, Arsen Raffa Balweel, mengetahui tentang prahara yang sedang berkecamuk dalam hubungan kedua orang tuanya.

marshanda 2
Marshanda dan putrinya Sienna. Gambar: Instagram

Perceraian Risty dan Rifky menambah daftar panjang pasangan pesohor berusia muda yang bercerai. Sebelum Risty-Rifky, pasangan Adriani Marshanda dan Ben Kasyafani juga telah lebih dulu menjalani sidang perceraian. Perceraian pasangan artis ini menyedot perhatian masyarakat karena keduanya sebekumnya jarang diterpa gosip.

Selain kedua pasangan itu, masyarakat juga menyorot kasus perceraian Ayu Rosmalina alias Ayu Ting Ting dan Henry Baskoro Hendarso. Jauh sebelumnya, ada perceraian Dewi Perssik dengan Saipul Jamil, Julia Perez dengan Damian Perez, dan masih banyak pesohor muda lain.

Ayu Ting Ting dan putrinya Bilqis. Gambar: Instagram
Ayu Ting Ting dan putrinya Bilqis. Gambar: Instagram

Megahnya pesta pernikahan dan melimpahnya materi sebelum dan sesudah pernikahan tampaknya tak menjamin pernikahan kelanggengan para artis ini. Maraknya perceraian artis yang menikah di usia muda juga dikhawatirkan juga mencerminkan banyaknya perceraian pasangan usia muda di Indonesia pada umumnya.

Seperti ditulis bisnis.com, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa tingkat perceraian di tanah air sudah melewati angka 10 persen dari peristiwa pernikahan setiap tahun, atau mencapai 354 ribu kasus. Padahal, ketika ia menjabat Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dua tahun silam, angka perceraian hanya mencapai 215.000. Nasaruddin prihatin melihat bahwa sekarang 80 persen dari perceraian yang terjadi berasal dari pasangan-pasangan muda yang baru 2-5 tahun berumah tangga [i].

Menurut Dra. Suswati, seorang konsultan keluarga sakinah di salah satu radio di Solo, salah satu penyebab banyaknya pasangan muda bercerai adalah karena tidak sabar dalam menghadapi perjalanan pernikahan. Usai akad nikah dan walimah, setiap pasangan tentunya berharap menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tetapi tidak banyak yang sadar bahwa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan wa rahmah itu adalah sesuatu yang harus diusahakan, tidak datang dengan sendirinya.

Dalam Islam, kata Suswati, pernikahan disebut sebagai perjanjian yang kuat (misaaqan ghalizha), seperti dinyatakan di dalam Al-Quran, ”Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.” (4:21)

Sayangnya, pasangan usia muda banyak yang tidak siap sebagai calon suami atau calon istri. Setelah menikah, sedikit ketidakcocokan saja membuat mereka memutuskan untuk berpisah. Dengan usia yang masih muda, mereka berpikir, masih banyak kesempatan untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik.

Padahal, menurut Suswati, yang diperlukan dalam pernikahan adalah kematangan berpikir, dan aspek ini tidak ditentukan usia. Dia mencontohkan orang-orang tua dulu yang pernikahannya tetap langgeng meski pernikahannya dijodohkan dan hidup sederhana.

Suswati juga menyoroti banyaknya perempuan yang seperti merasa tidak butuh laki-laki karena merasa bisa hidup mandiri. Memiliki karier cemerlang dan kehidupan sosial baik membuat banyak perempuan tak telalu menganggap dan menghargai laki-laki. Padahal, dinyatakan dalam Al Quran bahwa baik istri maupun suami harus saling menghargai dan melindungi (4:34).

“Intinya sebenarnya saling menghargai. Perempuan tidak boleh meremehkan suami meski berpenghasilan lebih kecil, sebaliknya suami juga tidak boleh mengecilkan peran istri,” ujar Suswati.

Konsultan pernikahan ini mengaku banyak menangani kasus perceraian dengan penyebab yang terlihat “sepele”. Misalnya, salah satu pasangan yang berkonsultasi kepadanya bercerai hanya karena sang suami saat pulang kerja tidak bisa masuk rumah. Pintu rumah terkunci dan sang istri ketiduran setelah kelelahan karena seharian mengurus rumah tangga.

Dalam pernikahan, seringkali suami atau istri merasa benar sendiri. Seharusnya, kata Suswati, suami istri mencontoh rumah tangga Rasulullah SAW. Nabi dan istrinya Aisyah selalu merasa diri mereka yang salah, sehingga saling melakukan introspeksi dan memaafkan.

“Pernikahan seharusnya berfokus ke akhirat. Suami akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Istri pun selayaknya melayani suami dan keluarga hanya karena Allah,” katanya.

________________________________________

[i] “Data perceraian: Di Indonesia, Sudah Lewati 10%”, Martin Sihombing, Bisnis.com, diakses 4 Sept 2014, tersedia di sini.

Leave a Reply
Aquila Klasik