Cinta Islam, cinta Indonesia

,

Selama berpuluh-puluh tahun, Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti telah menanamkan cinta bangsa dan tanah air pada santri-santrinya, tulis Khairina Nasution.

[Not a valid template]

Siang itu, sebelum shalat dzuhur dimulai, lantunan shawalat dan doa mengalun dari mesjid di kompleks Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti, Troso, Klaten, Jawa Tengah. Sekilas, hal ini terdengar biasa saja. Namun saat dicermati, ada doa khusus terlantun untuk Indonesia dan presidennya di sela-sela shalawat.

“Sejak zaman Presiden Soeharto dulu, pesantren ini selalu mendoakan  Indonesia agar aman, Presiden dan Wakil Presiden agar selalu sehat, bisa memimpin rakyat dan sejahtera,” ujar KH Jalaluddin Muslim, pimpinan Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti.

Gus Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Muslim, adalah anak kedua almarhum KH Rifai Muslim Imampuro alias Mbah Liem, pendiri ponpes tersebut. Kyai kharismatik ini meninggal pada 24 Mei 2012 dalam usia 91 tahun. Ribuan orang dari berbagai etnis, suku dan agama saat itu datang untuk mendoakan dan mengantarkan kyai sepuh itu ke peristirahatan terakhirnya.

Mbah Liem memang pencinta Indonesia sejati. Makamnya di kompleks pesantren tersebut dipayungi oleh bendera merah putih. Tak hanya di makam, sang saka merah putih juga berkibar di halaman madrasah, kompleks pesantren, kediaman pengurus, hingga halaman mesjid pesantren. Bendera Indonesia itu berkibar setiap saat, setiap waktu.

Sebagai pembuka acara setiap kegiatan di pesantren, Mbah Liem meminta  para santrinya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Kalau benderanya rusak atau kusam, segera diganti dengan yang baru,” ujar Slamet Raharjo, penjaga madrasah aliyah dan makam.

Mbah Liem memang dikenal sangat fanatik kepada Pancasila. Dasar negara ini bukan dianggap sama dengan agama, tetapi Mbah Liem percaya bahwa perjuangan Pancasila melalui nilai dan normanya akan mengantarkan Indonesia ke jalan agama.

Maka, nama pesantren yang didirikannya pun bukan sekedar Al Muttaqien, melainkan diberi tambahan Pancasila Sakti. Nama ini membedakannya dengan banyak pesantren lain, yang umumnya menggunakan nama yang diambil dari bahasa Arab.

Di dinding Madrasah Aliyah Al Muttaqien Pancasila Sakti terpampang  mural buatan para siswa. Salah satunya bertuliskan “Kami Siap Siaga sebagai Benteng Negara dengan Berbekal Taqwallah”. Ada pula tulisan “NKRI Harga Mati”, yang di atasnya terkutip hadits yang berbunyi “Cinta Tanah Air Bahagian dari Iman.”

“Lukisan itu buatan alumni sini. Mbah Liem meminta siswa membuat mural bertema kebangsaan. Ternyata mereka bisa. Mbah Liem senang sekali,” kenang Slamet, yang sejak belia sudah ikut pengajian Mbah Liem.

Kecintaan Mbah Liem terhadap Indonesia memang mendarah daging. Sebagai pembuka acara setiap kegiatan di pesantren, Mbah Liem meminta  para santrinya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Mbah Liem juga sangat peduli akan kerukunan beragama. Ia membangun sebuah rumah joglo yang diberi nama Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia. Dalam papan nama joglo tertulis: “Meski beda Agama Sekalipun Toh : a) Sesama Hamba Allah. b) Sesama Anak-Cucu Eyang Nabiyullah Adam AS. c) Sesama Penghuni NKRI Pancasila”. Joglo itu selesai dibangun pada 30 Maret 2007, dan kini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Mbah Liem.

Menurut Gus Jalal, ayahnya berpikir bahwa atas nama apa pun, manusia tidak berhak saling meniadakan. Manusia seharusnya saling menghormati meskipun ia berbeda satu dengan yang lain.

“Harus diingat, Indonesia dibangun atas dasar kebhinekaan,” kata Gus Jalal yang kini memimpin 200-an santri di ponpes itu.

Banyak kelompok Islam saat ini yang merasa dirinya paling benar dan memusuhi kelompok lainnya, termasuk orang yang berbeda keyakinan. Namun, Mbah Liem memegang teguh ayat di Surat Al-Kafirun: “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”(109: 6).

Kecintaannya terhadap bangsa membuat Mbah Liem sangat dihormati. Semasa hidupnya, dia sangat dekat dengan Gus Dur dan sering disambangi tokoh-tokoh lainnya. Mbah Liem sendiri berpenampilan sangat sederhana meski banyak yang menggolongkannya sebagai kyai besar. Sehari-hari, dia hanya mengenakan celana panjang dan kemeja sederhana.

Manusia tidak berhak saling meniadakan

Kesederhanaan dan semua ajaran Mbah Liem itu berusaha dilanjutkan oleh Gus Jalal dan tujuh saudaranya. Mereka tetap berpakaian sederhana khas Indonesia, dengan kemeja dan sarung atau celana panjang. Gus Jalal juga berusaha menanamkan rasa cinta tanah air kepada seluruh santrinya dengan harapan sikap itu akan mereka tularkan jika kelak keluar dari ponpes itu.

Di tengah maraknya fanatisme dan ekstrimisme agama di Indonesia, ponpes Al Muttaqien Pancasila Sakti seolah menjadi oase harapan bagi masa depan Indonesia yang toleran dan inklusif.

“Bagi orang lain, ini mungkin luar biasa. Tetapi bagi kami, ini biasa saja, karena kita ‘kan hidup di Indonesia,” kata Gus Jalal.

Leave a Reply
Aquila Klasik