Modest Style

Cinta dan Kenikmatan bagi Muslimah

,

Ketika berbicara soal seks, kebanyakan orang dapat memberitahu Anda tentang hak-hak suami atas istrinya. Tetapi, bagaimana dengan sebaliknya? tanya Theresa Corbin.

Foto: SXC
Foto: SXC

Baru-baru ini, saya sedang berjalan di sebuah toko buku Islam dan saya melewati sederet buku dengan judul berurutan mengenai cara wanita untuk menjadi istri yang baik dan semua hak suami atas dirinya.

Karena penasaran, saya mulai mencari buku tentang hak wanita atas suaminya. Saya tahu buku itu harus ada di suatu tempat. Namun buku itu tidak ada pada bagian perempuan sebagai istri yang berbakti, juga bukan di bagian panduan berbagai cara tentang menikah… buku itu tidak ada di mana-mana.

Untuk menyeimbangkan semua buku tentang menjadi istri yang baik, hanya ada satu buku berjudul “Memenangkan Hati Istri Anda”, di mana setengah dari 64 halaman yang diterbitkan berisi catatan dari penerbit. Meskipun buku itu menawarkan beberapa nasihat yang baik, buku itu juga meninggalkan banyak kesenjangan.

Saya meninggalkan toko dengan perasaan sedih. Saya pernah mendengar perempuan mengeluh tentang ketimpangan literatur tentang hak-hak istri, namun melihatnya dengan mata sendiri membuat saya kecewa. Bagaimana bisa ada begitu banyak bahan hanya pada setengah dari persamaan untuk pernikahan yang bahagia? Apakah orang-orang terpelajar itu sudah melihat kembali ayat di dalam Al Quran dimana Allah berfirman, “Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut” (2:228)?

Bahkan saat ada buku-buku yang membahas  hak-hak perempuan dan istri, dan bagaimana memperlakukan mereka dengan baik, topik hak-hak seksual perempuan Muslim jarang didekati. Kekurangan endemik ini telah menciptakan respon dari wanita Muslim dalam bentuk tulisan di blog seperti ‘Sex Mashaallah’ [i] dan buku seperti Love, InshAllah. [ii]

“…Istrimu memiliki hak atasmu.”

Allah berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang” (30:21). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah hanya menciptakan pasangan bagi pria, tetapi pria dan wanita telah diciptakan sebagai pasangan untuk satu sama lain. Dan jika kita menjadi pasangan satu sama lain, masuk akal bahwa kita sama-sama memiliki hak dalam “perjodohan” ini.

Soal hak-hak seseorang di kamar tidur, apa yang paling sering dikutip menjelaskan hak-hak suami atas istrinya. Misalnya, hadits di mana Nabi (SAW) dilaporkan mengatakan: “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya (untuk berjima’), lalu ia menolak sehingga suaminya di malam itu murka kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi.”[iii]

Meskipun penting bagi istri untuk memenuhi kebutuhan seksual suaminya karena ini adalah satu-satunya cara halal baginya agar mendapat kepuasan, hal sebaliknya juga berlaku untuk wanita. Allah telah menciptakan wanita dengan kebutuhan seksual dan keinginan yang hanya dapat dipenuhi oleh suaminya, oleh karena itu penting bahwa suami tidak meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak puas atau merasa tidak diinginkan. Dalam konteks poligami, Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (4:129).

Hak seorang istri atas suaminya sering diabaikan, juga bahwa suami seharusnya tidak menghalangi kebutuhan seksual istrinya dengan berpuasa dan berdoa sepanjang hari dan malam, misalnya. Rasulullah (saw) dilaporkan berkata, “Sampai berita kepadaku bahwa engkau berpuasa tanpa berbuka (tanpa henti) dan mengerjakan shalat semalam suntuk. Janganlah lakukan seperti itu. Sesungguhnya matamu punya hak, dirimu punya hak dan keluargamu juga punya hak. Berpuasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah.”[iv] Seorang istri harus puas secara seksual sama seperti suaminya membutuhkan kepuasan sendiri. Karena itu, hadits oleh Imam Malik menceritakan bahwa seorang pria seharusnya tidak mengganggu hubungan seksual dengan istrinya sampai ia terpenuhi, kecuali dia telah memberikan izin. [v]

Kita tahu lebih jauh dari Al-Qur’an, “Dan laki-laki tidak seperti perempuan” (3:36). Dalam banyak hal kita melihat ini dalam hubungan kita dengan satu sama lain, termasuk seksualitas kita. Jerry Seinfeld pernah berkata “[Ini] Bagi saya konflik mendasar antara pria dan wanita, secara seksual, adalah bahwa pria seperti pemadam kebakaran. Untuk pria, seks adalah keadaan darurat, dan tidak peduli apa yang kita lakukan kita bisa siap dalam dua menit. Wanita, di sisi lain, adalah seperti api. Mereka sangat menarik, tapi kondisi harus tepat agar itu terjadi.” Seperti banyak perempuan yang sudah menikah, saya percaya bahwa ini sangat benar.

Tak seorang pun mencari kegiatan yang menyebabkan rasa sakit, dan bagi wanita, hubungan seksual tanpa gairah itu menyakitkan. Jika seorang suami tidak menjamin bahwa istrinya terangsang, seks bisa menjadi tugas yang menjemukan untuknya. Allah memerintahkan manusia untuk memperlakukan wanita dengan kebaikan (4:19). Foreplay, bahkan jika tidak wajib seperti beberapa klaim hadits, setidaknya juga merupakan bentuk kebaikan.

Ini bukan hanya tentang pria menegaskan klaim mereka atas istri-istri mereka; melainkan untuk masing-masing pasangan agar memperlakukan satu sama lain dengan kebaikan dan kasih sayang, dan memahami kebutuhan masing-masing. Sambil belajar mengenai apa yang menjadi hak mereka, saya yakin pria juga harus belajar lebih banyak tentang kewajiban mereka kepada istri-istrinya.

[i] Bervariasi, ‘Sex Mashallah: Muslim Vignettes on Female Sexuality’, Muslim Matters, 3 Mei 2013, ada di sini
[ii] lihat blog terkait di sini
[iii] Dituturkan oleh Abu Huraira, dalam Abu Daud, ada di sini
[iv] Dituturkan oleh Abdullah bin `Amr bin Al-`As, dalam Bukhari, ada di sini
[v] Dituturkan oleh Yahya, dalam Muwatta Malik, ada di sini

Leave a Reply
<Modest Style