Modest Style

Caraku Mengatasi Tekanan Kehidupan

,

Perasaan gelisah memikirkan masa depan tidak bisa dihindari, terutama saat Anda masih merencanakannya. Layla Maghfur menceritakan pengalamannya.

Foto: Pixabay
Foto: Pixabay

Di antara mengerjakan pekerjaan rumah, memasang harapan terlalu tinggi, mengatasi berbagai pikiran negatif tentang tubuh dan membereskan masalah dengan keluarga dan teman-teman, stres memang tidak bisa dihindari. Terutama saat Anda masih belia dan berusaha menjalani kehidupan sebaik mungkin. Sialnya, menjadi remaja nan lugu tidak membebaskan kita dari perasaan bahwa suatu hari nanti, seluruh dunia akan berbalik memusuhi kita.

Saya sering mengalami hari-hari di mana saya merasa seolah-olah sedang menanggung beban dunia di pundak saya, saat saya berusaha mencari keseimbangan yang sehat antara tanggung jawab kepada keluarga, teman-teman, sekolah dan diri saya sendiri. Tugas-tugas rumah yang memusingkan sepertinya hampir tidak pernah berakhir. Tekanan dari teman-teman dan orangtua pun terasa mencekik. Stres dan kegelisahan telah menjadi teman setia saya selama bertahun-tahun.

Seiring berjalannya waktu dan urusan mendaftar ke universitas serta ujian akhir tidak lagi bisa dihindari, satu pertanyaan kerap mengusik benak saya—yang keluar dari remaja peragu menjelang tahun terakhirnya di SMU: “Apa yang saya lakukan dengan hidup saya?” Kecemasan mulai muncul saat saya sadar telah menghabiskan waktu yang tidak produktif dengan bermain video game, membaca buku atau menonton televisi ketika, sebenarnya, saya bisa memperbaiki tugas kursus bahasa Inggris saya. Pertanyaan ini menghantui keraguan, ketakutan dan kecemasan saya tentang apa yang ditawarkan masa depan untuk saya.

Sering kali saya bertanya-tanya bagaimana orang dewasa mampu mengatasi situasi yang menimbulkan stres setiap hari. Sebab, sebagian remaja menjadi begitu kewalahan dengan stres yang kerap berujung pada kecemasan, problema kesehatan atau masalah fisik yang parah. Pendeknya, bagaimana sih cara orang keluar dari situasi yang menekan?

Biarpun banyak ditemukan saran tentang cara menangani stres, menurut saya cara terbaik untuk dilakukan adalah bersikap tenang, diam, santai, dan mengatur napas. Beristirahatlah. Dengarkan musik. Habiskan waktu yang berkualitas dengan kakak, adik atau hewan peliharaan. Berjalanlah di sekitar lingkungan rumah dan biarkan pikiran Anda mengembara. Atau, temukan sesuatu yang bisa membuat Anda tertawa. Saat saya kesulitan memperbaiki nilai ujian, saya suka berhenti mengerjakan apa pun untuk bermain dengan kucing saya atau menonton film kartun. Saya menyukai perasaan menjadi anak kecil lagi dan merasa hal itu membantu saya menenangkan pikiran.

Usahakan dan gunakan waktu untuk membaca “Subhanallah al-‘azim”, bahasa Arab untuk ‘Maha Suci Allah yang Maha Agung”. Dia mendengar dan sudah mengetahui apa yang ada di hati Anda, tetapi Dia ingin Anda meminta kepada-Nya atas apa yang Anda inginkan. Ketika berhadapan dengan cobaan yang lebih besar, bacalah “Ya hayyu, ya qayyumu, bi rahmatika astaghitsu”, yang artinya “Wahai Tuhan Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu, aku mohon pertolongan.”

Kapan saja Anda merasa kewalahan, tak berdaya atau pun frustrasi, jangan takut mencari pertolongan dari Tuhan, juga dari para sahabat dan keluarga. Alihkan setiap kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran menjadi doa supaya Anda memperoleh kekuatan dan keberanian untuk mengatasi akar persoalan.

Leave a Reply
<Modest Style