Modest Style

Cerita Ramadhan: Upaya Puasaku Waktu Kecil

,

Mengenang perjuangannya di masa kecil demi membuktikan dirinya bukan anak-anak lagi, Shea Rasol menceritakan pengalamannya berpuasa di hari pertama bulan Ramadhan.

Kombinasi yang sempurna: anak-anak dan Ramadhan
Kombinasi yang sempurna: anak-anak dan Ramadhan

Saat itu hari pertama saya resmi berpuasa di bulan Ramadhan. Saya ingat cukup terlambat memulainya, yaitu di usia sembilan tahun. Sebagian besar anak-anak yang saya kenal sudah mulai mempraktikkan puasa setengah hari ketika mereka berumur tujuh tahun. Saya tidak demikian.

Setelah tinggal di AS selama dua tahun, keluarga saya kembali ke Malaysia untuk selamanya. Saat itulah kenyataan mulai berlaku (setidaknya, bagi seorang anak sembilan tahun). Waktu itu pertama kalinya saya bersekolah di SD dekat rumah. Dan di sore hari saya mengikuti pelajaran Agama Islam—aturan bagi semua keluarga yang saya kenal.

Di hari pertama Ramadhan tahun itu, saya bertekad untuk berpuasa selama dan sebanyak yang saya mampu. Adik perempuan saya, Iqa, berusia tujuh tahun dan karena alasan tertentu, dia tidak berpuasa. Tapi hal itu sama sekali tidak mengusik saya karena saya merasa perlu melakukan hal ini sekali dan selamanya.

Siang itu, sepulang sekolah, Iqa dan saya mandi serta berganti pakaian menjadi seragam untuk kelas agama. Ketika selesai berpakaian, saya melihat Iqa menuju dapur dan meminta ibu untuk menyiapkan kotak bekal makan siangnya. Di siang hari yang panas terik lagi lembap itu, saya mulai menyadari betapa menyiksanya berpuasa.

Perut yang lapar.

Lidah dan bibir yang kering.

Perasaan lesu akibat tidak bertenaga.

Kami mengikuti kelas seperti biasa dan dengan sukses berhasil menyelesaikan separuh sesi pertama pada pukul 3 sore. Yang saya maksud dengan ‘sukses’ adalah saya masih berpuasa — meskipun sewaktu jam istirahat saya melihat Iqa mengeluarkan minuman sirup mawar yang paling segar, dingin, merah dan kemungkinan paling memuaskan dahaga seumur hidup, yang disiapkan ibu untuknya.

Glek.

Tetesan air yang mengembun di botol kelihatannya besar sekali. Ya ampun, dan ketika Iqa meminumnya dengan penuh kenikmatan, saya tiba-tiba menyadari diri saya melarangnya menghabiskan isi botol tersebut. Dia bertanya kenapa, karena dia tahu hari itu saya berpuasa.

‘Aku mau sedikit,’ saya berkata.

‘Sungguh? Kamu akan bilang apa ke Mama?’ jawab Iqa.

‘Bagaimana ya? Aku mau puasa. Tapi sirup mawar dinginmu membuatku sangat haus. Dan sekarang cuacanya panas sekali,’ saya mendesis.

‘Oke.’

Saya berpikir-pikir selama sekitar sepuluh menit. Saya sangat ingin berpuasa, tapi saya takut mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak bisa menuntaskan puasa hari pertama.

Begitu kami tiba di rumah, Iqa bergegas masuk dan berlari ke arah ibu sambil berteriak, ‘Mama! Kakak sudah tidak puasa lagi!’

Rasa takut menguasai saya.

Yang membuat saya kaget, ibu ternyata hanya tersenyum, dan menyelamati saya karena berhasil berpuasa delapan jam di hari pertama saya berpuasa di bulan Ramadhan.

[Not a valid template]
Leave a Reply
<Modest Style