Modest Style

Cinta dan Keintiman dalam Islam

,

Ajaran Islam dapat membantu meningkatkan kehidupan Anda, bahkan dalam sisi romansa. Oleh Elsa Febiola Aryanti.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Ketika cinta dan keintiman melampaui hubungan fisik, bukankah hidup menjadi indah? Yang juga indah adalah konsep bahwa cinta dan keintiman yang kita miliki di dunia ini akan terjalin abadi. Itulah inti gagasan tentang cinta dan keintiman dalam Islam: untuk memberi kita kebahagiaan di dunia ini, untuk terhubung berdasarkan iman serta untuk membawa cinta dan keintiman yang kita ciptakan sampai ke akhirat – hingga ke keabadian.

Dalam Islam, keintiman adalah lebih dari sekadar hubungan fisik antara pria dan wanita. Keintiman adalah gabungan dari iman, tubuh, jiwa, pikiran, dan visi akhirat. Ungkapan “bahagia selamanya” tidak dimaksudkan seperti di buku-buku dongeng. Bersatu di dunia ini dan di akhirat adalah tujuan akhir dari pasangan yang saling mencintai karena Allah. Mencari pasangan yang bersamanya kita ingin menghabiskan hidup adalah salah satu tanda kasih karunia Allah. Al-Quran menjabarkannya dengan indah dalam ayat:

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (30:21)

Allah menciptakan pria dan wanita untuk hidup dalam damai bersama, serta berbagi perasaan kita berdasarkan kasih sayang dan belas kasihan antara sesama. Siapa pun yang pernah jatuh cinta akan setuju dengan ayat ini. Kita menginginkan keharmonisan dan ketenangan dengan pasangan kita. Kita ingin mencintai dan dicintai dengan berbagai cara, di saat baik dan buruk.

Jalan menuju keintiman paripurna

Bagaimanakah keintiman dirasakan antara dua orang yang telah menemukan satu sama lain, jatuh cinta, dan berkomitmen dalam pernikahan yang suci? Al-Quran menyebutkannya dengan jelas dan penuh makna: “… Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” (2:187). Apakah gagasan cinta dan keintiman dalam Islam di luar jangkauan atau sulit diterapkan di dunia nyata? Kenyataannya justru sebaliknya. Konsep cinta dan keintiman dalam Islam sangat masuk di akal. Ketika kita berfokus pada Allah, konsep ini akan hadir dan tumbuh dalam perspektif yang benar. Ya, kekuatan iman kita akan berdampak bahkan pada masalah romansa.

Pasangan yang intim dan penuh cinta bukanlah pasangan yang tidak pernah bertengkar atau berselisih pendapat, tapi pasangan yang dapat mengelola dan memecahkan perselisihan bersama-sama, menuju cinta yang lebih kuat dan meningkatkan keintiman.

Cinta dan keintiman bukanlah melulu tentang hubungan antara dua orang. Keduanya juga tentang menyenangkan Allah. Mereka adalah visi membagi cinta di dunia ini dengan mengingat Allah untuk menuai ganjaran di akhirat. Dengan perspektif yang luas seperti itu, kita tidak perlu lagi memusingkan hal-hal kecil, untuk ribut-ribut soal masalah kecil – karena kedua belah pihak memahami bahwa cinta duniawi memiliki pasang surut. Kita menyadari bahwa keintiman membutuhkan pengingat yang ajek. Kita memahami bahwa cinta dan keintiman yang kita bagi di dunia ini berfungsi sebagai batu loncatan untuk cinta dan keintiman yang akan kita bagi di akhirat. Kita menjadi realistis dan, pada saat yang sama, berbagi visi yang lebih besar untuk masa depan bersama. Kita melakukan itu semua dalam semangat menyenangkan Allah bersama-sama, dan mencari ridha-Nya. Tujuan kita adalah cinta sejati. Tujuan kita adalah keintiman yang paripurna. Apa yang kita butuhkan untuk menjaga cinta dan keintiman yang kita bagi tetap di jalan Islam? Berikut adalah beberapa saran:

  • Iman kepada Allah Pasangan dengan iman yang kuat akan mengutamakan Allah, dan mereka memiliki acuan yang sama ketika memecahkan masalah, kesulitan, atau perbedaan pendapat. Pasangan yang intim dan penuh cinta bukanlah pasangan yang tidak pernah berselisih pendapat atau bertengkar, melainkan pasangan yang dapat mengelola dan memecahkan perselisihan bersama-sama, menuju cinta yang lebih kuat dan meningkatkan keintiman
  • Memaafkan Menyimpan dendam perlahan akan memperburuk hubungan. Kita ingin Allah mengampuni kita, dan memaafkan orang yang kita cintai adalah salah satu kunci mendapat rahmat Allah
  • Pasangan yang intim dan penuh kasih juga berbagi persahabatan. Mereka senang saling berdekatan, saling menghormati satu sama lain – bahkan di saat-saat ketika kepentingan mereka tidak berbalas. Mereka saling mendukung untuk meningkatkan kualitas iman dan kehidupan. Mereka juga benar-benar senang atas keberhasilan masing-masing dan saling berbagi empati yang mendalam
  • Jangan menyakiti orang yang Anda cintai. Semua dosa bisa diampuni, tetapi jika kita menyakiti perasaan orang lain, pertama-tama kita harus meminta pengampunan dari orang tersebut sebelum kita mengharapkan Allah untuk mengampuni kita. Logis sekali bahwa kita mungkin paling sering menyakiti perasaan pasangan kita, karena ia yang paling dekat dengan kita. Hargailah keberadaannya
  • Pujilah pasangan Anda. Apresiasi mengarah ke cinta dan keintiman yang lebih dalam. Jadi, berikan pujian kepada pasangan Anda dan bersyukurlah kepada Allah
  • Terbuka satu sama lain. Komunikasi yang tulus akan membuka hati dan mencerahkan pikiran
  • Ikhlaslah, atau bersikap tanpa syarat, dalam hal berbagi cinta dan keintiman dengan pasangan Anda. Ya, ada kalanya kita berharap lebih dari pasangan kita. Mungkin ada hal-hal tentang dirinya yang tidak kita sukai atau tidak benar-benar kita setujui. Menjadi ikhlas sangat penting, karena mengharuskan Anda untuk mencintai tanpa syarat dan tulus
  • Menerima keterbatasan dan ketidaksempurnaan pasangan Anda. Bagaimanapun, hanya Allah yang sempurna. Setiap orang memiliki keterbatasan sendiri. Saling memahami dan terus mendorong satu sama lain untuk menjadi lebih baik. Saling mendukung dengan sabar tidak hanya untuk meningkatkan cinta dan keintiman, tetapi juga karena, seperti Allah janjikan, Dia akan menempatkan kasih sayang dan kemurahan di dalam hati dua orang yang saling mencintai karena-Nya

Seperti pakaian yang menutupi dan melindungi tubuh kita, pasangan juga membela kehormatan satu sama lain. Mereka melindungi dan meningkatkan keindahan masing-masing sementara melindungi yang harus disembunyikan dari mata yang tak berhak, menurut aturan Allah. Ini adalah bagaimana seorang suami memberikan kenyamanan kepada istri dan sebaliknya – bergandengan tangan untuk meningkatkan iman mereka kepada Allah.

Artikel ini aslinya muncul dalam edisi Februari 2012 majalah Aquila Style

Leave a Reply
<Modest Style