Modest Style

‘Desert Flower’, Pusat Perawatan Korban Khitan Perempuan

,
Waris Dirie, model, penulis, aktris, dan aktivis hak asasi manusia asal Somalia disambut dengan tepuk tangan pada pembukaan bangsal rumah sakit untuk mengobati korban mutilasi kelamin perempuan di Berlin pada 11 September 2013. AFP Photo/Odd Andersen
Waris Dirie, model, penulis, aktris, dan aktivis hak asasi manusia asal Somalia disambut dengan tepuk tangan pada pembukaan bangsal rumah sakit untuk mengobati korban mutilasi kelamin perempuan di Berlin pada 11 September 2013. AFP Photo/Odd Andersen

BERLIN, September 11, 2013 (AFP) – Aktivis dan mantan supermodel kelahiran Somalia, Waris Dirie, pada hari Rabu membuka sebuah pusat perawatan di Jerman untuk memberi terapi pada korban mutilasi kelamin perempuan yang ia sendiri pun menjadi korbannya sewaktu kecil.

Sekitar 8.000 gadis kecil dikhitan setiap hari di Afrika dan Timur Tengah, dan Desert Flower Medical Center, yang terletak di sebuah rumah sakit di Berlin, akan memberikan bedah rekonstruksi dan bantuan psikologis kepada sebagian dari 50.000 anak dan perempuan dewasa di Jerman yang membutuhkannya.

Institusi ini merupakan proyek percontohan bagi institusi serupa lainnya yang direncanakan dibangun di Eropa, Afrika, dan Asia.

Sebagai anak perempuan Somalia nomaden, alat kelamin Dirie dimutilasi pada usia empat tahun. Peristiwa ini dia kenang dalam autobiografinya yang laris, ‘Desert Flower‘, yang kemudian dijadikan film pada tahun 2009.

‘Khitan perempuan tidak ada hubungannya dengan agama, budaya, atau tradisi. Ini adalah kejahatan terhadap gadis tak berdosa’ yang harus dihukum, demikian ujar Dirie (48) yang menjadi pelindung pusat perawatan ini, seperti dikutip harian Berlin Tagesspiegel.

Tindakan mutilasi alat kelamin perempuan atau khitan perempuan, meliputi tindakan menghilangkan organ kelamin bagian luar gadis-gadis kecil dengan tujuan memastikan kesucian mereka sebagai wanita.

Operasi yang menyakitkan dan kadang-kadang fatal ini biasanya dilakukan pada anak perempuan berusia antara bayi sampai 15 tahun. Tindakan ini dapat menyebabkan infeksi dan, di kemudian hari, infertilitas serta komplikasi persalinan.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB mengatakan, sekitar 150 juta anak perempuan dan wanita di seluruh dunia harus menanggung konsekuensi dari apa yang dikenal sebagai female genital mutilation (FGM) ini.

Pusat medis di Berlin yang terletak di Rumah Sakit Waldfriede ini akan menangani sekitar 50 sampai 100 wanita per tahun, demikian pernyataan kepala dokter bedah Roland Scherer kepada AFP. Dua pasien minggu ini adalah wanita dari Djibouti dan Ethiopia.

Leave a Reply
<Modest Style