Modest Style

Detoks Pikiran untuk Sucikan Jiwa

,

Sahar Deshmukh mengeksplorasi gagasan tentang kesucian dalam seluruh aspek agama kita dan makna pentingnya konsep ini terhadap cara kita mengamalkan ajaran Islam.

(Foto: SXC)
(Foto: SXC)

Kita semua tahu bahwa kebersihan penting dalam agama kita. Dan hal itu tidak hanya berlaku untuk urusan kebersihan tubuh. Kesucian hati merupakan elemen kunci dalam mencapai kesejahteraan, perdamaian dan kebahagiaan.

Melatih kontrol diri

Pikiran kita memiliki kendali yang sangat besar terhadap diri. Kita senantiasa merenungkan gagasan demi gagasan. Banyak dari kita tidak cukup mendisiplinkan diri untuk mencoba mengontrol pikiran sendiri. Jangan lupa bahwa setan senantiasa berusaha meyesatkan kita dari ajaran Islam. Tetapi pada akhirnya, keputusan untuk menyerah atau menolak segala bisikan mereka yang tiada putusnya, ada di tangan kita.

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga hati supaya tetap bersih dari segala noda. Al-Quran memberi penekanan yang besar terhadap tema kesucian. Hal ini telah disebutkan dalam Surat Ash-Shams:

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (91:1-10)

Sepenting itulah makna kemurnian jiwa. Bertakwa kepada Allah sebagai fokus utama hidup akan mengantar kita pada usaha menyempurnakan diri dan menjadi Muslim yang lebih baik.

Tujuan tersebut kita capai bukan hanya dengan menolak bertindak mengikuti keinginan sesaat, tetapi juga dengan menjaga pikiran supaya tetap bersih.

Entah karena sifat, perilaku atau kepribadian mereka, kita boleh saja tidak menyukai setiap orang yang kita jumpai. Namun kita juga tidak boleh menumbuhkan kebencian terhadap kekurangan orang lain. Kita sendiri tidak sempurna, jadi bagaimana mungkin kita mengharapkan kesempurnaan dari orang lain? Milikilah keinginan untuk lebih memahami sesama dan berikan waktu kepada mereka untuk memperbaiki diri. Anda mungkin akan takjub dengan kejutan yang menanti.

Menjaga ucapan

Mudah memang untuk terjebak dalam pergunjingan ketika berkumpul dengan teman-teman, tapi janganlah kita larut di dalamnya. Membicarakan orang lain termasuk ke dalam daftar dosa terbesar. Hal ini menimbulkan kecurigaan dan barangkali pendapat yang salah tentang orang lain. Kita bahkan tidak dianjurkan untuk berada di dekat situasi yang berpotensi memicu gosip.

Tetapi jujur saja, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kita bahkan sering tidak menyadari konsekuensi dari mengikuti percakapan yang penuh fitnah. Kadang-kadang kita kita bahkan menyangkal bahwa aktivitas itu berbahaya.

Dalam kuliah berjudul Alchemy of Happiness (Alkimia Kebahagiaan), Syekh Hamza Yusuf dari Zaytuna Institute menekankan betapa pentingnya menjaga ucapan kita. Dia mengatakan:

Allah SWT memerintahkan kita untuk meluruskan cara kita berbicara karena saat lidah digunakan untuk menerjemahkan apa yang ada di hati, inilah indikasi dari hati yang lurus. Jadi, jika lidah kita lurus, berarti hati kita pun lurus.

Karena pikiran berpindah ke ucapan, cara terbaik untuk menghindari risiko mengucapkan kata-kata yang salah adalah dengan membebaskan pikiran dari segala anggapan buruk.

Al-Quran menganjurkan kita untuk melihat sisi baik dari sesama dan menyayangi semua orang di sekitar kita, tanpa memandang ras, latar belakang, religiusitas, status, penampilan dan atribut lainnya. Seharusnya setiap saat pikiran kita diatur untuk berbaik sangka kepada orang lain, menunda  berprasangka dan memperlakukan semua orang dengan baik semata demi Allah.

Allah Maha Mengetahui apa yang ada di hati dan benak setiap umat-Nya. Sebelum menghakimi seseorang, seharusnya kita berkaca pada tindakan sendiri.

Seperti suasana hati yang tercermin pada postur tubuh dan nada bicara, pikiran pun mempunyai kecenderungan untuk memancarkan getaran yang sama. Jadi bila Anda tidak menyukai seseorang, cobalah untuk tidak memperlihatkannya. Terdapat berkah dalam menunjukkan kebaikan terhadap sesama, dan pada akhirnya, kesempatan untuk melakukannya—bahkan sesederhana tersenyum dan mengucapkan ‘Assalamualaikum’—akan semakin besar. Marilah kita bersikap baik pada orang lain. Kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang berpotensi untuk diganjar pahala.

Tentu saja, menghindari orang yang telah menyakiti kita adalah situasi yang sungguh berbeda. Meski demikian, kita mesti selalu menahan diri untuk bersikap kasar terhadap orang-orang seperti itu. Memaafkan adalah sifat yang diinginkan Allah, jadi berusahalah untuk memaafkan mereka yang telah melakukan kesalahan kepada kita.

Jangan lupa, kita sendiri penuh dengan dosa dan Allah selalu mengampuni, jadi kita pun mesti berusaha keras untuk memaafkan.

Mengembangkan perilaku postif secara umum dapat memberikan dampak yang besar pada kehidupan dan menjadi aspek yang penting dalam agama kita. Tidak peduli seberapa sulit keadaannya, iman kepada Allahlah yang mengeluarkan kita dari masa-masa sulit itu. Iman yang teguh dan kekuatan doa menimbulkan harmoni dari dalam diri. Kedamaian batin seperti itu hanya dapat diraih ketika benak kita terbebas dari pikiran buruk dan hati kita bersih dari dendam.

Sebelum memasuki Ramadhan, buatlah tujuan untuk melakukan detoks dari dalam diri. Akui kelemahan, cari bimbingan dalam ajaran Islam, dan berusahalah untuk menyingkirkan segala kebusukan dari sistem tubuh dengan mengabdikan waktu mengingat Allah. Anda akan menjadi lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa dan pengalaman bulan suci akan terasa lebih indah.

Leave a Reply
<Modest Style